Memuat...

Puasa dan Shalat

Oleh Ustadz Farid OkbahDa'i dan Ulama Nasional
Jumat, 20 Februari 2026 / 3 Ramadan 1447 05:44
Puasa dan Shalat
Puasa dan Shalat

(Arrahmah id) - Puasa disebut oleh Allah sebagai amalan umat-umat terdahulu. Maka bagi umat Nabi Muhammad ﷺ tidak ada keberatan dalam menjalankannya. Ini menunjukkan bahwa puasa adalah syariat yang bersifat universal. Demikian pula dengan shalat.

Allah Ta’ala berfirman:

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

“Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan salat dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.”
(QS. Al-Anbiya, 21: 73)

Nabi ﷺ pernah ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

أَيَّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؟ قَالَ: «الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ». قُلْتُ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: «ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللهِ». قَالَ: حَدَّثَنِي بِهِنَّ، وَلَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزَادَنِي.

“Amalan apakah yang paling dicintai oleh Allah?”
Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.”

Saya bertanya lagi, “Lalu apa lagi?”
Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.”

Saya bertanya kembali, “Kemudian apa lagi?”
Beliau menjawab, “Kemudian berjihad di jalan Allah.”

Ibnu Mas’ud berkata, “Beliau menyebutkan perkara tersebut. Seandainya aku meminta tambahan, tentu beliau akan menambahkannya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu apa artinya puasa jika tidak shalat? Karena meninggalkan shalat dengan sengaja adalah tanda kekufuran.

«بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلَاةِ»

“Perbedaan antara seorang muslim dengan kesyirikan dan kekufuran adalah meninggalkan shalat.”
(HR. Muslim)

Orang beriman diperintahkan agar shalatnya khusyuk:

الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ

“(Yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.”
(QS. Al-Mukminun, 23: 2)

Dan juga menjaga konsistensinya, tidak bolong-bolong:

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ

“Serta orang-orang yang memelihara salatnya.”
(QS. Al-Mukminun, 23: 9)

Terlebih lagi menjaga shalat Subuh dan Ashar:

أَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

“Laksanakanlah salat sejak matahari tergelincir sampai gelapnya malam dan (laksanakan pula salat) Subuh. Sungguh, salat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat).”
(QS. Al-Isra’, 17: 78)

حَافِظُوا عَلَى الصَّلَوَاتِ وَالصَّلَاةِ الْوُسْطَىٰ وَقُومُوا لِلَّهِ قَانِتِينَ

“Peliharalah semua salat dan salat wustha (Ashar). Dan laksanakanlah (salat) karena Allah dengan khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah, 2: 238)

Dua waktu shalat ini dihadiri oleh malaikat yang silih berganti menjaga manusia. Nabi ﷺ bersabda:

«يَتَعَاقَبُونَ فِيكُمْ مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الفَجْرِ وَصَلَاةِ العَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَيَقُولُونَ: تَرَكْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ، وَأَتَيْنَاهُمْ وَهُمْ يُصَلُّونَ»

“Para malaikat di malam dan siang hari silih berganti mengawasi kalian. Mereka berkumpul pada saat shalat Subuh dan shalat Ashar. Kemudian malaikat yang bermalam bersama kalian naik ke langit. Allah bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui keadaan hamba-hamba-Nya, ‘Dalam keadaan bagaimana kalian meninggalkan hamba-hamba-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Kami meninggalkan mereka dalam keadaan shalat dan mendatangi mereka dalam keadaan shalat.’”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu berpesan:

“Shalatlah di tengah malam sebagai persiapan menghadapi gelapnya kubur. Berpuasalah pada hari yang sangat panas untuk menghadapi panasnya padang mahsyar. Bersedekahlah agar terhindar dari kesulitan di akhirat.”

Sebagian ulama salaf juga mengatakan:

“Shalatmu akan menghantarkanmu setengah perjalanan menuju surga, puasamu akan menghantarkanmu ke depan pintu surga, dan sedekahmu akan memasukkanmu ke dalam surga.”

Jangan sampai kita meninggalkan shalat dalam keadaan apa pun, kecuali ada uzur syar’i. Jagalah shalat. Terlebih bagi lelaki, shalat berjamaah di masjid bernilai 27 derajat lebih tinggi. Apalagi dalam suasana Ramadhan, pahala dilipatgandakan tanpa batas.

Betapa indah keserasian antara puasa dan shalat.

Mari kita siapkan bekal terbaik untuk perjalanan pulang menuju kampung akhirat. Kita boleh mudik ke kampung halaman, tetapi suatu keniscayaan kita akan kembali kepada Allah untuk mempertanggungjawabkan kehidupan kita di dunia.

Semoga kita semua termasuk orang-orang yang selamat di akhirat kelak. Aamiin.

(*/arrahmah.id)

Editor: Samir Musa