TEHERAN (Arrahmah.id) - Data Pentagon menunjukkan bahwa lebih dari 750 personel militer AS terluka dalam operasi militer AS melawan Iran sejak perang dimulai pada Februari, sebuah fakta yang menggarisbawahi meningkatnya dampak kemanusiaan dan biaya finansial akibat konflik tersebut.
Dari 757 personel yang dilaporkan terluka, lebih dari 580 di antaranya adalah prajurit Angkatan Darat. Menurut Sistem Analisis Korban Pertahanan (Defense Casualty Analysis System) milik Pentagon, jumlah total tersebut juga mencakup 86 personel Angkatan Laut, 64 personel Angkatan Udara, dan 19 personel Marinir.
Basis data tersebut juga mencatat 18 personel militer AS yang tewas selama konflik, yang bermula pada 28 Februari dengan serangan AS dan Israel terhadap Iran, lansir AP (21/8/2026).
Meskipun banyak korban luka dikategorikan sebagai korban "Operation Epic Fury"—nama resmi konflik tersebut—Pentagon membuat kategori baru bernama "Overseas Operations" (Operasi Luar Negeri) dalam basis data korbannya pada akhir Juli.
Pentagon menyatakan bahwa perubahan tersebut dilakukan setelah Operation Epic Fury berakhir, di mana korban yang terkait dengan tindakan militer AS selanjutnya diklasifikasikan ke dalam kategori baru tersebut.
Pentagon dan Komando Pusat AS (US Central Command) hanya memberikan sedikit rincian mengenai bagaimana para personel tersebut terluka atau seberapa besar kerusakan yang dialami pangkalan-pangkalan AS akibat serangan Iran.
Namun, para pejabat mengatakan bahwa sebagian besar kasus cedera adalah cedera otak traumatis, yang sering kali disebabkan oleh gelombang kejut akibat serangan rudal dan pesawat nirawak (drone).
Angka-angka korban ini muncul di tengah terus meningkatnya biaya finansial kampanye militer tersebut. Menteri Pertahanan Pete Hegseth bulan lalu mengungkapkan kepada para anggota parlemen bahwa biaya langsung perang Iran telah mencapai sekitar 37,5 miliar dolar AS; ini merupakan kali pertama Pentagon secara terbuka menyebutkan angka biaya konflik tersebut.
Pemerintah juga telah mengajukan permintaan dana tambahan senilai puluhan miliar dolar untuk operasi militer yang sedang berlangsung di Timur Tengah.
Permintaan dana darurat sebesar sekitar $87,6 miliar mencakup kurang lebih $67 miliar untuk Pentagon, dengan usulan belanja yang meliputi amunisi, biaya operasional, dan program-program rahasia, menurut rincian yang disampaikan kepada para anggota parlemen.
Konflik yang kini memasuki bulan keenam tersebut terus berlanjut tanpa adanya gencatan senjata atau kesepakatan yang lebih luas untuk mengakhiri permusuhan, sementara pasukan AS tetap terlibat dalam operasi militer dan upaya untuk terus menekan Iran.
Pentagon hanya memberikan sedikit informasi kepada publik mengenai skala kerusakan fasilitas AS maupun situasi seputar jatuhnya korban jiwa atau luka secara individual; akibatnya, basis data korban menjadi salah satu dari sedikit sumber resmi yang memberikan gambaran umum mengenai dampak konflik tersebut terhadap pasukan Amerika. (haninmazaya/arrahmah.id)
