AL-QUDS (Arrahmah.id) – Ribuan pemukim Yahudi kembali menyerbu kompleks Masjid Al-Aqsha pada Kamis (24/7), di bawah pengawalan ketat polisi pendudukan "Israel", bertepatan dengan peringatan yang mereka sebut sebagai "kehancuran Bait Suci". Di saat yang sama, tiga warga Palestina syahid ditembak pasukan pendudukan dalam dua insiden terpisah di Tepi Barat.
Dilansir Al Jazeera, Pemerintah Provinsi Al-Quds menyatakan sebanyak 4.248 pemukim memasuki halaman Masjid Al-Aqsha. Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Menteri Keamanan Nasional "Israel", Itamar Ben Gvir, bersama sejumlah anggota Knesset, rabi, dan tokoh organisasi ekstremis "Temple Mount", di bawah perlindungan ketat pasukan pendudukan.
Dari dalam kompleks Masjid Al-Aqsha, Ben Gvir mengklaim bahwa orang-orang Yahudi kini dapat melaksanakan ritual ibadah di kawasan yang mereka sebut sebagai Temple Mount sebagaimana belum pernah terjadi sebelumnya.
Pemerintah Provinsi Al-Quds mengecam penyerbuan tersebut sebagai eskalasi paling berbahaya dalam beberapa bulan terakhir. Menurut mereka, pemerintah pendudukan secara resmi memanfaatkan aksi-aksi itu untuk memaksakan realitas politik, agama, dan hukum baru di Masjid Al-Aqsha sebagai bagian dari upaya menerapkan pembagian waktu dan wilayah serta memperkuat klaim kedaulatan atas masjid suci umat Islam tersebut.
Pihak berwenang Palestina menegaskan bahwa aksi itu bukan sekadar penyerbuan massal, melainkan operasi yang telah direncanakan dengan matang melalui kampanye mobilisasi besar-besaran oleh kelompok-kelompok ekstremis, disertai langkah militer untuk mengosongkan masjid dari jamaah Muslim sehingga para pemukim leluasa menjalankan ritual Talmud di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha.
Dua Syahid di Nablus
Di saat yang sama, dua warga Palestina syahid dan dua lainnya terluka setelah pasukan pendudukan melepaskan tembakan di Kota Beit Furik, sebelah timur Nablus.
Kantor berita Palestina WAFA mengutip Wali Kota Beit Furik, Yusuf Hanani, yang mengatakan bahwa pasukan pendudukan menutup seluruh akses menuju kota tersebut, sementara tentara dan para pemukim menyebar luas di kawasan dataran sekitarnya.
Sebelumnya, para pemukim membakar lahan pertanian milik warga Palestina di antara wilayah Salem, Beit Furik, dan Beit Dajan. Kobaran api kemudian merambat hingga mendekati rumah-rumah warga.
Ketika penduduk berusaha memadamkan api, pasukan pendudukan bersama para pemukim menyerang mereka dan melepaskan tembakan dengan peluru tajam. Empat warga terluka, sementara dua di antaranya kemudian dinyatakan syahid. Jenazah kedua syuhada tersebut juga ditahan oleh pasukan pendudukan.
Di sisi lain, militer "Israel" mengklaim kedua warga Palestina itu ditembak setelah melakukan aksi penikaman yang menyebabkan seorang warga "Israel" terluka di dekat permukiman ilegal Alon Moreh.
Menurut Otoritas Perlawanan Tembok dan Permukiman Palestina, sejak awal 2026 sedikitnya 20 warga Palestina telah syahid di Tepi Barat, termasuk Al-Quds, akibat serangan para pemukim. Angka tersebut merupakan yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Syahid Ketiga di Dekat Pos Militer
Beberapa jam kemudian, seorang warga Palestina lainnya syahid ditembak pasukan pendudukan di dekat sebuah pos militer di wilayah utara Tepi Barat.
Militer "Israel" mengklaim korban melakukan penikaman terhadap seorang tentaranya di dekat permukiman ilegal Ganim sebelum akhirnya ditembak hingga syahid. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Palestina maupun saksi mata mengenai kronologi kejadian tersebut.
Ritual Talmud Terus Berlangsung di Masjid Al-Aqsha
Pemerintah Provinsi Al-Quds menyatakan pasukan pendudukan terus memperketat penjagaan di seluruh gerbang Masjid Al-Aqsha dan kawasan Kota Tua Al-Quds, serta menghalangi jamaah Muslim memasuki masjid. Hanya sedikit jamaah yang berhasil menunaikan shalat Subuh sebelum sebagian dari mereka dipukuli oleh aparat pendudukan.
Di dalam kompleks Masjid Al-Aqsha, para pemukim terus menjalankan berbagai ritual Talmud, termasuk mengenakan tefillin, melakukan apa yang mereka sebut sebagai "sujud epik" di bagian timur masjid, serta menyanyikan lagu-lagu dan doa dengan suara keras.
Kelompok-kelompok ekstremis juga terus menggalang massa dengan target menghadirkan 5.000 pemukim dalam penyerbuan hari itu.
Dalam perkembangan yang dinilai sangat berbahaya, polisi pendudukan bahkan memasang sebuah kanopi di pelataran timur Masjid Al-Aqsha untuk digunakan para pemukim. Akademisi studi Baitul Maqdis, Abdullah Ma'ruf, menyebut langkah tersebut sebagai preseden pertama sejak pendudukan "Israel" atas Al-Quds dan bagian dari upaya sistematis mengubah status kawasan suci tersebut.
Video yang beredar di media Palestina juga memperlihatkan para pemukim melakukan ritual Talmud, bernyanyi, dan menari di dalam halaman Masjid Al-Aqsha.
Palestina Kecam Upaya Ubah Status Masjid Al-Aqsha
Pemerintah Provinsi Al-Quds menilai perkembangan tersebut bukan lagi sekadar aktivitas kelompok ekstremis, tetapi telah menjadi bagian dari kebijakan resmi pemerintah "Israel" untuk mengubah status historis dan hukum Masjid Al-Aqsha.
Kementerian Wakaf dan Urusan Agama Palestina mengecam keras masuknya Ben Gvir bersama ribuan pemukim ke Masjid Al-Aqsha. Menurut kementerian, tindakan tersebut merupakan pelanggaran nyata terhadap kesucian tempat ibadah umat Islam sekaligus ancaman serius terhadap status historis dan hukum yang berlaku di masjid tersebut.
Kementerian juga menegaskan bahwa pemanfaatan hari-hari besar Yahudi untuk meningkatkan frekuensi penyerbuan dan pelaksanaan ritual Talmud di dalam Masjid Al-Aqsha merupakan bagian dari rencana sistematis pendudukan untuk memaksakan pembagian waktu dan wilayah di masjid suci tersebut.
Otoritas Wakaf Al-Quds menyerukan kepada masyarakat internasional agar segera bertindak dan menekan "Israel" untuk menghentikan seluruh pelanggaran terhadap Al-Quds dan tempat-tempat suci. Negara-negara Arab dan Islam juga didesak meningkatkan dukungan terhadap keteguhan rakyat Palestina dan para penjaga Masjid Al-Aqsha.
Sementara itu, Imam dan Khatib Masjid Al-Aqsha, Syekh Ikrimah Sabri, menilai aksi Ben Gvir bertujuan menunjukkan seolah-olah pemerintah "Israel" memiliki kedaulatan atas Masjid Al-Aqsha. Ia menegaskan bahwa seluruh penyerbuan tersebut tidak akan pernah memberikan hak apa pun kepada pendudukan atas masjid suci umat Islam itu.
Presiden Palestina turut mengecam penyerbuan para pemukim dan pelaksanaan ritual Talmud di halaman Masjid Al-Aqsha. Kepresidenan Palestina menegaskan bahwa apa yang terjadi merupakan eskalasi berbahaya dalam upaya sistematis untuk mengubah status quo di masjid tersebut.
Pihaknya kembali menegaskan bahwa Masjid Al-Aqsha, dengan luas keseluruhan 144 dunam, merupakan tempat ibadah yang sepenuhnya menjadi hak umat Islam, serta menolak seluruh klaim kedaulatan "Israel" atas Kota Al-Quds dan seluruh tempat sucinya.
Kepresidenan Palestina juga menyerukan masyarakat internasional agar memikul tanggung jawabnya dan mengambil langkah tegas untuk menghentikan seluruh pelanggaran serta kebijakan sepihak "Israel" di Al-Quds dan seluruh wilayah Palestina yang diduduki.
(Samirmusa/arrahmah.id)
