Memuat...

Ketegangan Iran–AS Picu Blokade Hormuz, Dua Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab

Ameera
Ahad, 19 April 2026 / 2 Zulkaidah 1447 17:48
Ketegangan Iran–AS Picu Blokade Hormuz, Dua Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab
Ketegangan Iran–AS Picu Blokade Hormuz, Dua Kapal Pertamina Tertahan di Teluk Arab

JAKARTA (Arrahmah.id) - Ketegangan geopolitik yang kembali memanas di kawasan Timur Tengah mulai berdampak langsung pada sektor pelayaran nasional.

PT Pertamina International Shipping (PIS) mengonfirmasi bahwa dua kapal miliknya, yakni Pertamina Pride dan Gamsunoro, saat ini masih tertahan di perairan Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz.

Situasi ini merupakan dampak langsung dari memburuknya hubungan antara Iran dan Amerika Serikat, yang memicu ketidakpastian keamanan di jalur pelayaran strategis tersebut.

Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan situasi secara ketat.

“Kedua kapal PIS, yaitu ‘Pertamina Pride’ dan ‘Gamsunoro’, saat ini masih berada di Teluk Arab dan belum dapat melintasi Selat Hormuz. PIS terus memonitor secara saksama perkembangan situasi yang sangat dinamis di sana,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Minggu (19/4/2026).

PIS menegaskan bahwa keselamatan awak kapal menjadi prioritas utama di tengah meningkatnya risiko keamanan.

Perusahaan juga tengah melakukan koordinasi intensif dengan berbagai kementerian serta otoritas terkait untuk menyusun rencana pelayaran paling aman.

“Keselamatan seluruh awak kapal, keamanan kapal, serta muatannya menjadi prioritas utama perusahaan saat ini. Kami berharap kondisi segera kondusif agar kapal dapat melanjutkan pelayaran dengan aman,” tambah Vega.

Tertahannya kapal-kapal tersebut tidak lepas dari dinamika cepat di Selat Hormuz. Jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia itu sempat dinyatakan dibuka untuk pelayaran komersial pada Jumat (17/4/2026).

Namun, kurang dari 24 jam kemudian, Iran kembali memperketat kendali dan mengembalikan status selat ke kondisi tertutup.

Langkah tersebut diambil sebagai respons atas kebijakan blokade angkatan laut Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Komando militer Iran bahkan menyebut tindakan AS sebagai bentuk “pembajakan” dan menegaskan akan terus mengontrol ketat lalu lintas di Selat Hormuz hingga kebebasan navigasi bagi kapal Iran dipulihkan.

Di sisi lain, Presiden Donald Trump menyatakan bahwa blokade akan tetap diberlakukan sampai Iran menyepakati tuntutan baru dari Washington, khususnya terkait penghentian program nuklirnya.

Ketegangan antara kedua negara ini berdampak luas terhadap pelayaran global. Sejumlah kapal, termasuk milik Indonesia, terpaksa menanggung kerugian waktu dan biaya akibat terganggunya jalur distribusi energi dunia.

(ameera/arrahmah.id)