SANA’A (Arrahmah.id) - Pemimpin Ansarallah, Abdul-Malik al-Houtsi, mengeluarkan peringatan keras terkait langkah-langkah 'Israel' di Somaliland. Dalam pidatonya saat peringatan Asyura pada Kamis (25/6/2026), al-Houtsi menegaskan bahwa Yaman memantau secara ketat pergerakan 'Israel' di wilayah tersebut dan memperingatkan bahwa segala bentuk kehadiran militer 'Israel' di Somaliland akan menjadi target sah bagi angkatan bersenjata Yaman.
Al-Houtsi mendesak negara-negara di sekitar Laut Merah untuk mengambil sikap bersama dalam menentang aktivitas 'Israel' di kawasan tersebut. Ia menekankan bahwa Yaman tidak akan tinggal diam menghadapi perkembangan yang mengancam keamanan di Teluk Aden dan Selat Bab al-Mandab.
Selain peringatan militer, al-Houtsi menyerukan dukungan bagi Somalia terhadap apa yang ia sebut sebagai pelanggaran kedaulatan negara tersebut. Ia menilai bahwa aktivitas 'Israel' di Somaliland merupakan ancaman sistemik bagi keamanan regional.
Ketegangan ini memuncak setelah 'Israel' secara resmi mengakui Somaliland pada Desember 2025. Kontroversi semakin tajam awal bulan ini setelah Presiden Somaliland, Abdirahman Mohamed Abdullahi, menyatakan tidak menutup kemungkinan untuk mengizinkan pendirian pangkalan militer 'Israel' di wilayahnya, menyusul rencana pembukaan kedutaan besar Somaliland di Yerusalem yang diduduki.
Dalam pidato yang sama, al-Houtsi menegaskan kembali komitmen teguh Yaman terhadap perjuangan Palestina. Ia menyatakan bahwa rakyat Yaman tetap berada di jalur pembebasan dan jihad, dan bahwa Sana'a terus melakukan koordinasi dengan sekutunya terkait potensi konfrontasi regional di masa depan.
Yaman menyatakan tidak akan ragu untuk menjalankan tugasnya dalam setiap eskalasi agresi baru di arena mana pun. Al-Houtsi menegaskan kembali penentangannya terhadap apa yang disebutnya sebagai agresi, pendudukan, dan blokade Amerika-Saudi terhadap Yaman.
Ia juga menyampaikan ucapan selamat kepada Iran atas apa yang disebutnya sebagai "kemenangan besar atas musuh-musuh bangsa," serta menyebutnya sebagai kemenangan penting bagi Poros Perlawanan (Axis of Resistance) secara lebih luas.
Pernyataan ini menggarisbawahi meningkatnya potensi ketegangan di sepanjang jalur maritim strategis Laut Merah, di mana peran Yaman sebagai aktor regional semakin menonjol dalam menantang kehadiran 'Israel' di wilayah tanduk Afrika. (zarahamala/arrahmah.id)
