Memuat...

Rupiah Melemah, Harga Kedelai Meroket

Oleh Umi Fahri
Rabu, 10 Juni 2026 / 25 Zulhijah 1447 16:26
Rupiah Melemah, Harga Kedelai Meroket
Ilustrasi. (Foto: Antara Foto/Ari Bowo Sucipto)

Harga kedelai sebagai bahan baku utama pembuatan tahu dan tempe, terus meroket di tengah melemahnya nilai rupiah terhadap dollar AS. Hal ini berdampak langsung pada produsen tempe tahu di seluruh wilayah Indonesia. Para perajin harus memutar otak, agar harga tidak berubah di saat naiknya harga kedelai impor, yakni dengan cara memperkecil ukuran produk mereka.

Di sisi lain harga plastik di pasaran ikut melonjak, sehingga para perajin tahu tempe pun harus menambah biaya operasionalnya. Padahal, tahu tempe merupakan sumber protein nabati yang banyak dikonsumsi masyarakat, karena harganya lebih murah daripada sumber protein hewani seperti ayam, ikan, dan daging.

Hal tersebut sungguh membuat produsen dilema, mengapa? Jika harga dinaikkan, maka permintaan konsumen akan turun, sudah pasti omset pun ikut turun. Akan tetapi jika tidak dinaikkan, pemasukan tidak akan menutup biaya produksi, dari sini menjadikan produsen merugi. Pada akhirnya sebagian produsen menjual tahu tempe dengan harga tetap, tetapi ukurannya diperkecil, dan meraka pun mengurangi jumlah produksinya. Dan tidak menutup kemungkinan jika hal ini terus berlanjut, para perajin tahu tempe lokal akan gulung tikar.

Permasalahan ini bukan sekedar fluktuasi harga biasa, melainkan sinyal tentang rapuhnya fondasi ketahanan pangan berbasis impor. Kenaikan kedelai dan plastik, menunjukkan bahwa sektor kecil sangat rentan terhadap dinamika global. Semua ini karena berdampak nyata, luas, serta menyentuh banyak lapisan kehidupan.

Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya stabil, keberadaan tahu dan tempe sebagai pangan terjangkau menjadi sesuatu yang krusial. Ketika produsen kecil mulai tertekan, ada efek berantai yang bisa terjadi pada masyarakat luas. Sudah seharusnya problematika ini menjadi perhatian utama negara, bukan hanya sekedar berita ekonomi, tetapi sebagai refleksi sosial.

Lonjakan harga kedelai, memperlihatkan betapa kuatnya ketergantungan Indonesia pada pasokan luar negeri. Perajin tahu dan tempe tidak memiliki kontrol terhadap harga global, namun harus menanggung konsekuensinya setiap hari. Kondisi ini menciptakan ketimpangan antara risiko dan kendali.

Akibat melemahnya rupiah berimbas pada mahalnya kedelai impor, membuktikan rapuhnya sistem ekonomi kapitalisme. Paradigma sistem ini memandang pangan hanyalah sebagai komoditas yang dianggap salah satu prinsip ekonomi, yaitu dengan mencari keuntungan sebesar-besarnya. Ketergantungan impor yang menyulitkan rakyat kecil, menjadi keuntungan bagi para pemegang kepentingan.

Ketergantungan impor kedelai dan plastik mencerminkan tidak adanya kemandirian juga kedaulatan, baik pangan maupun ekonomi negara. Hal ini sebuah keniscayaan negara mengadopsi sistem kehidupan sekuler kapitalisme. Negara dalam sistem ini berperan seperti pedagang yang membuat kebijakan berdasarkan untung rugi, bukan atas dasar kemaslahatan rakyat. Negara lepas tangan dari urusan pangan masyarakat, dan bergantung pada mekanisme pasar.

Semua permasalahan tersebut di atas, perlu adanya penyelesaian secara tuntas dan menyeluruh, yakni dengan sistem ekonomi Islam. Persoalan naiknya harga kedelai dalam Islam wajib dituntaskan hingga akarnya, bukan dipandang sebagai masalah perdagangan atau fluktuasi nilai tukar biasa. Akan tetapi, semua itu merupakan bagian dari tanggung jawab negara dalam menyediakan ketahanan pangan dan pemenuhan kebutuhan masyarakat. Negara Islam akan menekankan kedaulatan produksi pangan dalam negeri, melalui sektor pertanian. Negara juga mendorong untuk menghidupkan lahan pertanian yang tidak produktif, menyediakan sarana produksi serta meningkatkan hasil pertanian dalam negeri. Maka dari kebijakan tersebut, ketergantungan terhadap impor akan berkurang. Kemandirian produksi selain memperkuat ketahanan pangan, juga dapat melindungi perekonomian rakyat dari gejolak pasar global.

Dalam politik ekonomi Islam, negara tidak seperti paradigma sistem kapitalisme yang hanya berperan sebagai regulator saja, tetapi negara wajib melayani dan melindungi rakyatnya. Dalam Islam, negara berkewajiban menstabilkan ekonomi agar produsen tahu dan tempe memperoleh bahan baku dengan harga murah juga stabil. Dengan demikian, usaha kecil dapat terus berjalan, menambah lapangan kerja, sehingga masyarakat dapat memenuhi gizi dan pangan dengan harga terjangkau. Mekanisme ekonomi dalam Islam tujuannya bukan semata-mata demi mengejar keuntungan materi, melainkan memastikan kebutuhan rakyat terpenuhi serta mampu mencapai kesejahteraan masing-masing individu.

Wallahu a'lam bishawab

Editor: Hanin Mazaya