Memuat...

Setelah 6 Bulan Perang, Siapa yang Menguasai Selat Hormuz?

Zarah Amala
Sabtu, 29 Agustus 2026 / 17 Rabiulawal 1448 12:00
Setelah 6 Bulan Perang, Siapa yang Menguasai Selat Hormuz?
Patroli angkatan laut AS di Selat Hormuz dan Laut Arab (CENTCOM)

TEHERAN (Arrahmah.id) - Enam bulan setelah perang AS-Iran pecah, Selat Hormuz menjadi salah satu titik utama perebutan pengaruh kedua negara. Amerika Serikat berupaya memastikan jalur pelayaran tetap terbuka, sementara Iran bersikeras bahwa kapal hanya dapat melintas dengan memenuhi persyaratan Tehran.

Kebuntuan diplomatik berlanjut setelah masa 60 hari dalam nota kesepahaman AS-Iran berakhir tanpa kesepakatan. Presiden AS Donald Trump bahkan menyatakan selat tersebut sebagai wilayah Amerika, sementara Iran tetap mempertahankan kendalinya atas jalur strategis tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengatakan telah melakukan operasi pembersihan ranjau di jalur internasional Hormuz. AS mengklaim telah menyingkirkan puluhan benda yang menyerupai ranjau dan menyatakan hanya 11 di antaranya benar-benar merupakan ranjau.

Washington menyebut jalur internasional tersebut aman dilalui. Sejak Mei, 155 kapal dilaporkan telah melintas membawa lebih dari 750 juta barel minyak.

Pengamat militer Elias Hanna mengatakan Iran memanfaatkan waktu dan minyak sebagai alat tekanan terhadap Washington. Iran memiliki garis pantai sekitar 2.500 kilometer dan 31 pulau di Teluk, sehingga posisi geografisnya memungkinkan Tehran mengancam lalu lintas kapal di Hormuz.

Menurut Hanna, Iran tidak perlu menutup selat sepenuhnya untuk mengganggu pelayaran. Ancaman dan kemampuan untuk mengganggu jalur kapal sudah cukup menjadi tekanan ekonomi.

AS sendiri berupaya membuka jalur alternatif melalui Oman sekaligus membersihkan jalur internasional dari ranjau.

Namun, operasi tersebut membutuhkan biaya besar. Menurut Hanna, satu drone bawah air AS yang digunakan untuk menghancurkan ranjau bernilai sekitar 164 ribu dolar, sementara biaya satu ranjau Iran diperkirakan hanya 5.000–10.000 dolar.

Siapa yang Sebenarnya Menguasai Hormuz?

Hanna menyimpulkan bahwa tidak ada satu pihak yang sepenuhnya menguasai Selat Hormuz.

Iran memiliki kemampuan untuk mengganggu pelayaran, sementara AS memiliki kekuatan militer dan ekonomi untuk menekan Iran serta menghambat ekspor minyaknya.

Bahkan jika AS berhasil menghancurkan kekuatan laut Iran di sekitar selat, Iran dinilai masih mampu membangun kembali kekuatannya berkat garis pantainya yang panjang.

Perang juga berdampak pada persediaan rudal kedua pihak. Stok rudal pencegat Patriot AS disebut turun dari sekitar 2.300 sebelum perang menjadi 827 pada akhir Juli. Stok rudal THAAD juga turun dari 542 menjadi 262, sebelum meningkat kembali menjadi 278.

Sementara itu, Iran diperkirakan memiliki 2.500–6.000 rudal sebelum perang dengan jangkauan sekitar 700 hingga 4.000 kilometer.

Namun, kapasitas produksi rudal Iran kini disebut turun drastis, dari sekitar 300 rudal per bulan menjadi 40 rudal, atau berkurang sekitar 90 persen. (zarahamala/arrahmah.id)