WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Serangan drone Iran terhadap sejumlah fasilitas yang digunakan Badan Intelijen Pusat Amerika Serikat (CIA) di kawasan Teluk memunculkan pertanyaan baru mengenai kemungkinan keterlibatan Rusia dalam operasi tersebut.
Sejumlah sumber intelijen Barat mengungkapkan bahwa badan-badan keamanan Amerika kini tengah menyelidiki apakah Moskow memberikan bantuan berupa data penargetan, teknologi navigasi, atau peningkatan kemampuan drone yang digunakan Iran dalam serangan tersebut.
Menurut laporan Reuters (23/7/2026), investigasi itu muncul setelah beberapa serangan drone Iran terhadap fasilitas yang terkait dengan aktivitas intelijen Amerika di Arab Saudi dan Irak menunjukkan tingkat akurasi yang dinilai tidak biasa.
Salah satu serangan dilaporkan menghantam kompleks yang digunakan CIA di Riyadh, sementara serangan lain menyasar fasilitas yang berkaitan dengan operasi intelijen AS di Irak timur. Meski tidak menimbulkan korban jiwa, ketepatan sasaran tersebut memicu kekhawatiran di kalangan komunitas intelijen Amerika.
Pejabat-pejabat intelijen yang dikutip Reuters menyebutkan bahwa para analis sedang menelaah kemungkinan Iran memanfaatkan dukungan Rusia untuk meningkatkan efektivitas drone Shahed yang digunakan dalam operasi tersebut.
Dugaan tersebut diperkuat oleh hubungan militer yang semakin erat antara Teheran dan Moskow sejak beberapa tahun terakhir, termasuk kerja sama dalam pengembangan teknologi pesawat nirawak dan sistem navigasi militer.
Salah satu sumber intelijen Barat yang mengetahui isi penyelidikan mengatakan terdapat indikasi bahwa teknologi navigasi satelit Rusia mungkin digunakan untuk meningkatkan akurasi serangan. Namun hingga kini belum ada bukti publik yang secara definitif membuktikan keterlibatan langsung Rusia dalam perencanaan atau pelaksanaan serangan tersebut.
Dalam laporannya, Times of Israel mengungkapkan bahwa para analis intelijen AS sedang menelusuri kemungkinan Iran memperoleh data penargetan dari pihak ketiga sebelum melancarkan serangan.
Namun sejumlah pejabat juga mengingatkan bahwa ada kemungkinan target CIA terkena serangan karena berada di dalam kompleks diplomatik atau militer yang memang menjadi sasaran umum Iran, sehingga hubungan langsung dengan Rusia masih belum dapat dipastikan.
Seorang sumber yang mengetahui penyelidikan tersebut mengatakan kepada Reuters bahwa komunitas intelijen Amerika masih berhati-hati dalam menarik kesimpulan.
"Kami sedang meneliti apakah ada bantuan eksternal yang meningkatkan kemampuan Iran, tetapi hingga saat ini belum ada penilaian final mengenai peran Rusia," ujarnya.
Laporan serupa yang dikutip Times of India menyebutkan bahwa fokus penyelidikan mencakup kemungkinan transfer teknologi drone, sistem penargetan, hingga berbagi informasi intelijen antara Moskow dan Teheran.
Kekhawatiran itu muncul karena Rusia diketahui telah menggunakan dan memodifikasi drone Shahed Iran dalam perang di Ukraina, sehingga kedua negara diyakini telah membangun kerja sama teknis yang cukup mendalam.
Di sisi lain, hingga berita ini ditulis, pemerintah Rusia belum memberikan tanggapan resmi terhadap tuduhan tersebut. Iran juga tidak mengomentari secara langsung dugaan bantuan Rusia, namun sebelumnya berulang kali menegaskan bahwa kemampuan militernya dikembangkan secara mandiri dan bertujuan mempertahankan kedaulatan negara. (hanoum/arrahmah.id)
