HOMS (Arrahmah.id) - Produksi zaitun di provinsi Homs, Suriah bagian tengah, diperkirakan mencapai sekitar 85.000 ton pada musim ini—naik dari sekitar 59.000 ton tahun lalu—berkat peningkatan curah hujan dan kondisi cuaca yang mendukung pertumbuhan tanaman, demikian disampaikan oleh Direktorat Pertanian provinsi setempat.
Kegiatan panen dijadwalkan dimulai pada 10 Oktober, sementara pihak berwenang sedang memeriksa 55 fasilitas penggilingan zaitun di seluruh provinsi untuk memastikan kepatuhan terhadap persyaratan teknis dan operasional, ujar Munira al-Ali, kepala Departemen Kantor Khusus direktorat tersebut, kepada kantor berita SANA pada Jumat (25/9/2026), seperti dilansir SANA.
Al-Ali mengimbau para petani untuk menunggu hingga buah zaitun mencapai tingkat kematangan yang tepat sebelum dipanen, seraya menjelaskan bahwa kualitas minyak akan lebih baik jika sekitar 60 persen buah telah berubah warna menjadi ungu atau hitam.
Para petani disarankan untuk melakukan pemanenan secara manual jika memungkinkan, memisahkan buah yang jatuh dari buah yang utuh, serta mengangkut hasil panen menggunakan peti plastik. Buah zaitun sebaiknya segera digiling dalam waktu 72 jam setelah dipanen, tambahnya.
Sejauh ini, direktorat tersebut belum mencatat adanya serangan hama atau penyakit yang mencapai tingkat signifikan secara ekonomi. Tim lapangan terus memantau kebun zaitun menggunakan perangkap feromon dan umpan makanan, khususnya untuk memantau lalat buah zaitun dan ngengat zaitun.
Al-Ali menyatakan bahwa prospek produksi yang lebih baik ini terutama disebabkan oleh peningkatan curah hujan dan kondisi cuaca yang lebih mendukung dibandingkan musim lalu, ketika kekeringan dan kondisi yang kurang menguntungkan berdampak negatif pada tanaman.
Budidaya zaitun di Homs terkonsentrasi di beberapa wilayah, termasuk Talkalakh, al-Mukharram, Taldo, al-Qusayr, dan al-Rastan. (haninmazaya/arrahmah.id)
