CIPUTAT (Arrahmah.id) – Penelitian Sirah Community Indonesia mengungkap adanya sejumlah kesalahan penerjemahan dalam kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum edisi bahasa Indonesia yang beredar luas di masyarakat. Kesalahan tersebut dinilai tidak hanya berkaitan dengan persoalan bahasa, tetapi berpotensi memengaruhi cara umat Islam memahami perjalanan hidup Rasulullah ﷺ dan sejarah perjuangan para sahabat.
Temuan tersebut dipaparkan dalam Simposium Sejarah Islam bertema "Rewriting Islamic History, Sources, Networks and Social Changes" yang digelar Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (28/7/2026).
Pendiri Sirah Community Indonesia, Ustadz Asep Sobari, Lc., bersama peneliti Husna Robbi Radhiyya mempresentasikan kajian berjudul "Missunderstanding Sirah Nabawiyah: Kesalahan Penerjemahan dalam Buku Sirah Ar-Rahiq al-Makhtum pada Beberapa Edisi Cetakan Indonesia, Suatu Analisis Kritis terhadap Kualitas Alih Wahana Teks Historiografi Islam."

Penelitian tersebut membandingkan lima edisi terjemahan Ar-Rahiq Al-Makhtum dari sejumlah penerbit besar di Indonesia, yaitu Pustaka Al-Kautsar, Ummul Quro, Darul Haq, Gema Insani, dan Qisthi Press.
Menurut Asep Sobari, kesalahan dalam menerjemahkan literatur Sirah Nabawiyah bukan sekadar masalah teknis bahasa, melainkan dapat menghilangkan konteks sejarah dan mengubah gambaran pembaca terhadap peristiwa penting dalam kehidupan Rasulullah ﷺ.
Salah satu contoh yang ditemukan adalah penerjemahan istilah Syi'b Abi Thalib, yang secara makna merujuk kepada lembah atau celah bukit tempat Rasulullah ﷺ dan para sahabat mengalami pemboikotan, tetapi diterjemahkan menjadi "perkampungan" dalam sejumlah edisi.
"Jika penderitaan fisik para sahabat saat diboikot digambarkan terjadi di sebuah perkampungan yang terkesan nyaman, maka empati sejarah dan pemahaman pembaca terhadap beratnya perjuangan Rasulullah akan luntur," ujar Asep.
Kesalahan Terjemahan yang Sama di Sejumlah Penerbit
Tim peneliti juga menemukan sejumlah kesalahan leksikal-semantis yang dinilai cukup serius. Di antaranya istilah sala jazurin, yang bermakna "jeroan unta", namun diterjemahkan menjadi "kotoran unta".
Selain itu, terdapat kesalahan penulisan identitas kabilah Bani Salimah yang secara konsisten berubah menjadi Bani Salamah dalam sejumlah kitab terjemahan yang diteliti.
Temuan lain yang menjadi sorotan adalah penerjemahan kalimat Arab بَطَلَ السِّحْرُ الْيَوْمَ yang berkaitan dengan peristiwa Perang Hunain.
Menurut penelitian Sirah Community, kalimat tersebut seharusnya bermakna "Telah batal sihir Muhammad hari ini", namun diterjemahkan menjadi "pahlawan waktu sahur adalah hari ini" pada beberapa edisi.
Kesalahan yang sama persis ditemukan pada tiga penerbit, yakni Pustaka Al-Kautsar, Ummul Quro, dan Qisthi Press.
Fenomena tersebut menunjukkan adanya kemungkinan reproduksi kesalahan antar-penerbit tanpa melalui proses kritik sumber terhadap teks asli berbahasa Arab.
"Sebagai pengkaji dan pecinta Sirah Nabawiyah, kita berharap kesalahan penerjemahan dalam buku-buku penting seperti Ar-Rahiq Al-Makhtum terjadi seminimal mungkin. Namun ketika kesalahan yang sama muncul berulang pada sejumlah penerbit berbeda, hal ini perlu menjadi perhatian," kata Asep.

Mayoritas Masih Menggunakan Naskah Lama 1979
Selain menemukan persoalan penerjemahan, penelitian Sirah Community juga mengungkap bahwa mayoritas kitab terjemahan Ar-Rahiq Al-Makhtum yang beredar di Indonesia masih menggunakan naskah versi tahun 1979.
Versi tersebut merupakan naskah awal setelah karya Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfuri memenangkan lomba penulisan Sirah Nabawiyah pada Muktamar Islam Pertama tentang Sirah Nabawiyah yang diselenggarakan Rabithah 'Alam Islami di Pakistan pada 1396 H/1976 M.
Kitab tersebut kemudian diterbitkan oleh Darussalam, Riyadh, Arab Saudi pada tahun 1979.
Padahal, kitab tersebut telah mengalami beberapa kali penyempurnaan. Salah satu revisi penting adalah edisi tahun 1994 yang dianggap sebagai versi yang lebih mutakhir. Bahkan penulisnya masih memberikan tambahan catatan pada cetakan Darul Wafa tahun 2010.
Dari sampel penelitian, penerbit Ummul Quro, Gema Insani, Pustaka Al-Kautsar, dan Darul Haq masih menggunakan basis edisi 1979. Sementara Qisthi Press menjadi satu-satunya penerbit yang ditemukan telah mengadopsi versi 1994.
Dorongan Perbaikan Kualitas Literatur Islam
Meski menemukan berbagai persoalan, Sirah Community Indonesia tetap memberikan apresiasi kepada para penerbit Islam yang telah berperan besar menyebarkan literatur tentang kehidupan Rasulullah ﷺ.
Namun, hasil penelitian tersebut diharapkan menjadi masukan bagi penerjemah dan penerbit agar meningkatkan kompetensi filologi, kritik teks, dan ketelitian dalam menerjemahkan karya-karya sejarah Islam.
"Kitab Sirah bukan sekadar bacaan populer, tetapi sumber sejarah yang membentuk pemahaman umat terhadap perjalanan Rasulullah ﷺ. Karena itu, akurasi ilmiah harus menjadi perhatian utama," tegas Asep Sobari.
Simposium tersebut menegaskan pentingnya menghadirkan historiografi Islam yang lebih akurat, ilmiah, dan bertanggung jawab agar pesan asli dari karya-karya ulama terdahulu tetap terjaga.
(Samirmusa/arrahmah.id)
