Memuat...

Anies Baswedan: Ada Sidik Jari JK di Balik Damai Ambon, Poso, dan Aceh

Ameera
Ahad, 17 Mei 2026 / 1 Zulhijah 1447 21:01
Anies Baswedan: Ada Sidik Jari JK di Balik Damai Ambon, Poso, dan Aceh
Anies Baswedan: Ada Sidik Jari JK di Balik Damai Ambon, Poso, dan Aceh

JAKARTA (Arrahmah.id) – Mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menegaskan bahwa ketenangan yang kini dirasakan di sejumlah wilayah konflik seperti Ambon, Poso, dan Aceh tidak lepas dari kontribusi besar mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla dalam upaya perdamaian di daerah-daerah tersebut.

Pernyataan itu disampaikan Anies usai menghadiri acara Tasyakuran Milad ke-84 Jusuf Kalla di kediamannya, Jakarta Selatan, Sabtu (16/04/2026). Ia menilai JK memiliki jejak penting dalam proses rekonsiliasi konflik di Indonesia.

“Kalau kita melihat hari ini Ambon yang tenang, kita melihat Poso yang tenang, kita melihat Aceh yang tenang, di situ ada sidik jarinya Pak JK,” ujar Anies, dikutip Minggu (17/5/2026).

Menurut Anies, Jusuf Kalla merupakan salah satu tokoh bangsa yang menjadi rujukan dalam upaya membangun perdamaian dan menjaga persatuan.

Ia juga menyampaikan doa agar JK beserta keluarga senantiasa diberikan kesehatan.

“Karena itulah kita merasa bersyukur memiliki bapak bangsa yang terus jadi teladan, yang terus jadi rujukan. Kita mendoakan Pak JK, Ibu Mufidah, semuanya sehat dan bisa terus jadi penjuru bagi generasi baru,” lanjutnya.

Di sisi lain, Jusuf Kalla saat ini juga tengah menjadi sorotan publik setelah dilaporkan atas dugaan penistaan agama dan ujaran kebencian.

Laporan tersebut diajukan oleh sejumlah kelompok masyarakat, di antaranya DPP Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia serta Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII).

Laporan itu berkaitan dengan isi ceramah Ramadan yang disampaikan Jusuf Kalla di Masjid Universitas Gadjah Mada pada 5 Maret 2026.

Ceramah tersebut dinilai sebagian pihak mengandung pernyataan yang dianggap menyinggung dan berpotensi memicu kegaduhan sosial.

Menanggapi hal tersebut, Jusuf Kalla menegaskan bahwa dirinya tidak melakukan penistaan agama. Ia menyebut pernyataannya tidak berkaitan dengan ajaran atau dogma agama, melainkan dalam konteks sosial dan sejarah konflik yang pernah terjadi di Indonesia.

Hingga kini, proses laporan tersebut masih berada dalam tahap penelaahan oleh pihak terkait.

(ameera/arrahmah.id)