JENIN (Arrahmah.id) - Hammam Khazem, putra Fathi Khazem atau Abu Raad, mengatakan pembunuhan ayahnya dalam serbuan pasukan 'Israel' di Jenin telah direncanakan sebelumnya. Ia juga menuduh pasukan 'Israel' menggunakan seorang warga sebagai tameng manusia saat memasuki rumah keluarganya.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, Hammam mengatakan pasukan 'Israel' mendobrak pintu rumah dan meminta ayahnya menunjukkan identitas. Fathi kemudian diperintahkan membungkuk dan menanggalkan seluruh pakaiannya, tetapi menolak.
Menurut Hammam, terjadi adu mulut sebelum tentara 'Israel' menembak Fathi di dalam rumah. Ia mengatakan ayahnya terkena tujuh peluru di beberapa bagian tubuh dan tewas di depan putranya yang berusia 14 tahun, Adam.
Setelah penembakan, pasukan 'Israel' membawa Adam dan seorang tetangga yang disebut digunakan sebagai tameng manusia ke kamar mandi dan memaksa keduanya menanggalkan pakaian.
Hammam mengatakan Adam mengalami trauma setelah menyaksikan pembunuhan ayahnya serta perlakuan yang diterimanya dari tentara 'Israel'. Ia juga menyebut pasukan 'Israel' membawa jenazah Fathi dan hingga kini keluarga belum mengetahui keberadaannya.
Sebelumnya, sumber Al Jazeera melaporkan Fathi Khazem (56), tewas ditembak pasukan 'Israel' yang menyerbu rumahnya di Jenin, Tepi Barat, pada Jumat dini hari (21/8/2026). Militer 'Israel', sebaliknya, mengklaim telah menembak seorang warga Palestina bersenjata pisau yang disebut berupaya menyerang salah satu tentaranya.
Nama Abu Raad dikenal luas setelah putranya, Raad Khazem, tewas dalam bentrokan dengan pasukan 'Israel' pada April 2022. Raad sebelumnya dituduh melakukan serangan di Jalan Dizengoff, Tel Aviv, yang menewaskan tiga warga 'Israel' dan melukai sedikitnya 16 lainnya.
Fathi Khazem, yang merupakan pensiunan perwira berpangkat kolonel dari Pasukan Keamanan Nasional Palestina, juga kehilangan putranya yang lain, Abdul Rahman, dalam bentrokan dengan pasukan 'Israel' di kamp pengungsi Jenin pada September 2022. (zarahamala/arrahmah.id)
