Memuat...

Netanyahu Dikecam di Inggris usai Sebut Negeri Itu Bisa Jadi "Republik Islam" Bersenjata Nuklir

Samir Musa
Jumat, 14 Agustus 2026 / 2 Rabiulawal 1448 22:30
Netanyahu Dikecam di Inggris usai Sebut Negeri Itu Bisa Jadi "Republik Islam" Bersenjata Nuklir
Perdana Menteri "Israel" Benjamin "Iblis" Netanyahu. (Reuters)

LONDON (Arrahmah.id) – Perdana Menteri "Israel", Benjamin Netanyahu, menuai gelombang kecaman di Inggris setelah melontarkan pernyataan yang menyebut Inggris berpotensi menjadi "Republik Islam" yang memiliki senjata nuklir. Ucapan tersebut memicu kritik dari politisi, jurnalis, akademisi, hingga para aktivis yang menilainya sebagai pernyataan bernada Islamofobia.

Dalam wawancara dengan Radio Militer "Israel", Netanyahu mengatakan bahwa seseorang pernah menyebut "republik Islam pertama yang memiliki senjata nuklir adalah Republik Islam Inggris". Ia kemudian menambahkan bahwa "Israel" berupaya memastikan tidak ada "republik Islam lain", merujuk pada Iran.

Pernyataan itu langsung memancing reaksi keras di media sosial dan ruang publik Inggris. Banyak pihak menilai Netanyahu berusaha mengaitkan pertumbuhan populasi Muslim di Inggris dengan ancaman keamanan dan masa depan politik negara tersebut tanpa dasar yang jelas.

Jurnalis Inggris Piers Morgan, yang memiliki sekitar sembilan juta pengikut di platform X, menyebut Netanyahu sebagai "orang bodoh" dalam tanggapannya terhadap pernyataan tersebut.

Sementara itu, anggota House of Lords, Gavin Barwell, mengecam ucapan Netanyahu sebagai bentuk "Islamofobia yang terang-terangan". Ia menegaskan bahwa menyebarkan teori bahwa umat Islam akan mengambil alih Inggris sama berbahayanya dengan narasi antisemit yang mengklaim orang Yahudi menguasai negara tersebut.

Sejarawan dan penulis Inggris keturunan India, William Dalrymple, juga mengkritik keras Netanyahu. Ia bahkan menyerukan agar pemimpin "Israel" itu dihadapkan ke Mahkamah Pidana Internasional di Den Haag atas apa yang disebutnya sebagai retorika rasis dan anti-Muslim.

Sejumlah aktivis Inggris turut menilai bahwa narasi mengenai Inggris yang akan berubah menjadi "negara Islam" tidak didukung bukti maupun data yang valid. Mereka menilai Netanyahu sedang membangun ketakutan terhadap komunitas Muslim dengan menghubungkan perubahan demografi dengan ancaman keamanan nasional.

Para pengkritik juga mempertanyakan standar ganda dalam wacana politik internasional. Mereka menilai, jika seorang politisi Inggris menggunakan ungkapan serupa dengan menyebut Amerika Serikat sebagai "negara Yahudi", maka reaksi keras hampir pasti akan muncul.

Kontroversi ini terjadi ketika hubungan Inggris dengan "Israel" tengah menjadi sorotan akibat perang yang masih berlangsung di Gaza. Di saat yang sama, dinamika politik domestik Inggris dinilai semakin membuka peluang lahirnya kebijakan yang lebih kritis terhadap pemerintah "Israel".

Ini bukan pertama kalinya Netanyahu melontarkan komentar serupa mengenai umat Islam di Eropa. Dalam wawancara dengan Fox News pada akhir Juli lalu, ia juga menyindir bahwa seseorang belajar bahasa Arab agar dapat "pergi ke London dan Paris", sebuah pernyataan yang kala itu juga memicu kontroversi.

Menurut data sensus dan statistik resmi Inggris, jumlah penduduk Muslim di Inggris mencapai sekitar empat juta jiwa atau sekitar enam persen dari total populasi negara tersebut.

(Samirmusa/arrahmah.id)