(Arrahmah.id) - Latar belakang yang kontras namun terjadi bersamaan—begitulah gambaran dua momen bersejarah yang mendokumentasikan lahirnya “nota kesepahaman Islamabad” secara mengejutkan antara Teheran dan Washington sebelum waktu yang telah ditentukan.
Pada adegan pertama, Presiden Amerika Serikat memilih suasana penuh perayaan untuk menandai momen penandatanganan. Dalam sebuah video yang dipublikasikan oleh Wakil Kepala Staf Gedung Putih Dan Scavino, Trump terlihat menandatangani dokumen di Istana Versailles, Paris, saat jamuan makan malam yang diselenggarakan oleh Presiden Prancis .
Trump langsung menandatangani dokumen tersebut setelah menerimanya dari Menteri Luar Negeri , diiringi tepuk tangan para hadirin dan seruan “bravo” dari Macron.
Sebaliknya, adegan kedua menampilkan suasana yang sepenuhnya berbeda. Presiden Iran tampak sendirian dalam foto resmi tanpa unsur perayaan, hanya memperlihatkan dokumen kesepakatan yang telah ditandatangani oleh pihak Iran.
Diplomasi Menit-Menit Terakhir
Percepatan waktu penandatanganan bukan sekadar manuver protokoler, melainkan keinginan bersama yang tegas untuk mengakhiri perang dan segera membuka jalur energi global melalui tanpa harus menunggu dua hari tambahan hingga jadwal pertemuan di pada Jumat.
Sumber diplomatik menyebutkan bahwa diskusi untuk mempercepat jadwal bertujuan agar selat tersebut dapat dibuka lebih cepat, dan kedua pihak telah sepakat mengenai hal ini.
Di balik layar, terjadi dinamika yang cukup tegang. Situs Axios mengungkap bahwa menghadapi tekanan politik untuk segera mempublikasikan isi nota kesepahaman, sementara Iran bersikeras agar tidak ada satu pun klausul diumumkan sebelum penandatanganan resmi. Hal ini mendorong kedua pihak untuk mempercepat proses penandatanganan guna mengakhiri ketidakpastian dan menyampaikan hasil final kepada publik.
Muncul pula spekulasi apakah kesepakatan tersebut sebenarnya ditandatangani dua kali: secara rahasia antara Trump, , dan , serta secara terbuka dalam suasana seremonial di Versailles. Hal ini memicu pertanyaan tentang pesan politik yang ingin disampaikan masing-masing pihak, baik ke dalam negeri maupun ke dunia internasional.
Faktor logistik juga berperan dalam penggunaan mekanisme penandatanganan virtual. Para pejabat AS dan sumber dari negara mediator menyebutkan bahwa Vance, yang memimpin tim negosiasi Amerika, tidak dapat kembali ke Amerika Serikat sebelum Trump berangkat ke Prancis untuk menghadiri KTT .
“Penandatanganan di Bawah Bayang Ancaman”
Proses penandatanganan juga diwarnai retorika keras dari Trump. Ia mengancam akan kembali membombardir Iran dan bahkan menargetkan pejabatnya jika Teheran tidak mematuhi kesepakatan.
Namun, di tengah ancaman tersebut, Trump justru melunakkan sebagian sikapnya dengan tidak lagi menuntut penghancuran total kemampuan rudal balistik Iran. Ia bahkan menyatakan bahwa tidak adil jika Iran tidak memiliki kemampuan tersebut sementara negara lain memilikinya.
Di sisi lain, pemerintah Iran memilih mengabaikan nada ancaman tersebut dan lebih menekankan pencapaian bersejarah—yakni penandatanganan kesepakatan pertama antara presiden Amerika dan Iran sejak Revolusi Islam 1979.
Kepala negosiator Iran, , menyatakan bahwa negaranya berhasil meraih melalui diplomasi apa yang sebelumnya berulang kali diupayakan lewat jalur militer. Pencapaian itu mencakup pencabutan blokade pelabuhan, pembekuan sanksi, serta pencairan aset bernilai miliaran dolar.
Isi kesepakatan menunjukkan perbedaan antara retorika keras Trump dan hasil nyata di lapangan. Pemerintahan Iran tetap bertahan, sementara kemampuan rudal dan cadangan uranium yang diperkaya tinggi tidak dihancurkan. Sebaliknya, Teheran memperoleh keuntungan ekonomi serta dana investasi senilai 300 miliar dolar untuk rekonstruksi.
Nasib Pertemuan Geneva dan Garis Merah Iran
Pernyataan resmi terkait nota kesepahaman menegaskan bahwa Amerika Serikat dan Iran sepakat menghentikan operasi militer, membuka jalan bagi negosiasi lanjutan serta tahap pengujian komitmen kedua pihak terhadap implementasi kesepakatan.
Namun, ketidakpastian masih menyelimuti pertemuan yang direncanakan di Swiss. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa pertemuan tersebut masih mungkin berlangsung antara delegasi yang dipimpin Vance dan Ghalibaf untuk membahas program nuklir.
Di sisi lain, pemerintah Swiss menyatakan bahwa rencana saat ini adalah pertemuan multilateral yang melibatkan Amerika, Iran, Pakistan, , dan negara terkait lainnya guna memulai pembahasan implementasi perjanjian damai.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Ismail Baghaei, menegaskan bahwa tidak akan ada seremoni penandatanganan di Geneva karena kedua presiden telah menandatangani dokumen secara elektronik. Ia juga menyatakan bahwa rencana pertemuan Jumat kini masih belum pasti.
Lebih tegas lagi, Iran menetapkan garis merahnya: kemampuan rudal tidak akan menjadi bahan negosiasi. Baghaei menegaskan bahwa “rudal Iran dibuat untuk digunakan, bukan untuk dinegosiasikan,” menutup kemungkinan pembahasan sektor pertahanan dalam proses diplomasi ke depan.
Sumber: Al Jazeera, Reuters, Fox News
(Sanirmusa/arrahmah.id)
