DAMASKUS (Arrahmah.id) -- Kelompok muhajirin asal Prancis di Suriah merilis video baru berisi bantahan terhadap tuduhan yang sebelumnya dilayangkan pemerintah Suriah kepada mereka, menandai babak baru ketegangan antara otoritas Damaskus dan kelompok pejuang asing yang selama ini beroperasi di Idlib. Video itu dipublikasikan pada 22 Juni 2026 melalui kanal media pendukung kelompok Firqat al-Ghuraba, dan menampilkan pemimpinnya, Omar Diaby alias Omar Omsen, yang membela kelompoknya dari serangkaian tuduhan pemerintah Suriah, mulai dari keterlibatan dalam aksi kriminal hingga ancaman terhadap stabilitas keamanan negara.
Dilansir Shabab Alsham (24/6/2026), dalam video berjudul “al-Tahaluf al-Shar’i” atau “Aliansi yang Disyariatkan”, Omar Diaby menuding pemerintah Suriah telah bekerja sama dengan Prancis dan koalisi internasional untuk menekan para pejuang asing di Suriah. Ia menyebut kelompoknya menjadi sasaran operasi keamanan, penangkapan, hingga kampanye delegitimasi yang menurutnya dibungkus dengan narasi “kontra-terorisme”.
Video itu muncul beberapa bulan setelah bentrokan besar antara aparat keamanan Suriah dan kamp Firqat al-Ghuraba di kawasan Harem, Idlib, pada Oktober 2025. Saat itu, pemerintah Suriah menuduh kelompok Diaby terlibat dalam penculikan seorang gadis dan menolak menyerahkannya kepada aparat, tuduhan yang kemudian dibantah pihak kelompok.
Dalam rekaman tersebut, Omar Diaby secara terbuka menolak tuduhan yang diarahkan kepadanya dan kelompoknya. “Kami datang ke Suriah untuk melawan kezaliman, bukan untuk menindas rakyat Suriah atau menambah penderitaan mereka,” kata Omar Diaby dalam video itu, sembari menegaskan bahwa kelompoknya tidak pernah berniat terlibat dalam kriminalitas atau memerangi masyarakat lokal. Ia juga menyatakan bahwa tuduhan terhadap Firqat al-Ghuraba telah dipatahkan satu per satu dan menyebut pemerintah Suriah sengaja menjadikan isu keamanan sebagai pintu masuk untuk menekan kelompok muhajirin.

Video tersebut sekaligus menjadi respons langsung atas ketegangan lama antara kelompok pejuang asing dan pemerintahan Presiden Ahmad Asy Syaraa. Dalam materi yang dipublikasikan Shabab al-Sham, Diaby menuduh Paris menekan Damaskus agar bertindak terhadap kelompoknya, termasuk melalui jalur kerja sama keamanan. Video itu juga menampilkan ulang pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron, Presiden Suriah Ahmad Asy Syaraa, serta pejabat keamanan Prancis yang membahas isu pejuang asing asal Prancis di Suriah. Menurut narasi kelompok itu, operasi terhadap kamp mereka di Harem tahun lalu tidak bisa dilepaskan dari kepentingan Prancis untuk menangani para warganya yang masih bertahan di Suriah.
Pemerintah Suriah sebelumnya memang telah mengambil langkah lebih keras terhadap sebagian pejuang asing yang dianggap sulit diintegrasikan ke dalam struktur negara pasca-runtuhnya rezim Bashar al-Assad. Bentrokan di kamp Firqat al-Ghuraba pada Oktober 2025 menjadi salah satu contoh paling menonjol. Otoritas Suriah saat itu menyatakan operasi dilakukan setelah menerima laporan tentang pelanggaran berat, termasuk penculikan, dan menuduh Omar Diaby menolak menyerah serta menggunakan warga sipil sebagai tameng. Setelah bentrokan selama lebih dari satu hari, kedua pihak akhirnya menyepakati gencatan senjata yang membuka jalan bagi investigasi atas tuduhan terhadap Diaby.
Kasus Firqat al-Ghuraba juga menjadi sorotan lebih luas karena menyangkut dilema pemerintah Suriah baru dalam menangani ribuan petempur asing yang dulu ikut bertempur melawan Assad, tetapi kini menjadi beban politik dan keamanan. Sejumlah kajian keamanan Barat mencatat bahwa pemerintahan Ahmad Asy Syaraa menghadapi tekanan dari negara-negara Barat untuk menertibkan unsur-unsur jihadis asing yang tetap mempertahankan agenda ideologis keras dan enggan tunduk sepenuhnya pada otoritas negara. Dalam konteks itu, video Omar Diaby dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan legitimasi kelompoknya di mata pendukung lokal dan jaringan muhajirin, sekaligus menyerang balik narasi resmi Damaskus.
Di dalam video itu, Diaby juga berusaha menempatkan kelompoknya sebagai bagian dari perjuangan rakyat Suriah, bukan aktor asing yang hendak mengambil alih arah revolusi. Ia menyebut para pejuang Prancis di kelompoknya ikut menanggung penderitaan yang sama dengan warga Suriah, dari kehilangan anggota keluarga hingga hidup di tengah perang dan pengungsian. Namun, di sisi lain, pemerintah Suriah dan sejumlah negara Barat tetap memandang Omar Diaby sebagai figur berisiko tinggi. Diaby telah lama diburu otoritas Prancis dan tercantum dalam daftar sanksi PBB serta pernah ditetapkan Amerika Serikat sebagai teroris global karena perannya merekrut pejuang berbahasa Prancis ke Suriah. (hanoum/arrahmah.id)
