Memuat...

Representasi Muslim dan Pluralisme Politik Amerika dalam Perspektif Antropologis Mahmood Mamdani

Oleh Dr. Al Chaidar Abdurrahman PutehDepartemen Antropologi, Universitas Malikussaleh, Lhokseumawe, Aceh
Rabu, 12 Agustus 2026 / 29 Safar 1448 15:29
Representasi Muslim dan Pluralisme Politik Amerika dalam Perspektif Antropologis Mahmood Mamdani
Ilustrasi Zohran Mamdani (kiri) dan Abdul El-Sayed (kanan), dua tokoh Muslim yang menjadi simbol meningkatnya representasi politik Muslim di Amerika Serikat.

Representasi Muslim dalam Politik Amerika

Representasi Muslim dalam politik Amerika Serikat semakin menonjol dengan munculnya tokoh-tokoh seperti Zohran Mamdani dan Abdul El-Sayed. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan kelompok minoritas menembus sistem demokrasi Amerika, tetapi juga membuka kembali perdebatan mengenai pluralisme politik, identitas, dan demokrasi inklusif.

Zohran Mamdani mencetak sejarah sebagai Wali Kota New York pertama yang beragama Islam. Sebelumnya ia dikenal sebagai anggota legislatif progresif di Negara Bagian New York. Kemenangannya menandai meningkatnya representasi Muslim di salah satu kota paling berpengaruh di dunia.

Sementara itu, Abdul El-Sayed, dokter dan epidemiolog berusia 41 tahun keturunan Mesir, memenangkan pemilihan pendahuluan (primary) Partai Demokrat di Michigan pada 4 Agustus 2026. Mantan Direktur Kesehatan Masyarakat Detroit tersebut unggul tipis atas Haley Stevens dengan dukungan tokoh progresif seperti Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez. Ia mengusung agenda Medicare for All, reformasi pembiayaan politik, serta kritik terhadap kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang memberikan dukungan tanpa syarat kepada Israel.

Apabila berhasil memenangkan pemilihan sela pada November 2026, El-Sayed akan menjadi senator Muslim pertama dalam sejarah Amerika Serikat. Bersama Zohran Mamdani, kemunculan El-Sayed menunjukkan bahwa komunitas Muslim mulai memiliki pengaruh yang semakin nyata dalam politik nasional Amerika. Fenomena ini juga menandai pergeseran politik dari dominasi elite tradisional menuju keterwakilan kelompok-kelompok minoritas dengan agenda progresif.

Perspektif Mahmood Mamdani

Untuk memahami perkembangan tersebut, perspektif antropologis Mahmood Mamdani menjadi sangat relevan, terutama melalui konsep politics of identity dan dikotomi good Muslim versus bad Muslim.

Dalam bukunya Good Muslim, Bad Muslim (2004), Mamdani menjelaskan bahwa identitas Muslim di Barat sering kali dikonstruksi secara politis. Muslim yang dianggap menerima nilai-nilai liberal diposisikan sebagai "Muslim baik", sedangkan mereka yang bersikap kritis terhadap kebijakan Barat sering diasosiasikan dengan radikalisme atau terorisme.

Dalam konteks politik Amerika, kemenangan tokoh Muslim progresif justru menantang dikotomi tersebut. Abdul El-Sayed membawa agenda reformasi kesehatan, demokrasi, dan keadilan sosial sehingga dipandang sebagai representasi Muslim yang dapat diterima oleh kalangan liberal. Namun, pada saat yang sama, ia tetap menjadi sasaran tuduhan radikalisme dan ekstremisme, menunjukkan bahwa konstruksi "Muslim buruk" masih terus digunakan sebagai instrumen politik.

Kampanye Digital dan Politik Identitas

Segera setelah memenangkan pemilihan pendahuluan, Abdul El-Sayed menjadi sasaran kampanye digital yang terkoordinasi. Frasa "Insya Allah" yang ia ucapkan dalam pidato kemenangannya dipelintir menjadi narasi mengenai "Islamic takeover" atau pengambilalihan Amerika oleh Islam.

Akun-akun konservatif seperti Benny Johnson menyebarkan narasi bahwa kemenangan El-Sayed merupakan ancaman bagi Amerika Serikat. Klaim seperti "Sharia is coming to America" dan "Islamic invasion of Michigan" beredar luas tanpa bukti. Kota Hamtramck bahkan disebut sebagai "kota yang diduduki Muslim".

Video lama El-Sayed pada 2025 mengenai strategi politik dipublikasikan kembali seolah-olah merupakan pidato kemenangan untuk membangun citra bahwa dirinya seorang radikal.

Berbagai tuduhan lain juga bermunculan, mulai dari klaim bahwa El-Sayed menerima dukungan Ikhwanul Muslimin hingga tuduhan memiliki simpati terhadap kelompok teroris. Senator Ted Cruz mengaitkannya dengan jaringan Islam politik, sementara American Jewish Committee (AJC), Yoseph Haddad, serta akun Stop Antisemitism turut menyampaikan kritik terhadap pencalonannya.

Presiden Donald Trump bahkan menyebut El-Sayed sebagai "orang yang dipenuhi kebencian" dan mengaitkan kemenangannya dengan meningkatnya kriminalitas.

Seiring waktu, narasi yang semula berkembang di media sosial kemudian diadopsi menjadi bagian dari pesan resmi Partai Republik.

Respons Abdul El-Sayed

Menanggapi berbagai tuduhan tersebut, Abdul El-Sayed menegaskan bahwa nama lengkapnya adalah Abdul Rahman El-Sayed dan menolak seluruh tuduhan antisemitisme.

Menurutnya, mendukung hak-hak rakyat Palestina justru merupakan bentuk pembelaan terhadap bangsa Semit, termasuk masyarakat Palestina sendiri. Dalam wawancara dengan Fox News, El-Sayed juga menegaskan bahwa keselamatan warga Yahudi sama pentingnya dengan keselamatan keluarganya sendiri.

Ia menekankan bahwa fokus kampanyenya tetap berada pada isu-isu domestik seperti pendidikan, layanan kesehatan, lapangan pekerjaan, dan kesejahteraan masyarakat Amerika.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana identitas keagamaan seorang Muslim masih kerap dijadikan senjata politik dalam kompetisi elektoral di Amerika Serikat.

Duel Senat Michigan

Persaingan menuju Senat Amerika di Michigan semakin memanas ketika Wakil Presiden JD Vance menyebut Abdul El-Sayed sebagai sosok yang "gila" dan "aneh" dalam wawancara di Fox News.

Menurut Vance, El-Sayed tidak layak mewakili Michigan karena menentang kebijakan Donald Trump yang dinilai berhasil menyelamatkan industri otomotif negara bagian tersebut. Ia juga menuduh El-Sayed hendak menaikkan pajak demi mendanai kelompok kepentingan Partai Demokrat.

Selain itu, Vance menyebut El-Sayed sebagai sosialis elit yang didukung oleh kelompok liberal kulit putih kaya serta mengusung kebijakan redistribusi yang dianggap merugikan kelas pekerja.

Sementara itu, El-Sayed tetap mengusung agenda Medicare for All, reformasi pembiayaan kampanye politik, dan penghentian bantuan militer tanpa syarat kepada Israel.

Basis dukungannya berasal dari komunitas Arab-Amerika, pemilih muda, serta kelompok progresif yang dipimpin Bernie Sanders dan Alexandria Ocasio-Cortez. Tantangan utamanya datang dari kelompok lobi pro-Israel seperti AIPAC serta Partai Republik.

Peta Pertarungan Senat Michigan

Tokoh Partai Strategi Utama Narasi Publik
Abdul El-Sayed Demokrat Medicare for All, reformasi politik, isu Palestina Progresif, minoritas, anti-elite
Mike Rogers Republik Industri otomotif, keamanan nasional, dukungan Trump Stabilitas, konservatif, pro-industri
JD Vance Republik Serangan personal dan framing "radikal" Islamofobia, elit progresif, ancaman ekonomi

Michigan sebagai swing state menjadikan kontestasi ini berpotensi menentukan keseimbangan kekuatan di Senat Amerika Serikat. El-Sayed menghadapi serangan berbasis Islamofobia, sementara Partai Demokrat menekankan pentingnya representasi kelompok minoritas dalam demokrasi Amerika.

Pluralisme Politik dan Demokrasi Inklusif

Dalam Citizen and Subject (1996), Mahmood Mamdani menjelaskan bahwa kolonialisme membentuk politik identitas melalui pembagian masyarakat ke dalam kategori "modern" dan "tradisional". Analogi tersebut dapat diterapkan pada Amerika Serikat, di mana Muslim sering dipandang sebagai kelompok "asing" atau "tradisional", meskipun mereka merupakan warga negara yang memiliki hak politik penuh.

Representasi Muslim di Senat maupun jabatan eksekutif kota besar seperti New York merupakan bentuk dekonstruksi terhadap konstruksi identitas kolonial tersebut.

Pluralisme politik semakin diperkuat melalui terbentuknya koalisi multikultural antara Muslim, komunitas Afrika-Amerika, Latino, serta kelompok progresif kulit putih. Kehadiran Muslim juga memperkaya perspektif dalam kebijakan luar negeri, khususnya mengenai Palestina dan Timur Tengah.

Partisipasi politik Muslim memperluas legitimasi demokrasi Amerika dengan menunjukkan bahwa demokrasi bukan monopoli kelompok mayoritas.

Namun demikian, pluralisme politik tetap menghadapi berbagai hambatan, antara lain:

  • Islamofobia yang masih mengakar dalam masyarakat dan politik Amerika.
  • Polarisasi politik yang menjadikan identitas agama sebagai alat kampanye.
  • Keterbatasan representasi Muslim di tingkat pemerintahan nasional.

Tuduhan radikalisme dan terorisme masih terus digunakan untuk melemahkan legitimasi politik tokoh-tokoh Muslim, sementara sebagian politisi Partai Republik memanfaatkan identitas Islam untuk mengonsolidasikan basis pemilih konservatif.

Penutup

Dalam perspektif Mahmood Mamdani, meningkatnya representasi Muslim dalam politik Amerika menunjukkan bahwa demokrasi memiliki kemampuan untuk menantang konstruksi identitas yang eksklusif.

Kehadiran tokoh seperti Zohran Mamdani dan Abdul El-Sayed memperkuat pluralisme politik, membuka ruang partisipasi bagi kelompok minoritas, serta menegaskan bahwa demokrasi yang sehat adalah demokrasi yang inklusif.

Namun, keberhasilan tersebut tetap bergantung pada kemampuan membangun koalisi lintas identitas sekaligus melawan narasi Islamofobia yang masih menjadi instrumen dalam kompetisi politik Amerika Serikat.

Bibliografi

  • Bayoumi, Moustafa. How Does It Feel to Be a Problem? Being Young and Arab in America. New York: Penguin Press, 2008.
  • Cainkar, Louise. Homeland Insecurity: The Arab American and Muslim American Experience after 9/11. New York: Russell Sage Foundation, 2009.
  • Cesari, Jocelyne. Why the West Fears Islam: An Exploration of Muslims in Liberal Democracies. New York: Palgrave Macmillan, 2013.
  • El-Sayed, Abdul. Healing Politics: A Doctor's Journey into the Heart of Our Political Epidemic. New York: Abrams Press, 2018.
  • Mamdani, Mahmood. Citizen and Subject: Contemporary Africa and the Legacy of Late Colonialism. Princeton: Princeton University Press, 1996.
  • Mamdani, Mahmood. Good Muslim, Bad Muslim: America, the Cold War, and the Roots of Terror. New York: Pantheon Books, 2004.
  • Peek, Lori. Behind the Backlash: Muslim Americans after 9/11. Philadelphia: Temple University Press, 2011.

(*/samirmusa)