DHAKA (Arrahmah.id) -- Presiden Bangladesh Mohammed Shahabuddin dilaporkan akan mengundurkan diri pada Jumat (24/7/2026), di tengah meningkatnya tekanan politik menyusul rencana mantan Perdana Menteri Sheikh Hasina untuk kembali ke Bangladesh dari pengasingannya.
Dilansir Reuters (23/7), pengunduran diri Shahabuddin dinilai sebagai perkembangan politik besar yang berpotensi mengubah peta kekuasaan negara Asia Selatan tersebut menjelang kembalinya tokoh yang pernah mendominasi politik Bangladesh selama lebih dari satu dekade.
Menurut sejumlah sumber yang dikutip Reuters, keputusan Shahabuddin diambil setelah pemerintah dan kelompok-kelompok politik meningkatkan tekanan terhadap presiden yang dianggap memiliki kedekatan dengan Sheikh Hasina dan partai Awami League. Shahabuddin, yang menjabat sejak 2023, merupakan salah satu sekutu politik Hasina sebelum mantan perdana menteri itu digulingkan dalam gelombang protes besar pada 2024.
Krisis politik terbaru ini dipicu oleh pengumuman Sheikh Hasina beberapa hari lalu yang menyatakan niatnya untuk kembali ke Bangladesh dan menyerahkan diri kepada otoritas setempat meskipun telah dijatuhi hukuman mati secara in absentia oleh pengadilan kejahatan internasional Bangladesh.
Hasina divonis atas tuduhan memerintahkan tindakan keras terhadap demonstrasi mahasiswa pada 2024 yang menewaskan sekitar 1.400 orang. Hasina membantah seluruh tuduhan tersebut.
Juru bicara Presiden Shahabuddin mengonfirmasi kepada Reuters bahwa pengunduran diri akan dilakukan pada Jumat, sebelum masa jabatan lima tahunnya berakhir. Dengan mundurnya Shahabuddin, Ketua Parlemen Hafiz Uddin Ahmad diperkirakan akan menjalankan tugas sebagai presiden sementara sampai mekanisme penggantian resmi dilaksanakan.
Dalam wawancara sebelumnya dengan Reuters, Sheikh Hasina menegaskan bahwa dirinya tetap berencana kembali ke Bangladesh meskipun menghadapi ancaman penjara atau bahkan hukuman mati.
"Saya akan kembali ke negara saya dan menghadapi proses hukum. Saya tidak melarikan diri dari rakyat Bangladesh," kata Sheikh Hasina.
Sejak tergulingnya pemerintahan Hasina pada Agustus 2024, Bangladesh mengalami perubahan politik besar. Pemerintahan baru yang dipimpin Perdana Menteri Tarique Rahman berupaya menjauhkan diri dari pengaruh Awami League, sementara banyak tokoh partai tersebut menghadapi proses hukum, ditahan, atau hidup dalam persembunyian.
Laporan Reuters menyebut meningkatnya tekanan terhadap Shahabuddin tidak lepas dari persepsi bahwa ia masih menjadi simbol pengaruh politik Awami League di lembaga negara. Sejumlah kelompok politik dan aktivis menilai posisinya menjadi tidak lagi sejalan dengan arah pemerintahan pasca-Hasina.
Perkembangan ini terjadi ketika suasana politik Bangladesh kembali memanas menjelang rencana kepulangan Hasina bersama sejumlah mantan petinggi partainya. Pemerintah Bangladesh juga terus memburu sejumlah mantan pejabat era Hasina yang berada di luar negeri, termasuk mengajukan permintaan ekstradisi terhadap beberapa mantan menteri.
Dengan mundurnya presiden dan semakin dekatnya kepulangan Sheikh Hasina, Bangladesh kini menghadapi salah satu momen politik paling krusial sejak pergantian kekuasaan pada 2024. Banyak pihak menilai beberapa pekan ke depan akan menentukan arah stabilitas politik negara berpenduduk lebih dari 170 juta jiwa tersebut. (hanoum/arrahmah.id)
