Memuat...

Presiden Niger Menghilang Usai Upaya Kudeta, Militer Klaim Situasi Berhasil Dikendalikan

Samir Musa
Ahad, 30 Agustus 2026 / 18 Rabiulawal 1448 23:05
Presiden Niger Menghilang Usai Upaya Kudeta, Militer Klaim Situasi Berhasil Dikendalikan
Aplikasi perpesanan beredar rekaman suara yang dikaitkan dengan kelompok yang menamakan diri “Angkatan Bersenjata untuk Pemulihan Tanah Air”, yang menyatakan bahwa Tiani tidak lagi menjabat sebagai presiden. (Reuters)

NIAMEY (Arrahmah.id) — Keberadaan Presiden Niger Jenderal Omar Abdurrahman Tiani masih belum diketahui setelah upaya pemberontakan atau kudeta terjadi di ibu kota Niamey pada Sabtu (29/8/2026) dini hari.

Tiani belum tampil di hadapan publik maupun mengeluarkan pernyataan sejak insiden tersebut. Associated Press (AP) melaporkan bahwa keberadaan sang presiden masih belum diketahui hingga laporan mereka diterbitkan.

Foto yang beredar memperlihatkan apa yang disebut sebagai penyerahan diri para tentara pemberontak di Niger (media sosial).

Sementara itu, Menteri Pertahanan Niger Jenderal Salifou Mody menyatakan melalui siaran televisi pemerintah bahwa situasi telah berhasil dikendalikan.

Di tengah tidak adanya pernyataan langsung dari Tiani, rekaman suara yang dikaitkan dengan kelompok yang menyebut dirinya "Angkatan Bersenjata untuk Pemulihan Tanah Air" beredar melalui aplikasi perpesanan.

Dalam rekaman tersebut, kelompok itu mengklaim bahwa Tiani "tidak lagi menjadi presiden Niger" serta mengumumkan pembubaran konstitusi dan lembaga-lembaga pemerintahan transisi.

Namun, media Prancis L'Exclusive menyebut keaslian rekaman tersebut belum dapat diverifikasi. Pemerintah Niger juga belum mengonfirmasi isi rekaman tersebut.

Bandara dan pusat pemerintahan sempat diperebutkan

Menurut laporan Agence France-Presse (AFP), pasukan pengawal presiden berhasil menggagalkan upaya memasuki istana kepresidenan dan kemudian merebut kembali kendali atas pangkalan udara dengan bantuan pasukan Rusia.

Financial Times, mengutip seorang sumber, melaporkan bahwa para pemberontak sempat menguasai bandara, sejumlah drone Turki yang berada di sana, serta stasiun televisi dan radio nasional.

Namun, seorang diplomat mengatakan kepada media tersebut bahwa pemerintah kemudian berhasil memulihkan kendali atas pusat Kota Niamey.

Pada Ahad (30/8), Badan Penerbangan Sipil Nasional Niger menyatakan aktivitas di Bandara Internasional Diori Hamani, Niamey, kembali berlangsung normal setelah insiden keamanan yang terjadi pada Sabtu malam.

Direktur jenderalnya, Hamadou Ousseini Ibrahim, meminta seluruh pihak yang bertugas di bandara memastikan kesinambungan pelayanan.

Pernyataan tersebut dikutip kantor berita China Xinhua.

Sementara itu, Aliansi Negara-Negara Sahel yang terdiri atas Niger, Mali, dan Burkina Faso menyatakan tetap memberikan dukungan penuh kepada Niger setelah upaya yang mereka sebut sebagai "upaya destabilisasi" berhasil digagalkan.

Dewan Nasional untuk Perlindungan Tanah Air (CNSP), pemerintahan militer yang berkuasa di Niamey, juga menyerukan kepada masyarakat agar tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi di media sosial.

Bentrokan berlangsung selama beberapa jam

Kementerian Pertahanan Niger sebelumnya mengatakan sekelompok tentara yang disebut "melanggar aturan militer" berusaha menahan sejumlah rekan mereka di Barak Pangkalan Udara 101 di Niamey.

Kelompok tersebut kemudian dilaporkan melepaskan tembakan ke sejumlah lokasi strategis di ibu kota.

Kementerian Pertahanan mengatakan intervensi cepat pasukan pertahanan dan keamanan berhasil mengendalikan upaya pemberontakan dan secara bertahap merebut kembali lokasi-lokasi tersebut.

Pertempuran berlangsung selama beberapa jam. Bentrokan paling sengit terjadi di sekitar Pangkalan Udara 101 yang berdekatan dengan bandara, serta di sekitar istana kepresidenan.

Reuters melaporkan televisi dan radio nasional sempat berhenti mengudara sekitar pukul 08.00 waktu setempat. AFP kemudian melaporkan siaran televisi kembali sekitar pukul 10.00 setelah terhenti selama lebih dari satu jam.

Istana kepresidenan juga dilaporkan telah diamankan oleh pasukan yang loyal kepada pemerintah. Namun, kondisi di sekitar bandara sempat masih diperebutkan.

Televisi nasional RTN menyatakan puluhan tentara pemberontak tewas atau ditangkap. Namun, AP mengatakan jumlah tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Hingga kini, pemerintah Niger belum merilis jumlah resmi korban.

Foto-foto yang beredar disebut memperlihatkan penyerahan diri para pemberontak di Niger (media sosial).

Siapa yang berada di balik pemberontakan?

Reuters, mengutip seorang sumber keamanan Niger dan peneliti senior International Conflict Studies Centre di Bonn, Ivan Geshawa, melaporkan bahwa serangan tersebut melibatkan tentara dari wilayah Ouallam, Téra, dan Dosso di barat daya Niger.

Unit-unit tersebut sebelumnya mengalami kerugian besar dalam pertempuran melawan cabang kelompok ISIS di kawasan Sahel.

Pemerintah Niger menyebut insiden tersebut sebagai "pemberontakan". Namun, majalah Jeune Afrique menyebutnya sebagai upaya kudeta yang dipimpin oleh sejumlah perwira muda.

Duta Besar Rusia untuk Niger Viktor Voropaev mengatakan sejumlah perwira muda terlibat dalam pemberontakan tersebut. Menurutnya, komando Pangkalan Udara 101 meminta bantuan militer Rusia.

Kantor berita Rusia TASS juga melaporkan bahwa Kepala Staf Angkatan Darat Niger, Kepala Staf Angkatan Darat Lapangan, dan Komandan Pangkalan 101 mengunjungi pangkalan Africa Corps, pasukan yang berada di bawah Kementerian Pertahanan Rusia, untuk menyampaikan terima kasih atas bantuan dalam menggagalkan pemberontakan.

AP, mengutip sejumlah diplomat dan analis, melaporkan bahwa Africa Corps memberikan dukungan udara dan darat kepada pasukan Niger.

Sebelum serangan ini, Bandara Internasional Diori Hamani di Niamey telah diserang dua kali lainnya sepanjang tahun ini (Getty Images). 

Mengapa Pangkalan Udara 101 menjadi sasaran?

Pangkalan Udara 101 berada di dalam kompleks Bandara Internasional Diori Hamani, sekitar 10 kilometer dari pusat Kota Niamey.

Menurut badan berita Fides, pangkalan tersebut sebelumnya menjadi lokasi operasi drone Amerika Serikat hingga pasukan AS meninggalkan Niger pada Juli 2024.

Bagian militer pangkalan kemudian dilengkapi kembali untuk menampung drone-drone Turki modern dan menjadi pusat komando pasukan gabungan negara-negara Aliansi Sahel.

Sejumlah personel militer Rusia yang mendukung pemerintahan militer Niger juga ditempatkan di lokasi tersebut.

Kompleks bandara tersebut juga dilaporkan menyimpan sekitar 1.000 ton uranium oksida terkonsentrasi atau "yellowcake" yang berasal dari tambang Arlit.

Uranium tersebut menjadi bagian dari sengketa setelah disita dari perusahaan Prancis Orano dan masih tertahan di lokasi.

Pangkalan dan bandara tersebut sebelumnya juga menjadi sasaran serangan.

Pada Januari 2026, serangan terhadap bandara diklaim oleh cabang ISIS di Sahel. Sementara serangan lain pada Juni diklaim oleh Jama'at Nusrat al-Islam wal-Muslimin (JNIM).

Peneliti ACLED, Héni Nsaibia, mengatakan kepada Fides bahwa serangan semacam itu kini menjadi "hal yang biasa" dan berpotensi semakin memperburuk ketegangan di tubuh militer Niger.

(Samirmusa/arrahmah.id)