KHAN YOUNIS (Arrahmah.id) -- Sebanyak 60 warga Palestina yang ditahan 'Israel' akhirnya kembali ke Jalur Gaza pada Senin (28/7/2026), dalam pembebasan terbesar sejak gencatan senjata Oktober lalu. Setibanya di Rumah Sakit Nasser, Khan Younis, banyak dari mereka terlihat mengalami luka fisik, kelelahan berat, dan trauma psikologis setelah berbulan-bulan mendekam di penjara 'Israel'.
Dilansir Al Jazeera (29/7), mereka mengaku mengalami penyiksaan, isolasi berkepanjangan, serta perlakuan yang merendahkan selama masa penahanan.
Pembebasan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya sorotan internasional terhadap kondisi tahanan Palestina yang ditahan sejak dimulainya perang Gaza.
Para mantan tahanan yang dibebaskan berasal dari berbagai wilayah di Gaza dan sebagian besar ditangkap selama operasi militer 'Israel' yang berlangsung sejak akhir 2023. Mereka tiba di Khan Younis melalui perlintasan yang diawasi otoritas Israel sebelum dibawa ke rumah sakit untuk menjalani pemeriksaan medis.
Salah seorang mantan tahanan, Ahmed Abu Sultan, mengaku mengalami perlakuan keras selama berada dalam tahanan.
"Kami mengalami penyiksaan, pemukulan, penghinaan, dan kelaparan. Kami tidak tahu siang atau malam karena sering ditempatkan dalam isolasi," ujarnya kepada wartawan setelah tiba di Gaza.
Ia mengatakan banyak tahanan kehilangan berat badan secara drastis dan mengalami gangguan kesehatan akibat kondisi penahanan yang berat.
Kesaksian serupa disampaikan oleh sejumlah tahanan lainnya yang mengaku jarang mendapat akses layanan kesehatan dan kontak dengan keluarga. Beberapa di antara mereka memperlihatkan memar, luka di tubuh, serta tanda-tanda kelelahan ekstrem.
Tenaga medis di Rumah Sakit Nasser menyebut sejumlah mantan tahanan membutuhkan perawatan segera akibat malnutrisi dan dampak psikologis yang serius.
Direktur Rumah Sakit Nasser, Dr. Atef Al-Hout, mengatakan kondisi para mantan tahanan menunjukkan adanya penderitaan yang berkepanjangan selama masa penahanan.
"Banyak dari mereka tiba dalam keadaan sangat lelah, mengalami cedera fisik, dan menunjukkan gejala trauma psikologis yang mendalam," katanya.
Tim medis kini melakukan pemeriksaan menyeluruh untuk menentukan kebutuhan perawatan lanjutan bagi para korban.
Kelompok-kelompok hak asasi manusia Palestina menyebut pembebasan ini memperkuat laporan yang selama berbulan-bulan menyoroti dugaan penyiksaan terhadap tahanan Gaza di berbagai fasilitas penahanan Israel.
Organisasi tersebut mendesak penyelidikan internasional independen atas perlakuan terhadap para tahanan serta meminta akses lebih luas bagi lembaga pemantau hak asasi manusia.
Di sisi lain, otoritas 'Israel' sebelumnya menyatakan bahwa para tahanan diperlakukan sesuai hukum dan bahwa setiap dugaan pelanggaran akan diperiksa melalui mekanisme yang berlaku. Namun berbagai laporan dari organisasi internasional, termasuk lembaga hak asasi manusia PBB dan kelompok pemantau independen, telah berulang kali menyerukan transparansi lebih besar terkait kondisi tahanan Palestina sejak perang Gaza dimulai.
Pembebasan 60 tahanan ini menjadi pengingat bahwa selain korban di medan perang, konflik Gaza juga meninggalkan dampak mendalam bagi ribuan warga yang mengalami penahanan selama perang.
Bagi banyak keluarga di Gaza, kepulangan para tahanan membawa kelegaan, tetapi juga membuka kembali cerita tentang penderitaan yang mereka alami selama berbulan-bulan di balik jeruji penjara. (hanoum/arrahmah.id)
