(Arrahmah.id) — Sejak Taliban kembali berkuasa pada Agustus 2021, Afghanistan memasuki fase baru yang ditandai oleh stabilitas relatif di tingkat permukaan, tetapi juga oleh munculnya ancaman baru dari kelompok bughah yang menamakan dirinya ISIS-K, cabang regional ISIS yang beroperasi di Afghanistan dan Pakistan. Hubungan antara ISIS-K dan Taliban bukan sekadar konflik antar kelompok bersenjata, tetapi merupakan kompetisi ideologis, politik, dan strategis yang memiliki implikasi besar bagi keamanan regional dan global.
Analisis ini membahas perbedaan ideologi, strategi, basis sosial, dinamika kekuasaan, serta implikasi geopolitik dari konflik ISIS-K vs Taliban. Kerangka analisis mengacu pada konsep jihadisme transnasional, insurgency governance, dan violent extremist competition.
Taliban muncul pada 1994 sebagai gerakan milisi berbasis Pashtun yang berfokus pada Penegakan syariah versi Hanafi, Stabilitas lokal, dan Nasionalisme Islam Afghanistan. Taliban bukan gerakan global; mereka berorientasi pada Afghanistan sebagai negara. Setelah 20 tahun insurgensi, mereka kembali berkuasa pada 2021 dan menjadi pemerintahan de facto.
ISIS-K (ISIS Khurosan) didirikan pada 2015 sebagai cabang ISIS di wilayah “Khorasan” (Afghanistan, Pakistan, Iran timur, Asia Tengah). ISIS-K mengadopsi ideologi jihadisme global, dengan tujuan Mendirikan kekhalifahan global, Menghapus batas negara dan Menyerang musuh lokal dan internasional. ISIS-K memandang Taliban sebagai musuh utama, bukan sekutu.
Taliban mengusung Islamisme nasional, Penafsiran konservatif syariah, Fokus pada Afghanistan dan Struktur kepemimpinan hierarkis berbasis ulama dan komandan militer. Taliban tidak memiliki ambisi global. Mereka ingin membangun negara Islam Afghanistan, bukan kekhalifahan global.
Sedang ISIS-K mengusung Jihadisme global, Penolakan terhadap negara bangsa, Kekhalifahan transnasional, Takfirisme ekstrem (mudah mengkafirkan pihak lain). ISIS-K menganggap Taliban sebagai “Munafik”, “Tidak murni”, “Penjual jihad kepada Barat”. Perbedaan ideologi ini membuat konflik antara keduanya tak terhindarkan.
Taliban menguasai seluruh wilayah Afghanistan, Institusi negara, Aparat keamanan, Perbatasan dan bandara. Taliban memiliki monopoli kekerasan secara de facto. Sementara ISIS-K sebagai Aktor Insurgensi, tidak menguasai wilayah besar, tetapi Aktif di Nangarhar, Kunar, Kabul, sering Melakukan serangan urban, Menargetkan minoritas (Hazara Syiah), dan Menyerang fasilitas pemerintah Taliban. ISIS-K menggunakan strategi urban terrorism untuk menunjukkan eksistensi.

Taliban memiliki basis sosial yang kuat di komunitas Pashtun, wilayah pedesaan selatan, Jaringan madrasah tradisional dan di Keluarga kombatan. Taliban memanfaatkan jaringan sosial dan kekerabatan. Sedangkan ISIS-K merekrut dari mantan kombatan Taliban yang kecewa, Kelompok Salafi di Afghanistan dan Pakistan, Anggota TTP (Tehrik-i-Taliban Pakistan) dan juga dari Minoritas radikal urban. ISIS-K menarik mereka yang menginginkan jihad global, bukan nasional.
Taliban menggunakan Strategi Kontrol wilayah, Polisi moral, Penegakan hukum berbasis syariah, dan sering ada Operasi kontra-insurgensi terhadap ISIS-K. Taliban berusaha menunjukkan bahwa mereka mampu menjaga keamanan nasional. Sedangkan ISIS-K menggunakan Strategi lama yaitu Serangan bom bunuh diri, Serangan terhadap minoritas Syiah, Serangan terhadap sekolah, masjid, dan rumah sakit, serta Serangan terhadap pejabat Taliban. ISIS-K berusaha menciptakan citra bahwa Taliban tidak mampu menjaga keamanan.
ISIS-K menargetkan Kantor polisi Taliban, Pos pemeriksaan, Masjid yang digunakan Taliban, Upacara resmi pemerintah Taliban. Tujuannya adalah merusak legitimasi Taliban sebagai pemerintah. Taliban melakukan respon balik berupa Penangkapan besar-besaran, Eksekusi cepat terhadap anggota ISIS-K sebagai pelaku bughah, Operasi militer di Nangarhar, Pengawasan ketat terhadap komunitas Salafi. Namun ISIS-K tetap mampu melakukan serangan sporadis.
Taliban berusaha menunjukkan bahwa mereka stabil dan mampu mengendalikan ekstremisme serta dapat menjadi mitra regional. Ini penting untuk diplomasi dengan Cina, Rusia, Iran, dan Pakistan. Sedangkan kelompok bughah ISIS-K berusaha menunjukkan bahwa Taliban telah “berkhianat”, Afghanistan tetap bagian dari jihad global dan Kekhalifahan masih relevan, meskipun tidak dimulai dari satu titik negara. ISIS-K menggunakan serangan spektakuler untuk menarik perhatian jihadis global yang berideologi takfirisme.
ISIS-K menargetkan Pakistan, India (melalui propaganda) dan Asia Tengah. Taliban berusaha mencegah ekspansi ini agar tidak memicu intervensi asing. ISIS-K secara khusus menargetkan Hazara Syiah, Perempuan dan sekolah-sekolah tertentu. Ini memperburuk kondisi HAM di Afghanistan. ISIS-K memiliki ambisi serangan internasional, rekrutmen global dan propaganda digital. Taliban berusaha meyakinkan Barat bahwa mereka bukan ancaman global, tetapi ISIS-K merusak narasi tersebut.
Mengapa ISIS-K dan Taliban Tidak Bisa Berdamai?
Ini adalah Konflik Ideologis dimana Taliban mengusung nasionalisme Islam, sedangkan ISIS-K mengusung jihadisme global. Konflik ideologi ini bersifat fundamental. Taliban adalah sebuah negara, sedangkan ISIS-K anti-negara. ISIS-K tidak akan menerima Taliban sebagai pemerintah. Taliban ingin legitimasi internasional. ISIS-K ingin delegitimasi Taliban. Taliban berbasis Pashtun. ISIS-K berbasis Salafi transnasional.
Kesimpulan
Konflik ISIS-K vs Taliban adalah salah satu dinamika keamanan paling penting di Afghanistan pasca-2021. Perbedaan ideologi, strategi, basis sosial, dan tujuan politik membuat kedua kelompok ini tidak mungkin berdamai. Taliban berusaha mempertahankan status sebagai negara de facto, sementara ISIS-K berusaha merusak stabilitas dan mempromosikan jihad global.
Konflik ini memiliki implikasi besar bagi keamanan regional dan global, terutama terkait ancaman terorisme transnasional, stabilitas Asia Selatan, dan masa depan Afghanistan sebagai negara yang terisolasi secara normatif. []
