Memuat...

Oposisi 'Israel' Sebut Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Kegagalan Telak Netanyahu

Zarah Amala
Jumat, 24 Juli 2026 / 10 Safar 1448 10:46
Oposisi 'Israel' Sebut Kesepakatan Nuklir AS-Saudi Kegagalan Telak Netanyahu
Pemimpin oposisi 'Israel', Naftali Bennett dan Avigdor Lieberman, mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu setelah kesepakatan nuklir sipil AS-Arab Saudi. (Desain: PC)

TEL AVIV (Arrahmah.id) - Kubu oposisi 'Israel' melancarkan kecaman terhadap Perdana Menteri Benjamin Netanyahu pada Kamis (23/7/2026), menyusul penandatanganan perjanjian kerja sama nuklir sipil antara Amerika Serikat dan Arab Saudi. Kesepakatan strategis tersebut dinilai sebagai kekalahan telak dalam bidang diplomasi bagi pemerintah 'Israel'.

Perjanjian bilateral yang ditandatangani pada Rabu (22/7) oleh Menteri Energi AS Chris Wright dan Menteri Energi Saudi Pangeran Abdulaziz bin Salman ini menetapkan kerangka kerja sama nuklir sipil jangka panjang antara Washington dan Riyadh, dan kini akan diserahkan kepada Kongres AS untuk ditinjau.

Mantan Perdana Menteri Naftali Bennett menuduh pemerintahan Netanyahu sengaja disingkirkan dari proses perundingan. Berbicara kepada lembaga penyiaran publik 'Israel', KAN, Bennett menyebut kesepakatan tersebut sebagai kegagalan diplomatik yang masif.

"Perjanjian ini dicapai tanpa sepengetahuan kita," ujar Bennett, seraya menambahkan bahwa 'Israel' telah dimarjinalkan akibat tidak lagi menjadi partisipan aktif dalam diplomasi regional Washington.

Kecaman senada disampaikan oleh mantan Menteri Pertahanan Avigdor Lieberman yang melabeli kesepakatan itu sebagai kegagalan besar dan sangat mematikan. Lieberman memperingatkan bahwa izin bagi Arab Saudi untuk memperkaya uranium, tanpa dikaitkan dengan normalisasi hubungan dengan 'Israel', dapat memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan Timur Tengah. Pemimpin oposisi Yair Lapid turut melontarkan kritik serupa melalui platform X dengan menuliskan, "Kesepakatan Program Nuklir Saudi adalah kegagalan total Netanyahu."

Poin Penting dan Kekhawatiran Strategis

Perjanjian nuklir sipil ini memberikan peran sentral bagi perusahaan-perusahaan Amerika dalam mengembangkan sektor energi nuklir Arab Saudi melalui pembangunan reaktor nuklir serta studi kelayakan bersama terkait pengayaan uranium domestik. Menurut laporan The Wall Street Journal, kesepakatan berjangka waktu 30 tahun ini melibatkan investasi bernilai puluhan miliar dolar.

Bagi 'Israel, program nuklir regional yang melibatkan pengayaan uranium selalu dipandang sebagai ancaman strategis, kendati ditujukan untuk kepentingan sipil, karena dikhawatirkan dapat membuka jalan bagi pengembangan senjata. Perjanjian terbaru ini mempertegas eratnya kemitraan strategis antara Washington dan Riyadh, di tengah macetnya upaya normalisasi hubungan diplomatik antara Arab Saudi dan 'Israel'. (zarahamala/arrahmah.id)