TEL AVIV (Arrahmah.id) - Aktivis hak asasi manusia dan praktisi hukum 'Israel', Sapir Sluzker Amran, melontarkan kritik tajam terhadap penyelenggaraan pameran teknologi pertahanan "Israel 2026". Dalam artikelnya yang diterbitkan Haaretz, Amran menjuluki pameran tersebut sebagai "Festival Darah," di mana teknologi militer dipasarkan dengan label "teruji di medan tempur" (combat-proven) menggunakan wilayah Gaza sebagai laboratorium eksperimen.
Amran menyoroti bagaimana iklan pameran tersebut mengemas kehancuran di Gaza sebagai pencapaian profesional yang "tanpa konteks." Ia menyebut istilah "inovasi di bawah tembakan" hanyalah bahasa halus untuk sistem senjata yang telah membunuh puluhan ribu orang selama dua tahun terakhir guna meningkatkan nilai pasar perusahaan senjata.
Dalam laporannya, Amran mengungkapkan beberapa poin krusial mengenai normalisasi ekonomi perang di 'Israel'. Iklan senjata dipasarkan layaknya produk konsumen rutin, seperti oven atau produk kecantikan, dengan memamerkan efisiensinya dalam membunuh warga sipil.
Data menunjukkan penjualan senjata 'Israel' naik lebih dari 18% dalam dua tahun terakhir. Pada akhir 2024, pesanan industri pertahanan mencapai $68,4 miliar, naik 38% dibandingkan tahun sebelumnya. Kementerian Pertahanan 'Israel' melaporkan rekor sejarah ekspor pertahanan yang melampaui $14,7 miliar pada 2024.
Amran bersama sekelompok kecil aktivis melakukan aksi protes di lokasi pameran dengan membentangkan poster berisi foto anak-anak yang terbunuh oleh teknologi yang sedang dipamerkan. Menurutnya, para peserta pameran tampak terkejut dan merasa isu kejahatan perang serta "ekonomi darah" tidak memiliki kaitan dengan pekerjaan profesional mereka.
Tujuan aksi tersebut, jelas Amran, adalah untuk memecahkan konsensus diam yang menganggap pameran semacam itu sebagai peristiwa rutin dan netral. Ia menegaskan adanya tanggung jawab sosial untuk melawan normalisasi pembunuhan di Gaza dan menolak status publik para "pemanfaat perang" (war profiteers) tanpa adanya kritik. (zarahamala/arrahmah.id)
