Memuat...

Pemukim Ilegal Serang Desa di Tepi Barat, Melukai Tiga Tentara "Israel"

Hanin Mazaya
Selasa, 29 September 2026 / 18 Rabiulakhir 1448 19:38
Pemukim Ilegal Serang Desa di Tepi Barat, Melukai Tiga Tentara "Israel"
Sebuah pos terdepan pemukim "Israel" yang baru didirikan terlihat di sebuah bukit di desa Burqah, di Tepi Barat yang diduduki "Israel". (Foto: AFP)

JALUD (Arrahmah.id) - Lebih dari 100 pemukim "Israel" ekstremis Yahudi menyerang sebuah desa di bagian utara Tepi Barat yang diduduki pada Selasa dini hari, melukai tiga anggota pasukan keamanan "Israel" dan membakar dua rumah warga Palestina, menurut keterangan pihak berwenang dan penduduk setempat.

Serangan itu terjadi saat militer berupaya mengawal sebuah keluarga Palestina kembali ke rumah mereka di desa Jalud, setelah mereka sebelumnya terpaksa mengungsi akibat serangan pemukim dua bulan lalu.

Insiden pada Selasa (29/9/2026) memicu kecaman keras yang jarang terjadi dari para pejabat "Israel", sementara pihak kepolisian menyatakan telah menangkap satu orang dan membawa dua anak di bawah umur untuk dimintai keterangan, lansir AFP.

Militer "Israel" menyatakan bahwa "lebih dari 100 perusuh Israel" berada di kawasan Jalud pada malam itu saat pasukan keamanan berupaya memulangkan keluarga tersebut ke rumah mereka; militer menambahkan bahwa tentara dan pasukan polisi perbatasan telah bertindak untuk membubarkan para pemukim.

"Akibat bentrokan tersebut, tiga petugas Polisi Perbatasan 'Israel' mengalami luka ringan, dan sebuah kendaraan pasukan keamanan mengalami kerusakan," demikian bunyi pernyataan militer.

Militer menyebutkan bahwa para pemukim memblokir jalan, membakar ban, dan melempari pasukan keamanan dengan batu, serta membakar bangunan dan kendaraan milik warga Palestina di desa tersebut.

Pihak militer menambahkan bahwa serangan itu menghalangi kepulangan keluarga tersebut, yang sebelumnya telah mengungsi "menyusul beberapa insiden kejahatan bermotif nasionalis (Israel) yang menimpa mereka".

"Israel" telah menduduki Tepi Barat sejak tahun 1967; wilayah tersebut kini dihuni oleh 500.000 pemukim ilegal "Israel" di tengah populasi tiga juta warga Palestina.

Mahmoud al-Toubasi, salah satu anggota keluarga tersebut, mengatakan kepada AFP bahwa ia dan kerabatnya telah meninggalkan rumah itu lebih dari dua bulan lalu, dan rumah tersebut sempat diduduki oleh para pemukim hingga terjadinya serangan pada Selasa.

"Saya, istri, dan anak laki-laki saya pergi ke rumah itu dengan mobil, dikawal oleh kendaraan militer di depan dan satu lagi di belakang kami," ujarnya.

Para pemukim menyerang rombongan mereka begitu tiba di rumah tersebut, namun berhasil dipukul mundur oleh tentara menggunakan semprotan merica, tambahnya.

"Kami tidak mengalami luka fisik, namun kami sempat merasa sesak akibat semprotan merica tersebut," kata Toubasi.

Kepolisian "Israel" menyatakan telah menangkap satu tersangka dan membawa dua anak di bawah umur untuk dimintai keterangan.

Perdana Menteri "Israel" Benjamin Netanyahu mengecam serangan tersebut, yang ia sebut dilakukan oleh "sekelompok kecil perusuh".

Ia mengatakan, "tindakan mereka sangat merugikan komunitas tersebut dan menghambat aparat kita dalam menjalankan tugasnya."

Presiden Isaac Herzog menyatakan bahwa "aksi pembakaran, pelemparan batu, penyerangan, serta tindakan yang menyebabkan cedera pada tentara IDF dan petugas Polisi Perbatasan, adalah hal yang sangat dilarang dan sama sekali tidak dapat dibenarkan."

Kekerasan di Tepi Barat telah meningkat sejak dimulainya perang Gaza pada Oktober 2023; menurut penghitungan AFP yang didasarkan pada data Kementerian Kesehatan Palestina, setidaknya 1.111 warga Palestina—baik anggota kelompok militan maupun warga sipil—gugur di tangan tentara atau pemukim "Israel" selama periode tersebut.

Data "Israel" menunjukkan bahwa setidaknya 49 warga "Israel", termasuk warga sipil dan personel keamanan, tewas akibat serangan Palestina atau dalam operasi militer "Israel" selama periode yang sama. (haninmazaya/arrahmah.id)