Memuat...

PBB: 'Israel' Sengaja Bunuh Anak-Anak Gaza

Hanoum
Rabu, 24 Juni 2026 / 9 Muharam 1448 14:22
PBB: 'Israel' Sengaja Bunuh Anak-Anak Gaza
Karam Harara menggendong jenazah putrinya yang berusia 2 tahun, Sabreen, yang termasuk di antara 20 orang, sebagian besar wanita dan anak-anak, yang tewas dalam serangan udara Israel di Gaza tengah, sebelum pemakamannya di Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir al Balah, Jalur Gaza, Minggu, 19 Mei 2024. [Foto: AP/Abdel Kareem Hana]

JENEWA (Arrahmah.id) -- Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menuduh 'Israel' secara sengaja menargetkan dan membunuh anak-anak Palestina di Jalur Gaza dalam perang yang berlangsung sejak Oktober 2023.

Tuduhan tersebut tertuang dalam laporan terbaru Komisi Penyelidikan Independen Internasional PBB untuk Wilayah Palestina yang dipublikasikan menjelang sidang Dewan Hak Asasi Manusia PBB pada Senin (23/6/2026). Laporan itu menyimpulkan bahwa tindakan militer Israel terhadap anak-anak Palestina dapat dikategorikan sebagai genosida, kejahatan terhadap kemanusiaan, dan kejahatan perang.

Komisi PBB menyatakan, seperti dilansir New york Times (23/6), bahwa sejak perang pecah pada 7 Oktober 2023 hingga Oktober 2025, sedikitnya 20.179 anak Palestina tewas akibat operasi militer 'Israel' di Gaza. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 30 persen dari seluruh korban jiwa yang tercatat selama konflik berlangsung.

Menurut penyelidik PBB, penggunaan bom berdaya ledak tinggi di kawasan sipil yang padat penduduk menunjukkan pola serangan yang tidak dapat dijelaskan semata-mata sebagai dampak sampingan operasi militer.

Laporan setebal puluhan halaman itu juga menyoroti dampak blokade berkepanjangan terhadap kehidupan anak-anak Gaza. Selain korban tewas dan luka-luka, PBB mencatat meningkatnya angka malnutrisi, trauma psikologis, amputasi pada anak, serta runtuhnya sistem kesehatan dan pendidikan yang menjadi penopang kehidupan sipil.

Komisi menyebut kondisi tersebut telah merampas masa depan generasi muda Palestina dan mengancam keberlangsungan hidup mereka sebagai sebuah kelompok masyarakat.

Ketua Komisi Penyelidikan PBB, Navi Pillay, menegaskan bahwa anak-anak menjadi kelompok yang paling menderita akibat konflik tersebut.

“Membunuh, melukai, dan membuat anak-anak menderita secara sengaja bukan hanya menghancurkan kehidupan mereka saat ini, tetapi juga menghancurkan masa depan rakyat Palestina. Anak-anak adalah masa depan suatu masyarakat, dan menargetkan mereka berarti menargetkan keberlangsungan masyarakat itu sendiri,” kata Navi Pillay.

Selain di Gaza, laporan PBB juga menyoroti meningkatnya kekerasan terhadap anak-anak Palestina di Tepi Barat. Komisi menemukan adanya dugaan penyiksaan, kekerasan seksual, penahanan sewenang-wenang, serta perlakuan tidak manusiawi terhadap anak-anak yang ditahan oleh aparat keamanan Israel.

Temuan tersebut menambah daftar pelanggaran serius terhadap hak-hak anak yang sebelumnya telah didokumentasikan berbagai badan PBB.

Tuduhan terbaru ini memperkuat laporan Sekretaris Jenderal PBB yang dirilis pekan lalu. Dalam laporan mengenai Anak dan Konflik Bersenjata 2025, PBB mencatat lebih dari 9.400 pelanggaran berat terhadap anak-anak yang dikaitkan dengan pasukan Israel di wilayah Palestina, termasuk pembunuhan, luka-luka, penahanan, dan serangan terhadap fasilitas sipil.

Pemerintah 'Israel' menolak seluruh temuan tersebut dan menyebut laporan Komisi PBB sebagai dokumen yang bias serta mengabaikan serangan Hamas terhadap warga sipil Israel pada 7 Oktober 2023.

Pemerintah 'Israel' menegaskan bahwa operasi militernya ditujukan untuk melawan kelompok bersenjata Hamas dan bukan menyasar warga sipil, termasuk anak-anak. Namun, Komisi PBB menyatakan bahwa pola serangan yang ditemukan selama penyelidikan menunjukkan adanya indikasi kuat tindakan yang disengaja terhadap populasi sipil Palestina, khususnya anak-anak. (hanoum/arrahmah.id)