Memuat...

Terowongan Ghouta Disulap Jadi Museum, Abadikan Luka Perang Kimia Suriah

Hanoum
Sabtu, 22 Agustus 2026 / 10 Rabiulawal 1448 03:52
Terowongan Ghouta Disulap Jadi Museum, Abadikan Luka Perang Kimia Suriah
Tangkapan layar. [Foto: X]

DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Sebuah terowongan rumah sakit rahasia di Ghouta, pinggiran Damaskus, Suriah, yang dahulu digunakan untuk mengevakuasi warga sipil dan merawat korban selama pengepungan, kini diubah menjadi museum untuk mengenang serangan kimia 2013 dan penderitaan warga selama perang. Perubahan fungsi tersebut dilakukan 13 tahun setelah serangan gas sarin yang menewaskan ratusan hingga lebih dari 1.000 orang dan menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam perang Suriah.

Dilansir Al Jazeera (21/8/2026), terowongan itu berada di wilayah Ghouta Timur, kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi basis kelompok oposisi dan berada di bawah pengepungan pasukan pemerintah Suriah. Jaringan terowongan bawah tanah dibangun untuk memungkinkan warga, tenaga medis, dan korban luka bergerak lebih aman ketika kawasan tersebut terus dihantam serangan udara dan artileri.

Serangan kimia yang menjadi latar sejarah museum tersebut terjadi pada 21 Agustus 2013. Roket yang membawa gas saraf sarin menghantam sejumlah kawasan permukiman di Ghouta Timur dan Barat. Human Rights Watch mendokumentasikan serangan terhadap kawasan yang dikuasai oposisi dan menyatakan ratusan warga sipil, termasuk banyak anak-anak, tewas.

Jumlah korban menjadi salah satu bagian yang diperdebatkan dalam berbagai laporan. Syrian Network for Human Rights menyebut 1.144 orang tewas akibat serangan tersebut, termasuk 1.119 warga sipil, 99 anak-anak dan 194 perempuan, berdasarkan dokumentasi organisasi itu. Sementara sejumlah sumber internasional pada saat kejadian memperkirakan jumlah korban mencapai sekitar 1.400 orang.

Peringatan ke-13 tragedi tersebut pada 21 Agustus 2026 kembali menempatkan Ghouta dalam perhatian publik Suriah. Al Jazeera melaporkan bahwa terowongan yang dahulu menjadi jalur penyelamatan korban kini dipertahankan sebagai ruang yang mengingatkan pengunjung pada kehidupan warga selama pengepungan dan serangan kimia.

Pengalaman para penyintas menggambarkan bagaimana jaringan bawah tanah menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat yang terkepung. Samir Bouydani, seorang insinyur sipil yang pernah membantu membangun fasilitas medis bawah tanah di Douma, mengatakan terowongan medis dibuat agar layanan kesehatan tetap dapat berjalan meskipun rumah sakit dan kawasan permukiman terus menjadi sasaran serangan.

“Fasilitas itu begitu lengkap sehingga rumah sakit tersebut masih dapat beroperasi selama enam hingga delapan bulan setelah pasukan Assad merebut Douma,” kata Samir Bouydani dalam laporan mengenai jaringan terowongan Ghouta.

Salah satu fasilitas terbesar adalah kompleks rumah sakit bawah tanah yang dikenal sebagai Point One. Menurut Bouydani, kompleks tersebut memiliki ruang operasi, generator cadangan, sumur air, sistem ventilasi dan lorong yang cukup besar untuk dilalui ambulans. Akses ke fasilitas itu sengaja disamarkan melalui bangunan-bangunan permukiman agar tidak mudah ditemukan dari udara.

Jaringan terowongan tersebut bukan hanya berfungsi sebagai fasilitas medis. Warga Ghouta juga menggali jalur bawah tanah untuk berlindung, berpindah antarwilayah, dan mempertahankan akses terhadap kebutuhan dasar selama pengepungan. Al Jazeera sebelumnya menggambarkan jaringan terowongan di kawasan Jobar, bagian dari Ghouta Timur, sebagai labirin yang membuat kawasan tersebut mendapat julukan “Bermuda Triangle” karena orang dapat tersesat di dalamnya.

Kini, warisan terowongan itu menghadirkan persoalan baru. Investigasi SIRAJ dan Daraj pada Juli 2026 menemukan sedikitnya 10 titik amblesan tanah di sejumlah kawasan Ghouta Timur yang berkaitan dengan jaringan terowongan peninggalan masa pengepungan. Sebagian terowongan berada 10–12 meter di bawah permukaan dan tidak seluruhnya memiliki peta yang masih tersedia.

Transformasi salah satu terowongan menjadi museum karena itu bukan sekadar proyek pelestarian sejarah. Ruang bawah tanah yang dahulu digunakan untuk menyelamatkan korban kini menjadi pengingat fisik mengenai serangan kimia, pengepungan, kehancuran fasilitas kesehatan, dan kehidupan warga sipil selama perang Suriah. Pada saat yang sama, keberadaan jaringan terowongan menunjukkan bahwa dampak konflik masih berlanjut bahkan setelah pertempuran berhenti, termasuk dalam bentuk risiko bangunan ambruk dan persoalan rekonstruksi. (hanoum/arrahmah.id)