WASHINGTON (Arrahmah.id) - Seorang kolumnis senior Amerika Serikat, Thomas Friedman, melontarkan peringatan keras terkait situasi yang semakin memanas di Timur Tengah. Dalam tulisannya di The New York Times, ia menyerukan kepada NATO agar segera turun tangan menghadapi ancaman di Selat Hormuz.
Friedman menilai kebijakan pemerintahan Donald Trump terhadap Iran berpotensi memperburuk keadaan. Ia memperingatkan bahwa konflik yang sedang berlangsung justru bisa berujung pada menguatnya posisi Teheran serta mengguncang stabilitas kawasan Teluk dan sistem global perdagangan energi.
Ancaman Serius di Selat Hormuz
Dalam artikelnya, Friedman menggambarkan dunia saat ini berada di titik kritis, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia. Ia menuding Iran berupaya menciptakan “fakta kedaulatan baru” dengan membentuk otoritas khusus yang mengatur lalu lintas kapal dan memungut biaya.
Langkah tersebut ia sebut sebagai bentuk “pembajakan yang dilegalkan”, yang berpotensi mengancam kebebasan navigasi internasional. Menurutnya, jika dibiarkan, tindakan ini dapat menjadi preseden berbahaya bagi negara lain untuk melakukan hal serupa di jalur perdagangan global.
Ia juga menegaskan bahwa ancaman ini tidak hanya berdampak pada Amerika Serikat, tetapi juga sangat berbahaya bagi Eropa yang sangat bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk.
Kritik Pedas untuk Trump dan Netanyahu
Friedman tidak menahan diri dalam melontarkan kritik tajam terhadap Trump dan Perdana Menteri “Israel”, Benjamin Netanyahu. Ia menyebut keduanya sebagai pemimpin yang “narsistik dan ceroboh” karena membawa Amerika dan sekutunya ke dalam konflik tanpa strategi yang jelas.
Menurutnya, kedua tokoh tersebut terjebak dalam situasi yang mereka ciptakan sendiri, sementara dunia ikut menanggung konsekuensinya.
Ia juga menilai bahwa tidak adanya visi jangka panjang, termasuk rencana pascaperang, membuat situasi semakin tidak terkendali.
NATO Diminta Bertindak
Friedman mendesak NATO untuk mengambil langkah konkret dalam menjaga keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, ia mengakui bahwa hal ini tidak mudah karena hubungan yang memburuk antara Trump dan sekutu-sekutunya di Eropa.
Selama ini, Trump kerap melontarkan kritik keras terhadap negara-negara Eropa dan bahkan dianggap melemahkan solidaritas NATO dalam menghadapi Rusia, termasuk kedekatannya dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin.
Kondisi tersebut membuat banyak negara anggota NATO enggan terlibat dalam konflik baru yang dipicu oleh kebijakan Washington.
Dampak Besar bagi Negara Teluk
Friedman juga menggambarkan perang ini sebagai “bencana” bagi negara-negara Teluk. Ia menilai konflik telah mendorong hengkangnya investor, wisatawan, dan tenaga ahli dari kawasan tersebut.
Selain itu, negara-negara Teluk kini harus menanggung beban biaya pertahanan yang besar untuk menghadapi Iran, terutama setelah berkurangnya peran Amerika di kawasan.
Peringatan Keras: Semua Akan Menanggung Akibat
Di akhir tulisannya, Friedman mengingatkan bahwa meskipun sekutu Amerika mungkin merasa puas melihat kegagalan Trump dan Netanyahu, namun dampaknya akan dirasakan oleh semua pihak.
Ia menutup dengan peringatan tegas: jika Iran keluar dari krisis ini dalam posisi lebih kuat, maka dunia akan menghadapi konsekuensi besar yang tidak terhindarkan.
“Siapa yang menanam angin, akan menuai badai,” tegasnya.
(Samirmusa/arrahmah.id)
