GAZA (Arrahmah.id) - Di tengah meningkatnya pelanggaran lapangan terhadap kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza, pembunuhan Panglima Brigade Al-Qassam, Izzuddin Al-Haddad, pada Jumat (15/5/2026), muncul sebagai salah satu perkembangan paling menonjol yang berpotensi membawa dampak luas melampaui dimensi militer langsung.
Al-Haddad (60) merupakan salah satu tokoh militer paling dicari oleh aparat keamanan 'Israel' selama beberapa dekade. Ia bahkan dijuluki sebagai "Sang Hantu" setelah berhasil lolos dari beberapa upaya pembunuhan sebelumnya.
Merespons eskalasi tersebut, pimpinan senior Hamas, Osama Hamdan, menegaskan bahwa pembunuhan ini merupakan upaya 'Israel' untuk mengatasi trauma peristiwa Oktober serta mencetak kemenangan moral bagi militernya yang tengah kesulitan di medan perang. Selain itu, tindakan ini dinilai sebagai tekanan agar Hamas memberikan konsesi cuma-cuma dan melucuti senjatanya dalam perundingan.
Dalam sebuah wawancara dengan Al Jazeera Mubasher, Hamdan menekankan bahwa Hamas tidak akan keluar dari jalur negosiasi, kecuali jika jelas terlihat bahwa pihak pendudukan menghancurkan proses tersebut secara total.
"Negosiasi bukanlah tujuan akhir, melainkan upaya politik yang mengiringi aksi perlawanan. Respons nyata terhadap gugurnya para pemimpin kami adalah berakhirnya pendudukan," ujar Hamdan.
Ia juga mengungkapkan adanya komunikasi yang sedang berlangsung dengan para mediator untuk menentukan sikap terhadap pelanggaran-pelanggaran ini, yang dinilai telah melampaui protokol keamanan dan kemanusiaan. Sejak Oktober lalu, serangan udara 'Israel' dilaporkan telah menewaskan lebih dari 850 warga Palestina di tengah pemblokiran obat-obatan dan peralatan medis yang masih terus berlangsung.
Melalui pernyataan resminya, Hamas mendesak para mediator dan komunitas internasional untuk bergerak menekan 'Israel' agar mematuhi poin-poin kesepakatan gencatan senjata. Hamas menilai pembunuhan Al-Haddad sebagai eskalasi berbahaya yang bertujuan merusak segala jalur ketenangan.
Perkembangan ini berjalan beriringan dengan adanya perbedaan estimasi di tingkat 'Israel' maupun internasional mengenai masa depan konfrontasi. Sebagian pihak menilai eskalasi akan tetap berada dalam batas operasi terbatas, sementara pihak lain memperingatkan potensi terseretnya situasi yang dapat mengacak kembali peta konflik di Gaza.
Sementara itu, koresponden Al Jazeera Mubasher di Washington, Amr Hassan, melaporkan bahwa belum ada pernyataan resmi dari Pemerintah Amerika Serikat (AS) terkait pembunuhan Al-Haddad. Namun, berdasarkan penilaian di kalangan politik dan media AS, peristiwa ini dilihat dalam konteks yang lebih luas dari strategi AS di Timur Tengah.
Hassan menjelaskan bahwa liputan sejumlah media AS, termasuk The New York Times, mengaitkan sosok Al-Haddad dengan peristiwa 7 Oktober, yang memengaruhi cara pandang publik AS terhadap insiden ini.
Di sisi lain, Profesor Studi Internasional di Washington, Hassan Mneimneh, menilai bahwa sikap AS didasarkan pada pandangan bahwa Hamas harus diakhiri secara politik dan militer. Oleh karena itu, setiap kesepakatan gencatan senjata ditangani dengan perspektif ini, di mana tekanan utama diarahkan kepada Hamas. Menurutnya, Washington tidak memberikan tekanan serupa kepada 'Israel' untuk memenuhi komitmennya, sehingga menciptakan kerangka politik yang tidak seimbang.
Situasi Lapangan dan Sisi Kemanusiaan
Di sektor lapangan, koresponden Al Jazeera Ghazi Al-Aloul melaporkan rincian dampak kemanusiaan yang menyertai serangan udara 'Israel' di Kota Gaza. Salah satu serangan menyebabkan kematian seorang janin berusia 8 bulan di dalam kandungan ibunya di Jalan Al-Rimal. Ayah sang bayi menyatakan bahwa serangan udara terjadi tiba-tiba saat maghrib, menyebabkan istrinya pingsan dan kehilangan calon anak mereka, sementara sang ibu kini masih dalam perawatan medis.
Sumber dari gerakan Hamas telah mengonfirmasi bahwa jenazah Al-Haddad telah dimakamkan oleh warga Palestina diiringi slogan-slogan yang mendukung perlawanan.
Al-Haddad, yang pernah memimpin Brigade Gaza, merupakan salah satu komandan paling menonjol di Brigade Al-Qassam dalam beberapa tahun terakhir. Laporan pihak 'Israel' menyebutkan bahwa peran militernya semakin meluas menyusul pembunuhan beberapa komandan baris pertama Hamas selama perang yang masih berlangsung ini. (zarahamala/arrahmah.id)
