SANAA (Arrahmah.id) -- Milisi Syiah Houtsi di Yaman mengklaim melancarkan dua serangan pesawat nirawak yang menyasar Bandara Najran dan fasilitas perusahaan minyak Aramco di Najran, Arab Saudi, pada Kamis (20/8/2026). Klaim tersebut disampaikan ketika konflik antara Houtsi dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi kembali meningkat, sekaligus memperluas ketegangan ke wilayah Saudi.
Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, mengatakan, seperti dilansir Middle East Monitor (21/8), dua operasi tersebut dilakukan menggunakan pesawat nirawak. Menurutnya, serangan pertama diarahkan ke apa yang disebutnya sebagai “target sensitif” di Bandara Najran, sedangkan serangan kedua menyasar fasilitas Aramco di kota yang sama, di wilayah barat daya Saudi yang berbatasan dengan Yaman.
“Kami berhasil melaksanakan dua operasi militer menggunakan pesawat nirawak: yang pertama menargetkan sasaran sensitif di Bandara Najran, sedangkan yang kedua menargetkan fasilitas Aramco di Najran,” kata Yahya Saree, menurut pernyataan yang disiarkan kelompok tersebut.
Houtsi menyatakan kedua serangan tersebut berhasil mencapai sasaran. Milisi yang didukung Iran itu juga mengatakan operasi tersebut merupakan respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai pelanggaran wilayah udara Provinsi Saada, Yaman, oleh pesawat nirawak Saudi. Namun, belum ada konfirmasi independen mengenai tingkat kerusakan atau korban akibat serangan tersebut, dan laporan Reuters menyebut otoritas Saudi belum memberikan konfirmasi atau tanggapan atas klaim Houtsi tersebut.
Serangan itu terjadi di tengah memburuknya situasi keamanan di Yaman. Al Jazeera melaporkan pasukan pemerintah Yaman mengklaim telah melakukan 81 serangan terhadap posisi Houtsi dalam periode 24 jam, sementara Houtsi pada saat yang sama mengumumkan serangan terhadap dua sasaran di wilayah Saudi. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa konflik yang sebelumnya relatif mereda kembali bergerak menuju eskalasi terbuka.
Najran menjadi salah satu wilayah yang sensitif karena lokasinya berdekatan dengan perbatasan Yaman. Serangan terhadap fasilitas Aramco juga berpotensi meningkatkan kekhawatiran mengenai keamanan infrastruktur energi Saudi. Dalam beberapa pekan terakhir, serangan Houtsi telah menargetkan sejumlah fasilitas strategis Saudi, sementara Riyadh berupaya mempertahankan jalur ekspor minyak melalui rute alternatif akibat gangguan keamanan regional.
Ketegangan tersebut merupakan bagian dari konflik Yaman yang berlangsung sejak Houtsi menguasai sebagian besar wilayah utara negara itu, termasuk Sanaa, pada 2014. Arab Saudi kemudian memimpin intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman. Meskipun gencatan senjata yang dimediasi PBB pada 2022 sempat menurunkan intensitas perang, situasi kembali memburuk dalam perkembangan terbaru.
Klaim serangan terbaru juga terjadi ketika Houtsi meningkatkan tekanan terhadap kepentingan Saudi di tengah ketegangan regional yang lebih luas. Financial Times melaporkan bahwa kelompok tersebut sepanjang Agustus meningkatkan serangan terhadap Saudi dan mengancam jalur perdagangan di sekitar Laut Merah serta Selat Bab el-Mandeb, salah satu jalur pelayaran strategis dunia.(hanoum/arrahmah.id)
