Memuat...

Mengakhiri Peristiwa Nakba yang Terus Berulang

Oleh Umi LiaMember Akademi Menulis Kreatif
Kamis, 28 Mei 2026 / 12 Zulhijah 1447 16:20
Mengakhiri Peristiwa Nakba yang Terus Berulang
(Foto: arabcenterdc.org)

Tanggal 15 Mei diperingati untuk mengenang peristiwa menyedihkan yang dikenal dengan Nakba atau Hari Bencana. Hari itu 78 tahun yang lalu Zionis merebut paksa tanah yang sudah ditempati bangsa Palestina, dengan dukungan Inggris. Sektor Liga Arab untuk Palestina dan Wilayah Arab yang diduduki, mendesak untuk segera mengakhiri ketidakadilan historis terhadap rakyat Palestina yang dijajah Israel sejak 1967. Organisasi regional ini juga menegaskan pentingnya mendirikan negara Palestina yang merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya sesuai dengan solusi dua negara, hukum internasional dan Inisiatif Perdamaian Arab. Para menteri luar negeri negara-negara yang tergabung dalam BRICS juga menyerukan komunitas dunia untuk mendukung Jalur Gaza dan Tepi Barat agar mencapai kemerdekaannya. (Antaranews.com, 15/6/2026)

Sampai saat ini penduduk di kedua wilayah tersebut  masih berjuang mengusir penjajah kafir Zionis. Mereka berjuang sendiri, negara-negara tetangganya tidak ada satu pun yang mengirimkan militernya untuk membantu. Kepedulian negara sekeliling Palestina hanya sebatas kecaman dan kutukan atas kekejaman tentara Israel. Para pemimpin negara teluk, semua diam dan bahkan mereka menjalin hubungan diplomasi dengan entitas Yahudi laknatullàh 'alaih.

Bencana Nakba yang terjadi tahun 1967 ternyata masih berlangsung hingga hari ini. Meskipun momen yang jatuh pada tanggal 15 Mei itu selalu diperingati. Untuk tahun ini peringatan diselenggarakan dengan aksi massa besar-besaran di banyak kota besar dunia seperti di London, Meksiko, Amsterdam dan New York. Orang-orang pro Palestina berdemo mengkritik aksi militer Zionis yang terus menindas rakyat Gaza dan tepi Barat hingga sekarang. Bahkan pada malam peringatan Nakba, IDF melakukan serangan hingga 11 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka. Mereka juga mencegat kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) dan menangkap para aktivisnya termasuk tujuh WNI di jalur laut internasional dekat Siprus (Yunani).

Kejahatan militer Zionis ini sudah begitu nyata dan terjadi di hadapan para pemimpin dunia. Sayangnya tidak ada yang mampu menghentikannya. PBB tidak berhasil dengan resolusi-resolusi yang dikeluarkannya, apalagi organisasi regional. Sebaliknya Amerika dengan sekutunya justru memberi dukungan pada entitas Israel ini. Seperti yang dilakukannya melalui proyek Abraham Accord, proyek Gaza Baru atau Trump Riviera dengan rencana-rencana yang dipresentasikan di Sidang Umum PBB September 2025. Untuk tujuannya itu Trump membentuk BoP (Board of Peace) bersama 28 negara lainnya termasuk Indonesia. Bukan perdamaian yang terjadi, perang makin meluas karena AS dan Israel menyerang Iran. Hal ini menunjukkan bahwa sistem kapitalisme global yang berlaku saat ini tidak bisa menciptakan kerahmatan di dunia. Selain itu, nasionalisme memecah-belah umat Islam sehingga kehilangan kekuatannya.

Dengan begitu pembebasan Palestina tidak bisa berharap pada bantuan lembaga-lembaga dunia, tidak pada PBB apalagi BoP. Umat Islam harus mengambil pelajaran dan sikap yang tegas untuk tidak percaya lagi pada badan internasional, apalagi di belakangnya adalah orang-orang kafir yang tidak akan rela kaum muslim hidup tenang. Keberadaan organisasi-organisasi tersebut justru untuk melanggengkan penjajahan ideologi kapitalisme global terhadap dunia Islam. Karena tidak bisa dipungkiri faktanya letak  negeri-negeri muslim sangat strategis sebagai jalur internasional serta sumber daya alamnya melimpah. Hal itu menjadi sebab, kenapa para penjajah ingin menjaga hegemoninya. Para kapitalis sangat berkepentingan untuk terus menguatkan dominasinya di negara-negara berkembang. Dengan maksud untuk menciptakan ketergantungan para pemimpin muslim kepada mereka (investor asing).

Oleh karena itu, umat Islam harus menyadari dua hal untuk bisa menolong penduduk Palestina dari penjajahan entitas Zionis Yahudi. Yaitu pertama, kaum muslim sedunia harus bersatu dalam satu kepemimpinan. Banyak dalil al-Quran dan as-Sunah yang mewajibkan persatuan. Bagaimana bisa kaum muslim saat ini tercerai-berai, padahal kiblatnya satu, kitab sucinya sama, nabi yang diikutinya serta tuhan yang disembahnya juga tidak berbeda? Orang yang mengaku beriman seharusnya mudah tergerak ketika ada seruan untuk bersatu. Kedua, penyatuan negeri-negeri muslim tidak mungkin terwujud tanpa tegaknya Khilafah. Sebagaimana dulu Rasulullah saw. dan para khalifah setelahnya memimpin umat, maka begitu juga di zaman sekarang Khilafah akan dapat menyatukan seluruh wilayah Islam sedunia. Selain itu, dengan penerapan hukum-hukum Allah, institusi ini akan mampu membebaskan rakyatnya dari ketertindasan, keterpurukan, kemudian menjamin keamanannya, kenyamanannya dan kesejahteraannya.

Kesimpulannya, hanya Khilafah yang bisa diharapkan akan membebaskan Palestina. Untuk itu masyarakat harus dipahamkan terhadap pentingnya perjuangan untuk menegakkannya. Rasulullah saw. sudah memberi contoh, bagaimana usaha ini harus dimulai, dibangun dan dikembangkan sehingga akhirnya umat merasakan keadaan yang didambakannya. Caranya lewat dakwah yang mengikuti metode dakwah Nabi dan para sahabat ketika di Mekah. Sebagai pengikutnya, tentu mau tidak mau kita harus meneladani apa yang sudah dilakukan Rasulullah berdasarkan perintah Allah, berupa tahap-tahap dakwah yang akan menghantarkan pada keberhasilan yaitu tegaknya Khilafah. Institusi inilah yang nantinya akan menerapkan syariah Islam secara kafah (menyeluruh), kemudian menyebarkannya sebagai rahmat (kebaikan) bagi seluruh alam lewat dakwah dan jihad. Saat ini tidak ada solusi yang masuk akal selain itu. Penindasan terhadap muslim Palestina atau orang-orang yang lemah pada umumnya harus segera diakhiri. Ayo kita bergerak untuk menyatukan diri dan bergegas menegakkan kembali Khilafah Islamiyah sebagai bukti keimanan kita kepada firman Allah Swt. dalam QS Ali Imran ayat 103:

"Berpegangteguhlah kalian pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai-berai dan ingatlah nikmat Allah kepada kalian ketika kalian dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hati kalian sehingga dengan karunia-Nya kalian menjadi bersaudara..."

Wallahu a'lam bish shawab.

Editor: Hanin Mazaya