Memuat...

Perekonomian Terseok Akibat Rupiah Anjlok

Oleh Irma Faryanti Pegiat Literasi
Sabtu, 30 Mei 2026 / 14 Zulhijah 1447 18:50
Perekonomian Terseok Akibat Rupiah Anjlok
Ilustrasi. (Foto: suaramuslim.net)

Rupiah masih bertahan di titik lemah, sesuatu yang membuat masyarakat cemas akan dampaknya di masa depan. Walaupun ada ungkapan dari petinggi RI nomor satu, yang awalnya bermaksud menenangkan tapi justru memicu kegaduhan. Dengan santai ia menyeru agar tidak panik, namun dengan lontaran yang menggelitik nurani dan menyakitkan hati.

Dalam pidato peresmian museum Marsinah dan rumah singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Presiden mengimbau agar masyarakat kecil di desa tidak merasa khawatir akan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Karena mereka tidak akan terdampak langsung oleh gejolak kurs dolar dengan dalih “rakyat desa tidak memakai dolar.” Ia pun merasa heran dengan isu yang berkembang bahwa Indonesia akan didera krisis, mengalami collapse dan chaos. Prabowo juga menegaskan bahwa kondisi pangan dan energi di negeri ini terhitung aman, walaupun situasi global tengah tidak menentu. (Kompas.com, 16 Mei 2026)

Pada Jumat 16 Mei lalu, kurs dolar sempat menyentuh Rp17.600, dan itu menjadi rekor paling lemah yang pernah dicapai. Hal ini dipastikan akan berdampak pada melonjaknya harga kebutuhan sehari-hari. Sebagaimana diketahui bersama, negeri ini sangat bergantung pada bahan baku impor. Berbagai industri baik kimia, tekstil, elektronik, obat-obatan, minyak, gas dan lain sebagainya, bergantung pada bahan-bahan yang diimpor. Kenaikan ini tentu berpengaruh pada harga jual yang akan dirasakan masyarakat karena pembelian saat transaksi menggunakan dolar. Lonjakan ini akan membuat produsen terpaksa menaikkan harga, mengurangi porsi produk atau bahkan memangkas keuntungan.

Sebagai contoh, bagi perajin tahu kenaikan harga kedelai dari Rp7.000 menjadi Rp.10.500 per kilogram, sangat berdampak besar dan dilematis. Jika mereka menyesuaikan harga dengan menaikannya, hal itu akan berdampak pada turunnya daya beli. Oleh karenanya, mereka lebih memilih mengurangi takaran dengan membuat tahu berukuran lebih tipis dan kecil dari biasanya. Belum lagi harga bahan penunjang lainnya yang turut merangkak dan semakin membebani produksi, membuat kesulitan yang dihadapi semakin menjadi-jadi.

Melemahnya rupiah terhadap dolar bisa disebabkan oleh dua faktor. Dari eksternal, adalah karena adanya perang AS-Israel dengan Iran. Di mana tensi konflik antara keduanya memberi pengaruh signifikan pada stabilitas ekonomi global termasuk terkait nilai tukar mata uang. Ketika situasi memanas, pasar merespons akan kekhawatiran terganggunya pasokan energi yang mengakibatkan distribusi minyak dan gas menjadi terhambat, dan harganya melonjak tinggi. Para investor pun ramai-ramai menarik modalnya dan mengalihkan ke negara lain yang lebih stabil.

Adapun penyebab secara internal adalah adanya risiko kondisi keuangan negara memburuk kedepannya. Dilihat dari sisi pemasukan, pengeluaran, cicilan utang dan uang cadangan, kondisi fiskal Indonesia dinilai mengkhawatirkan, karena memiliki pendapatan rendah sementara pengeluaran tinggi. Hal ini membuat para pemodal ragu dengan pembayaran APBN negara ini.

Inilah yang terjadi ketika sistem perekonomian merujuk pada aturan kapitalisme yang diadopsi di dunia pada saat ini. Sepanjang sejarah penerapannya, sistem ini hanya menjadi penyebab munculnya berbagai krisis. Entah itu perdagangan internasional, guncangan harga maupun ketidakstabilan politik global. Kerentanan ini tidak bisa dilepaskan dari salah satu pilar penopang ekonomi kapitalisme, yaitu uang. Selain sebagai alat tukar keberadaanya juga menjadi komoditas yang diperjualbelikan. Tinggi rendahnya nilai rupiah sangat dipengaruhi oleh jumlah permintaan dan penawaran yang terjadi di pasar uang.

Kenaikan harga uang juga sangat ditentukan oleh tingkat kepercayaan masyarakat terhadap mata uang tertentu. Dalam sistem kapitalis, seluruh mata uang bersandar pada dolar, sehingga ketika terjadi fluktuasi, dipastikan akan membawa pengaruh terhadap nilai mata uang di dalam negeri. Berbagai langkah pemulihan yang diambil oleh negara, alih-alih menyolusikan justru menimbulkan permasalahan baru. Keberadaanya hanya sekedar menjadi obat penenang yang hanya menyebabkan masalah berulang.

Adapun langkah pemerintah yang berupaya memulihkan ekonomi dengan menaikkan suku bunga dan menekan pelemahan nilai rupiah, dinilai tidak efektif. Karena hal ini bisa membuat bunga perbankan naik, sehingga menahan laju pertumbuhan ekonomi dan investasi dunia. Padahal, solusinya bukan sekadar mengoreksi nilai tukar, tapi juga melakukan koreksi sistemis terhadap sistem perekonomian kapitalis dan mengubahnya dengan sistem yang baru.

Sistem yang solutif itu hanya akan kita jumpai dalam Islam. Di mana sektor riil akan diberlakukan sehingga cakupan pelaku pasar rakyat akan lebih luas dengan barang dan jasa yang bersifat nyata. Uang pun akan difungsikan sebagai alat tukar semata, agar menutup celah bagi kegiatan judi dan spekulasi. Mata uang yang digunakan adalah dinar dan dirham, selain bertujuan agar tetap stabil, pemberlakuan keduanya juga merupakan implementasi syariat. Adapun keunggulannya adalah nilai fisik yang dimilikinya tinggi dengan nominal dan intrinsik yang setara.

Pendistribusian kekayaan pun akan terlaksana secara adil, tidak akan ada pemusatan kekayaan pada segelintir orang. Alhasil, pertumbuhan ekonomi pun akan relatif stabil. Negara juga akan menjaga stabilitas harga-harga dengan mekanisme yang telah ditetapkan syariat seperti: jaminan distribusi, pengaturan kepemilikan, larangan riba, dll. Berbagai transaksi ekonomi akan dilakukan dengan berlandaskan iman demi meraih rida Allah Swt. Sehingga iklim ekonomi yang tercipta lebih manusiawi dan jauh dari eksploitasi.

Dalam pelaksanaannya, seorang penguasa menjadi pihak yang paling bertanggungjawab. Karena ia berkewajiban menyejahterakan rakyatnya dan kelak akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah Swt. Sebagaimana sabda Rasulullah saw. dalam HR Muslim dan Ahmad:
“Imam adalah raa’in (pengurus) dan ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyat yang diurusnya.”

Negara wajib melaksanakan politik ekonomi untuk memenuhi kebutuhan pokok rakyatnya melalui sejumlah mekanisme. Misalnya dengan membuka lapangan pekerjaan yang luas, juga melakukan pendistribusian harta melalui zakat, infak dan sedekah. Sementara itu, perdagangan global akan dijalankan negara secara politik jika negara-negara yang bersangkutan terikat perjanjian dengan daulah. Motif hubungan dagang pun bukan untuk menguasai perekonomian luar negeri, melainkan sekedar mendapatkan manfaat dari pertukaran baik kebutuhan komoditas ataupun keuntungan ekonomi.

Namun, semua ini baru akan terlaksana ketika syariat Allah diterapkan dalam sebuah wadah kepemimpinan Islam, di mana Islam akan tegak sempurna dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. Sehingga terwujudnya sistem ekonomi global yang adil dan menyejahterakan, menjadi sesuatu yang niscaya bukan sekedar wacana. Wallahu a'lam bis shawwab

Editor: Hanin Mazaya