MOSKOW (Arrahmah.id) -- Rusia menuduh Amerika Serikat (AS) dan negara-negara Barat tengah mempersiapkan anggota kelompok militan Islamic State (ISIS) yang ditahan di penjara superketat Irak untuk digunakan melawan Iran. Tuduhan itu muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik Timur Tengah dan memicu kekhawatiran baru terkait kebangkitan kelompok ekstremis di kawasan.
Menurut laporan media Rusia dan sejumlah kanal Timur Tengah, tuduhan tersebut disampaikan pejabat keamanan Rusia yang mengklaim Barat sedang berupaya memakai ISIS guna menekan Iran dan sekutunya karena mereka dinilai gigih dalam memerangi Syiah dan Iran.
Dilansir The Cradle (27/5/2026), narasi serupa beredar di kalangan media pro-Rusia dan pro-Iran setelah muncul klaim bahwa tahanan ISIS di sejumlah fasilitas keamanan Irak dapat dimanfaatkan dalam operasi rahasia regional. Namun hingga kini belum ada bukti independen yang mengonfirmasi tuduhan tersebut.
“Negara-negara Barat sedang mempersenjatai kembali unsur-unsur ISIS untuk digunakan melawan Iran,” ujar seorang pejabat keamanan Rusia.
Tuduhan itu muncul ketika hubungan Iran dengan Amerika Serikat dan 'Israel' terus memanas akibat konflik regional, termasuk perang Gaza dan ketegangan di Suriah serta Irak. Rusia sendiri merupakan sekutu dekat Iran dalam berbagai isu geopolitik Timur Tengah dan sejak lama menuduh Barat memanfaatkan kelompok bersenjata demi kepentingan strategis kawasan.
Irak diketahui masih menahan ribuan anggota ISIS di berbagai fasilitas keamanan setelah kekalahan kelompok tersebut pada akhir 2017. Banyak tahanan berasal dari Irak, Suriah, hingga negara-negara asing yang sebelumnya bergabung dengan ISIS di Suriah dan Irak.
Sejumlah analis keamanan internasional menilai tuduhan Rusia kemungkinan berkaitan dengan perang narasi antara Moskow dan Barat di Timur Tengah. Hingga saat ini pemerintah Amerika Serikat belum memberikan tanggapan resmi terhadap klaim tersebut.
Sementara itu, pemerintah Irak terus menghadapi tekanan besar terkait pengelolaan penjara berisi tahanan ISIS. Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi HAM internasional sebelumnya memperingatkan bahwa kondisi penahanan yang buruk dan ketidakjelasan proses hukum dapat memicu radikalisasi baru di dalam penjara.
ISIS sendiri pernah menguasai wilayah luas di Irak dan Suriah sebelum akhirnya dihancurkan koalisi internasional pimpinan Amerika Serikat bersama pasukan lokal. Meski kehilangan wilayah utama, sel-sel kecil ISIS masih aktif melakukan serangan sporadis di sejumlah wilayah Timur Tengah hingga saat ini. (hanoum/arrahmah.id)
