GAZA (Arrahmah.id) - Kekerasan di Jalur Gaza terus berlanjut meski perjanjian gencatan senjata secara teknis masih berlaku. Pada Senin (29/6/2026), serangan militer 'Israel' menewaskan lima warga Palestina, termasuk seorang anak, di wilayah tengah dan selatan Gaza. Di tengah duka yang terus berlanjut, tuntutan dari pejabat tinggi 'Israel' untuk membangun pemukiman ilegal di utara Gaza semakin memperkeruh situasi.
Serangan terbaru terjadi di dua lokasi berbeda. Serangan udara 'Israel' di Jalan al-Baraka, Deir Balah menewaskan tiga warga Palestina, termasuk seorang anak. Serangan udara lainnya menyasar tenda penampungan warga pengungsi Al Mawasi Khan Yunis, menewaskan dua orang dan melukai beberapa lainnya.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa dalam 24 jam terakhir, rumah sakit telah menerima empat jenazah dan delapan orang luka-luka. Angka ini kemungkinan jauh lebih tinggi karena banyak korban masih tertimbun di bawah reruntuhan dan sulit dijangkau akibat serangan yang tidak kunjung berhenti.
Sejak gencatan senjata dimulai pada 11 Oktober lalu, Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat telah terjadi 3.465 pelanggaran oleh pihak 'Israel', termasuk penangkapan terhadap 113 warga Palestina. Hingga saat ini, total korban jiwa sejak 7 Oktober 2023 telah mencapai 73.058 orang dengan 173.488 orang terluka.
Di tengah ketegangan militer, Menteri Keuangan 'Israel', Bezalel Smotrich, secara terbuka mendesak Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk segera menyetujui pembangunan tiga pemukiman ilegal baru di utara Jalur Gaza. Smotrich menyatakan bahwa Divisi Pemukiman di Kementerian Pertahanan 'Israel' telah siap memulai konstruksi segera setelah mendapatkan lampu hijau. Ia berargumen bahwa langkah ini diperlukan untuk memulihkan keamanan di wilayah 'Israel' selatan, meski rencana ini secara luas dipandang sebagai langkah provokatif yang memperburuk prospek perdamaian.
Kondisi di Tepi Barat yang diduduki juga menunjukkan pola eskalasi yang serupa. Pasukan pendudukan 'Israel' terus melakukan penggerebekan, penangkapan, dan penutupan akses jalan di berbagai wilayah, termasuk Nablus, Jenin, al-Khalil (Hebron), Bethlehem, Ramallah, dan al-Quds (Yerusalem).
Selain tindakan militer, kelompok pemukim ilegal semakin agresif dengan perlindungan penuh dari militer 'Israel'. Mereka melakukan penyerangan terhadap rumah-rumah penduduk, petani, serta perusakan lahan pertanian dan infrastruktur air.
Perusakan kebun zaitun dan penyitaan lahan yang terus dilakukan secara sistematis. Terdapat peningkatan signifikan dalam jumlah pemukim yang melakukan infiltrasi ke kompleks Masjid Al-Aqsa di al-Quds selama sepekan terakhir.
Kombinasi antara operasi militer yang tidak berhenti di Gaza dan percepatan agenda pemukiman di Tepi Barat menegaskan bahwa meskipun terdapat kerangka gencatan senjata, realitas di lapangan tetap menunjukkan eskalasi konflik yang berkelanjutan bagi warga Palestina. (zarahamala/arrahmah.id)
