Kedua: Memperbaiki Jiwa
Pengetahuan manusia tentang jiwa tidak pernah tuntas karena hanya mengandalkan observasi melalui pancaindra. Sementara Sang Pencipta tentu lebih mengetahui hakikat jiwa manusia. Allah berfirman:
وَنَفْسٍ وَّمَا سَوّٰىهَا ﴿٧﴾ فَاَلْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰىهَا ﴿٨﴾ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَا ﴿٩﴾ وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَا ﴿١٠﴾
“Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”
(QS. Asy-Syams: 7–10)
Ada tiga kategori jiwa:
Pertama: Jiwa yang cenderung kepada kejahatan
وَمَآ اُبَرِّئُ نَفْسِيْۚ اِنَّ النَّفْسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوْۤءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّيْۗ اِنَّ رَبِّيْ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
“Dan aku tidak menyatakan diriku bebas dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Yusuf: 53)
Kedua: Jiwa yang labil
وَلَآ اُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ
“Aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya.”
(QS. Al-Qiyamah: 2)
Ketiga: Jiwa yang tenang
يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُ ﴿٢٧﴾ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ﴿٢٨﴾ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْ ﴿٢٩﴾ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ ﴿٣٠﴾
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku dan masuklah ke dalam surga-Ku.”
(QS. Al-Fajr: 27–30)
Ketiga: Mencerdaskan Akal
Pola pendidikan selanjutnya adalah mencerdaskan akal. Pendidikan akal harus dimulai dengan menanamkan Al-Qur'an dan As-Sunnah agar lahir generasi seperti para sahabat.
لَقَدْ مَنَّ اللّٰهُ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ اِذْ بَعَثَ فِيْهِمْ رَسُوْلًا مِّنْ اَنْفُسِهِمْ يَتْلُوْا عَلَيْهِمْ اٰيٰتِهٖ وَيُزَكِّيْهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتٰبَ وَالْحِكْمَةَۚ وَاِنْ كَانُوْا مِنْ قَبْلُ لَفِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ
“Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika Dia mengutus seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri yang membacakan ayat-ayat-Nya, menyucikan jiwa mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, meskipun sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
(QS. Ali ‘Imran: 164)
Pola pendidikan Qur'ani ini disebut oleh Al-Qur'an sebagai pendidikan rabbani, yang melahirkan generasi rabbani.
مَا كَانَ لِبَشَرٍ اَنْ يُّؤْتِيَهُ اللّٰهُ الْكِتٰبَ وَالْحُكْمَ وَالنُّبُوَّةَ ثُمَّ يَقُوْلَ لِلنَّاسِ كُوْنُوْا عِبَادًا لِّيْ مِنْ دُوْنِ اللّٰهِ وَلٰكِنْ كُوْنُوْا رَبَّانِيّٖنَ بِمَا كُنْتُمْ تُعَلِّمُوْنَ الْكِتٰبَ وَبِمَا كُنْتُمْ تَدْرُسُوْنَ
“Tidak mungkin bagi seseorang yang telah diberi kitab oleh Allah serta hikmah dan kenabian, kemudian dia berkata kepada manusia: ‘Jadilah kamu penyembahku, bukan penyembah Allah.’ Tetapi (dia berkata): ‘Jadilah kamu pengabdi-pengabdi Allah karena kamu mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya.’”
(QS. Ali ‘Imran: 79)
Ibnu Abbas menjelaskan bahwa generasi rabbani memiliki tiga kriteria:
- Pertama: ‘Ulama, yaitu orang yang menguasai ilmu agama dan ilmu dunia.
- Kedua: Hukama, yaitu memiliki kebijaksanaan dalam berbicara dan bertindak.
- Ketiga: Hulama, yaitu bersikap santun dan berakhlak mulia.
Subhanallah.
Kita merindukan lahirnya generasi ideal seperti itu. Generasi tersebut tidak akan muncul tanpa persiapan yang serius. Terlebih di bulan Ramadhan yang penuh keberkahan ini, kita perlu menemukan kembali jati diri umat untuk membangun masa depan umat dan bangsa.
Semoga kita dapat menjadi pelopor perubahan menuju kejayaan, keadilan, dan keharmonisan dengan kembali kepada konsep ilahi.
Wallahu a’lam.
(*/arrahmah.id)
