GAZA (Arrahmah.id) - Ketegangan di Jalur Gaza kembali membara setelah seorang pemuda Palestina gugur dan sejumlah lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara 'Israel' di bagian utara, Rabu (13/8/2026). Di tengah pelanggaran gencatan senjata yang terus berlanjut ini, laporan media 'Israel' mengungkap adanya perpecahan tajam di kalangan petinggi militer terkait opsi penarikan pasukan dari wilayah tersebut.
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmud Bassal, menyatakan bahwa timnya telah mengevakuasi jenazah Muhannad Saada beserta para korban luka ke Rumah Sakit Al-Shifa di Kota Gaza. Serangan udara yang menyasar sekelompok warga di dekat Bundaran Barat, Beit Lahiya, itu merupakan insiden pertama dalam sepekan terakhir. Saksi mata menyebutkan bahwa korban sedang dalam perjalanan pulang usai memperbaiki sumur air artesis yang rusak akibat pemboman sebelumnya.
Pihak militer 'Israel' mengeklaim serangan tersebut menargetkan "kepala sel Hamas" yang dituding merencanakan aksi terhadap pasukan pendudukan. Menurut harian Yediot Aharonot, operasi ini telah mendapat lampu hijau langsung dari Kepala Staf Militer, Eyal Zamir. Sementara itu, di Khan Younis dan Al-Bureij, gempuran artileri dan tembakan drone 'Israel' turut melukai sejumlah warga sipil di Rafah dan Jalan Salah al-Din.
Di tengah eskalasi lapangan, harian Jerusalem Post mengungkap adanya perselisihan serius di antara para pemimpin militer 'Israel' mengenai cakupan dan bentuk penarikan pasukan dari Gaza.
Sebagian besar petinggi pertahanan dilaporkan mendukung pengalihan administrasi Gaza kepada Otoritas Palestina (PA) atau Komite Nasional, serta mengkritik Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang dianggap sengaja menghambat proses tersebut. Mayoritas perwira militer menilai Israel harus menarik diri ke perimeter keamanan yang lebih kecil, sementara minoritas garis keras mendesak penguasaan wilayah seluas mungkin.
Kendati demikian, para perwira militer sepakat bahwa sentimen publik di Gaza tidak akan serta-merta melunak terhadap 'Israel', sekalipun Hamas melucuti senjatanya dan otoritas baru memegang kendali politik. Oleh karena itu, kalangan militer berpandangan bahwa zona penyangga (buffer zone) harus tetap dipertahankan selama bertahun-tahun ke depan.
Krisis internal ini mencuat di tengah ketidakpatuhan 'Israel' terhadap Kesepakatan 15 Poin yang disponsori oleh Board of Peace dan telah disetujui Hamas, namun ditolak secara terbuka oleh Netanyahu. Hingga kini, berbagai pelanggaran militer 'Israel' sejak kesepakatan gencatan senjata Oktober 2025 telah merenggut nyawa 1.259 warga Palestina dan melukai 4.148 lainnya. (zarahamala/arrahmah.id)
