Memuat...

Misteri Asal-usul Covid-19 Kembali Memanas, Penyelidikan Anthony Fauci Jadi Sorotan Dunia

Samir Musa
Jumat, 31 Juli 2026 / 17 Safar 1448 18:12
Misteri Asal-usul Covid-19 Kembali Memanas, Penyelidikan Anthony Fauci Jadi Sorotan Dunia
Asal-usul virus yang menyebabkan merebaknya pandemi Covid-19 masih menjadi perdebatan, meskipun telah lebih dari enam tahun sejak pertama kali muncul. (Reuters)

WASHINGTON (Arrahmah.id) – Lebih dari enam tahun setelah pandemi Covid-19 mengguncang dunia, asal-usul virus penyebab wabah tersebut masih menjadi perdebatan. Sejumlah pakar menilai kegagalan mengungkap fakta bukan sekadar persoalan sejarah, tetapi dapat menghambat kesiapan dunia menghadapi pandemi berikutnya yang berpotensi lebih mematikan.

Dalam artikel opininya di Newsweek, pendiri dan Presiden organisasi One Shared World, Jamie Metzl, menyerukan dilakukannya penyelidikan yang independen dan menyeluruh terhadap asal-usul Covid-19. Menurutnya, perdebatan di Amerika Serikat justru terjebak dalam konflik politik sehingga menjauh dari pertanyaan utama: bagaimana pandemi itu sebenarnya bermula?

Metzl menilai sidang dengar pendapat terbaru di Senat AS tidak menghasilkan kemajuan berarti. Mantan Direktur Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular Amerika Serikat (NIAID), Dr. Anthony Fauci, menggunakan hak konstitusionalnya untuk tidak menjawab lebih dari 100 pertanyaan, sementara Senator Partai Republik Rand Paul mengancam akan menempuh langkah hukum terhadapnya.

Menurut Metzl, dinamika politik tersebut mengalihkan perhatian dari isu yang jauh lebih penting, yakni mengungkap asal-usul virus serta mengevaluasi langkah-langkah yang diperlukan agar bencana serupa tidak terulang.

Ia mengakui Fauci memiliki kontribusi besar dalam memerangi berbagai penyakit, termasuk HIV/AIDS, serta mendukung pengembangan vaksin. Namun, Metzl berpendapat hal itu tidak menutup kemungkinan perlunya evaluasi terhadap sikap Fauci pada awal pandemi ketika ia menyatakan keyakinan bahwa virus berasal dari proses alami, padahal bukti yang tersedia saat itu dinilai belum cukup untuk memastikan kesimpulan tersebut.

Perdebatan mengenai asal-usul virus penyebab pandemi Corona kembali mencuat seiring penyelidikan terhadap Dr. Anthony Fauci. (Associated Press)

Dugaan Kebocoran Laboratorium

Dalam tulisannya, Metzl juga membahas pendanaan Amerika Serikat terhadap sejumlah penelitian di Institut Virologi Wuhan, China. Ia menyebut dana yang diberikan tidak cukup untuk menciptakan virus SARS-CoV-2, tetapi tetap menilai terdapat persoalan terkait dukungan terhadap penelitian di lembaga yang dinilai kurang transparan mengenai eksperimen dan standar keamanan biologinya.

Metzl cenderung mendukung hipotesis bahwa pandemi kemungkinan dipicu oleh kecelakaan yang berkaitan dengan aktivitas penelitian, yang menurutnya kemudian diikuti upaya penutupan informasi oleh otoritas China.

Ia mendasarkan pandangannya pada sejumlah indikator, di antaranya kemunculan wabah pertama di Kota Wuhan yang menjadi lokasi pusat penelitian virus corona di China, sementara habitat alami kelelawar pembawa virus serupa berada lebih dari 1.600 kilometer dari kota tersebut. Selain itu, hingga kini belum ditemukan secara pasti hewan perantara yang menularkan virus kepada manusia maupun rantai penularannya.

Menurut Metzl, hingga saat ini China juga masih belum menyerahkan sejumlah data penting yang diminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), termasuk catatan laboratorium, urutan genom virus pada fase awal wabah, data hewan yang diperdagangkan di pasar Wuhan, serta informasi mengenai prosedur keamanan laboratorium. Kondisi tersebut, menurutnya, membuat penentuan asal-usul virus menjadi semakin sulit.

Seruan Investigasi Independen

Meski demikian, Metzl menegaskan bahwa dugaan tanggung jawab China tidak boleh menghalangi evaluasi terhadap kebijakan lembaga-lembaga di Amerika Serikat. Ia menyerukan agar seluruh pihak yang terkait dimintai pertanggungjawaban tanpa menjadikan penyelidikan sebagai serangan pribadi terhadap Fauci.

Metzl mengusulkan pembentukan komisi nasional independen yang melibatkan dua partai politik di Amerika Serikat, serupa dengan Komisi Investigasi Serangan 11 September. Komisi tersebut diharapkan menyelidiki seluruh aspek pandemi, mulai dari asal-usul virus, kebijakan pemerintah China, pendanaan riset di luar negeri, keamanan hayati, hingga kelemahan sistem intelijen dan kesehatan masyarakat.

Ia menutup tulisannya dengan mengingatkan bahwa dunia belum dapat benar-benar menutup bab pandemi Covid-19 sebelum memahami penyebab sebenarnya. Menurutnya, perkembangan pesat teknologi rekayasa hayati berpotensi meningkatkan risiko munculnya pandemi baru, sementara kesiapan masyarakat internasional dalam mengelola risiko tersebut masih belum memadai.

(Samirmusa/arrahmah.id)