Memuat...

Lempar Bom ke Demonstran Anti-Islam, Dua Pemuda Muslim Ditangkap di New York

Hanoum
Kamis, 12 Maret 2026 / 23 Ramadan 1447 08:47
Lempar Bom ke Demonstran Anti-Islam, Dua Pemuda Muslim Ditangkap di New York
Emir Balat (18) dan Ibrahim Kayumi (19) ditangkap polisi New york usai melemparkan bom ke arah demonstran anti-Islam di New York. [Foto: X]

NEW YORK (Arrahmah.id) -- Dua pria muda asal Pennsylvania ditangkap di New York City setelah melempar bom rakitan ke tengah kerumunan demonstran anti‑Islam di luar kediaman resmi walikota New York, yang kini sedang diselidiki sebagai tindakan terorisme terinspirasi oleh kelompok militan Islamic State (ISIS). Polisi federal menuduh bahwa kedua tersangka—Emir Balat (18) dan Ibrahim Kayumi (19)—membawa perangkat peledak buatan sendiri yang berpotensi mematikan dan terpengaruh propaganda militan sebelum tindakan itu.

Dilansir the Jerusalem Post (10/3/2026), kejadian terjadi pada 7 Maret 2026 di luar Gracie Mansion, kediaman resmi walikota Zohran Mamdani, ketika demonstrasi anti‑Islam dihadiri oleh kelompok kecil pendukung aktivis sayap kanan. Balat menyalakan satu perangkat peledak dan melemparkannya, lalu mengambil perangkat kedua dari Kayumi dan melemparkannya sebelum kedua pria itu segera ditangkap oleh polisi setempat.

Peledak yang digunakan berisi bahan peledak kuat dan pecahan logam yang bisa menyebabkan luka serius atau kematian jika meledak. Kedua perangkat gagal meledak, dan tidak ada korban yang dilaporkan. Polisi kemudian menemukan bom ketiga di kendaraan yang terkait dengan keduanya dan melanjutkan penyelidikan.

Dokumen dakwaan federal menyebutkan bahwa Balat dan Kayumi mengaku terinspirasi oleh ISIS dan salah satu dari mereka bahkan menyatakan niatnya melakukan serangan “lebih besar” dari ledakan di **Boston Marathon 2013” yang menewaskan tiga orang.

“Kami menyelidiki ini sebagai tindakan terorisme yang terinspirasi oleh ISIS,” kata Komisaris NYPD Jessica Tisch, menekankan bahwa kedua pria tersebut akan menghadapi dakwaan federal termasuk penyediaan dukungan material kepada organisasi teroris dan penggunaan senjata pemusnah massal.

Walikota Mamdani—yang menjadi target simbolis protes tersebut—mengutuk tindakan itu, menyatakan kekerasan tidak memiliki tempat dalam masyarakat meskipun menjunjung tinggi kebebasan berkumpul dan berekspresi.

Kasus ini menggambarkan tantangan ganda yang dihadapi otoritas AS dalam menangani ekstremisme domestik sambil memantau dampak narasi kekerasan global di tengah ketegangan internasional. (hanoum/arrahmah.id)