GAZA (Arrahmah.id) - Keberhasilan operasi Banjir al Aqsha (Taufan Al-Aqsha) pada 7 Oktober 2023 ternyata didasari oleh perang intelijen tingkat tinggi dan strategi pengelabuan yang matang. Hal tersebut diungkapkan oleh Panglima Al-Qassam, Izzuddin al-Haddad, dalam kemunculan perdana sekaligus terakhirnya di media sebelum ia diklaim gugur dalam serangan udara 'Israel' di Kota Gaza pada Jum'at (15/5/2026).
Dalam wawancara khusus tersebut, Al-Haddad membeberkan dokumen rahasia, kronologi jam-jam terakhir menuju waktu nol (zero hour), serta alasan utama di balik serangan prastorik tersebut.
Sebagai bentuk serangan preventif, Operasi Taufan Al-Aqsha diluncurkan setelah intelijen Al-Qassam berhasil menyadap informasi dan dokumen rahasia mengenai rencana 'Israel' yang ingin memulai genosida skala besar di Jalur Gaza.
Berdasarkan skenario musuh yang bocor tersebut, 'Israel' menjadwalkan sebuah serangan mendadak tepat setelah berakhirnya hari-hari besar Yahudi sekitar Oktober 2023, yang akan diawali dengan bombardir udara masif untuk melumpuhkan seluruh faksi perlawanan sebelum disusul oleh operasi darat total.
Guna menggagalkan rencana maut tersebut, Al-Qassam menerapkan strategi pengelabuan yang cerdik, mereka berpura-pura "memakan umpan" dengan menerima fasilitas ekonomi serta perbaikan standar hidup yang ditawarkan 'Israel', sehingga Tel Aviv terbuai dan percaya bahwa perlawanan di Gaza telah jinak dan tidak akan merespons segala bentuk penindasan yang terjadi di Tepi Barat maupun Yerusalem.
Salah satu pencapaian terbesar Al-Qassam selama masa persiapan adalah keberhasilan sayap intelijen siber mereka dalam menembus pertahanan digital 'Israel' yang terkenal ketat. Al-Haddad mengungkapkan bahwa tim intelijen mereka berhasil meretas salah satu server utama milik Unit 8200, yang merupakan unit intelijen siber paling elit, canggih, dan rahasia di dalam struktur militer 'Israel'.
Dari aksi peretasan strategis tersebut, Al-Qassam berhasil menyita berbagai dokumen kerja internal penting milik Unit 8200. Dokumen-dokumen rahasia itu kemudian dianalisis secara mendalam oleh komando perlawanan untuk memetakan titik buta (blind spot) pada sistem pertahanan udara dan jaringan siber 'Israel', yang menjadi kunci sukses kelumpuhan total deteksi musuh saat serangan kilat diluncurkan.
Kronologi 24 Jam Menuju 'Zero Hour'
Al-Haddad membagikan garis waktu ketat di ruang komando lini belakang sebelum perintah penyerangan final diberikan.
Pergerakan dimulai sejak 1 Oktober 2023, di mana Dewan Militer Tertinggi Al-Qassam berada dalam status rapat permanen 24 jam untuk menyelaraskan rencana akhir dan menetapkan waktu serbu. Memasuki 6 Oktober 2023 atau tepat 24 jam sebelum serangan, seluruh ruang kendali taktis dihubungkan langsung dengan Pusat Komando Utama seiring dengan dimulainya mobilisasi pasukan penyerang secara rahasia.
Puncaknya pada 7 Oktober 2023 tepat pukul 06.30 pagi, zero hour resmi dimulai, Al-Haddad menyebutkan bahwa waktu persis penyerangan ini dijaga dalam lingkaran internal yang sangat sempit demi kerahasiaan mutlak, sementara poros perlawanan regional (Axis of Resistance) hanya diberi tahu garis besarnya saja.
Berkat koordinasi yang sangat presisi tersebut, ribuan pasukan elit Nukhba Al-Qassam, unit komando laut, paralayang, dan pesawat tanpa awak berhasil meruntuhkan dinding pembatas dan melumpuhkan Divisi Gaza militer 'Israel' hanya dalam hitungan jam.
Sebagai penutup, perwira militer yang dijuluki "Hantu Al-Qassam" itu menegaskan bahwa serangan 7 Oktober adalah langkah darurat yang tak terhindarkan.
Menurutnya, dunia internasional telah menutup mata terhadap penodaan intensif di Masjid Al-Aqsha, penindasan warga Tepi Barat, serta blokade sistematis yang memaksa warga Gaza "mati perlahan". Setelah 'Israel' menelan kekalahan intelijen telak hari itu, Al-Haddad menilai Tel Aviv melampiaskannya lewat genosida brutal terhadap warga sipil dengan dukungan penuh jembatan udara pasokan senjata dari Amerika Serikat. (zarahamala/arrahmah.id)
