WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Komentator konservatif Amerika Serikat (AS) Tucker Carlson mengaku pernah memiliki pandangan Islamofobik terhadap Islam dan umat Muslim, tetapi kini menyatakan keyakinan itu keliru.
Pengakuan tersebut disampaikan Carlson dalam sebuah video yang beredar luas pada Rabu (25/6/2026), ketika ia secara terbuka mengatakan bahwa pandangan lamanya tentang Islam dibentuk oleh ketakutan dan histeria, bukan oleh pemahaman yang benar.
Dalam potongan video yang dikutip Newsweek (25/6), Carlson mengingat kembali bagaimana ia dulu berulang kali menyebut Islam sebagai masalah dan menggambarkan umat Muslim secara kolektif sebagai ancaman. Namun kali ini, ia justru mengatakan semua anggapan tersebut salah dan tidak sesuai kenyataan.
Carlson menyebut perubahan pandangannya lahir setelah ia menilai ulang keyakinan lamanya sendiri.
“Berkali-kali saya pernah mengatakan di televisi, ‘Masalahnya adalah Islam. Masalahnya adalah Muslim. Mereka semua ingin membunuh kita. Mereka semua gila. Mereka semua berada dalam sekte bunuh diri yang gila yang diciptakan Muhammad pada abad ke-7.’ Dan saya mempercayai itu. Saya histeris, saya mempercayainya. Tidak, itu tidak benar. Tidak ada satu pun dari itu yang benar, tetapi dulu saya mempercayainya,” kata Tucker Carlson dalam video tersebut.
Ucapan itu menandai pembalikan yang cukup tajam dari citra Carlson sebelumnya. Dalam beberapa tahun terakhir, ia kerap dikaitkan dengan retorika konservatif keras soal Islam, perang di Timur Tengah, dan keamanan nasional. Namun sepanjang 2025 hingga 2026, posisi Carlson terhadap isu Timur Tengah memang terlihat berubah, terutama setelah ia semakin vokal mengkritik perang, mengecam serangan terhadap Iran, dan menolak generalisasi terhadap umat Muslim.
Dalam salah satu komentarnya pada April lalu, Carlson bahkan menegaskan bahwa “tidak ada presiden yang seharusnya mengejek Islam,” saat mengkritik unggahan Presiden Donald Trump yang dinilainya menghina agama tersebut.
Pengakuan Carlson juga langsung memicu reaksi di kalangan konservatif Amerika, terutama dari kelompok garis keras pro-Israel dan tokoh sayap kanan anti-Muslim.
Sejumlah figur MAGA menuding Carlson telah berbalik arah terlalu jauh dan mulai mempromosikan propaganda Islam.
Hindustan Times melaporkan bahwa aktivis sayap kanan Laura Loomer termasuk yang paling keras menyerang Carlson setelah video itu viral, dengan menuding mantan pembawa acara Fox News tersebut meninggalkan posisi lama yang selama ini identik dengan basis konservatifnya.
Dari sisi substansi, pengakuan Carlson penting karena menunjukkan perubahan narasi dari salah satu suara paling berpengaruh di ekosistem media konservatif Amerika. Jika sebelumnya retorika anti-Islam sering digunakan untuk membingkai konflik geopolitik sebagai benturan peradaban, Carlson kini justru mengakui bahwa cara pandang semacam itu salah. Pernyataannya dapat dibaca sebagai kritik terhadap generalisasi lama yang menyamakan Islam, umat Muslim, dan kekerasan, sebuah narasi yang selama dua dekade terakhir cukup kuat dalam sebagian wacana politik Amerika pasca-serangan 11 September.
Meski demikian, belum jelas sejauh mana pengakuan ini akan mengubah posisi politik Carlson secara keseluruhan terhadap isu Islam, Timur Tengah, dan kebijakan luar negeri AS.
Yang pasti, pernyataannya telah membuka perdebatan baru di kalangan kanan Amerika: apakah perubahan itu merupakan refleksi personal yang tulus, atau bagian dari reposisi politik Carlson di tengah pecahnya kubu konservatif soal perang, Israel, dan hubungan Amerika dengan dunia Muslim. (hanoum/arrahmah.id)
