Memuat...

Netanyahu Menyatakan Kesiapan untuk Menyerang Iran Sendirian

Zarah Amala
Kamis, 6 Agustus 2026 / 23 Safar 1448 10:02
Netanyahu Menyatakan Kesiapan untuk Menyerang Iran Sendirian
Perdana Menteri 'Israel', Benjamin Netanyahu. (Foto: PC)

YERUSALEM (Arrahmah.id) - Perdana Menteri 'Israel' Benjamin Netanyahu mengisyaratkan pada Rabu (5/8/2026) bahwa 'Israel' siap melancarkan aksi militer sepihak terhadap Iran di tengah upaya diplomasi regional yang sedang berlangsung antara Teheran dan Washington.

Pernyataan tersebut disampaikan menyusul konfirmasi dari mediator Qatar bahwa perundingan damai telah memasuki tahap lanjut, serta pernyataan dari Presiden Iran Masoud Pezeshkian yang menegaskan bahwa berbagai upaya untuk menggulingkan Republik Islam telah menemui kegagalan.

Dalam keterangannya pada Rabu (5/8), Netanyahu menegaskan tekad 'Israel' untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir, seraya menyatakan bahwa opsi militer tetap terbuka terlepas dari dinamika diplomatik yang berjalan.

"Kami mendengar hari ini komandan Korps Garda Revolusi Islam Iran, Ahmad Vahidi, mendeklarasikan niat Iran untuk terus mengembangkan senjata nuklir,"klaim Netanyahu. "Sebagai Perdana Menteri 'Israel', saya bertekad untuk mencegah Iran mendapatkan senjata nuklir."

Meskipun menyebut Amerika Serikat sebagai sekutu terbesar 'Israel', Netanyahu menegaskan kesiapannya untuk melakukan apa pun yang diperlukan demi menjamin keamanan negara tersebut.

Pernyataan keras Netanyahu ini bertepatan dengan berlanjutnya upaya diplomatik guna mengakhiri konfrontasi berbulan-bulan antara Iran dan Amerika Serikat.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar, Majed Al-Ansari, mengungkapkan pada Selasa (4/8) bahwa mediasi telah mencapai tahap lanjut dengan kedua belah pihak saling bertukar draf proposal demi tercapainya kesepakatan komprehensif. Upaya ini merupakan tindak lanjut dari memorandum kesepahaman yang ditandatangani pada Juni lalu berkat mediasi Qatar dan Pakistan, menyusul konflik militer yang pecah pada akhir Februari.

-Di sisi lain, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa upaya-upaya untuk menumbangkan Republik Islam telah gagal total meskipun menghadapi tekanan militer yang masif selama berbulan-bulan.

Berbicara di hadapan rakyat Iran, Pezeshkian menyatakan bahwa pihak musuh sempat mengira mereka dapat meruntuhkan Iran dalam waktu 48 jam seperti yang terjadi di Suriah. Kendati mengakui periode ini sebagai masa tersulit sejak Revolusi Islam 1979, ia menegaskan bahwa persatuan nasional dan ketahanan institusi negara berhasil memupus rencana tersebut.

"Musuh mengira negara ini akan runtuh setelah aksi brutal mereka, namun institusi-institusi tetap berjalan, pemimpin baru telah terpilih, dan kehadirannya hari ini menjadi sumber kekuatan bagi kita untuk melanjutkan jalan ini," pungkas Pezeshkian. (zarahamala/arrahmah.id)