GAZA (Arrahmah.id) - Pelapor Khusus PBB untuk Hak Atas Air Minum, Pedro Arrojo-Agudo, menuding militer 'Israel' menggunakan air sebagai senjata perang di Jalur Gaza. Dalam wawancara dengan Al Jazeera pada Kamis (26/2/2026), Agudo menyatakan bahwa Gaza tengah menghadapi bencana kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya akibat penghancuran infrastruktur air secara sistematis.
Agudo mengungkapkan fakta-fakta kritis terkait kondisi sanitasi di Gaza pasca-gencatan senjata. Sekitar 90% stasiun desalinasi dan pemurnian air di Gaza telah hancur atau menjadi sasaran serangan langsung selama perang. Setelah empat bulan gencatan senjata berlaku, pasokan air yang masuk belum memadai. Saat ini, ketersediaan air minum hanya mencapai 10% dari jumlah yang tersedia sebelum perang.
Stasiun pemurnian yang rusak belum diperbaiki, mengakibatkan meluasnya penggunaan air yang terkontaminasi. Hal ini memicu risiko tinggi penyebaran penyakit, terutama bagi anak-anak dan lansia.
Agudo menegaskan bahwa tindakan 'Israel' ini merupakan pelanggaran nyata terhadap Hukum Humaniter Internasional. Ia sepakat dengan laporan dari Human Rights Watch dan Oxfam yang mengategorikan tindakan tersebut sebagai bentuk "pembersihan etnis" melalui penggunaan air secara sistematis sebagai alat perang melawan warga sipil.
Berdasarkan laporan yang disusun bersama Pelapor Khusus untuk Palestina, Agudo mencatat bahwa sebanyak 92% fasilitas infrastruktur di Jalur Gaza perlu dibangun kembali sepenuhnya, termasuk fasilitas air dan sanitasi. Rekonstruksi Gaza harus didasarkan pada hukum internasional dan hak rakyat Palestina untuk menentukan nasib sendiri, bukan atas logika investasi atau eksploitasi komersial.
Pelapor PBB tersebut mendesak implementasi segera dari perjanjian kemanusiaan, termasuk pembukaan seluruh pintu penyeberangan, terutama Rafah, untuk memasukkan bantuan layanan dasar dan memastikan pengoperasian kembali stasiun desalinasi air secara penuh tanpa target serangan di masa depan. (zarahamala/arrahmah.id)
