GAZA (Arrahmah.id) - Sisa rudal dan amunisi yang belum meledak menjadi ancaman serius bagi warga Palestina di Jalur Gaza. Di tengah kehancuran akibat perang, benda-benda berbahaya itu tersebar di antara reruntuhan bangunan, tenda pengungsian, hingga jalan yang dilalui warga setiap hari.
Al Jazeera, dalam laporan pada Ahad (18/10/2026), mengisahkan seorang ibu asal Gaza yang mengalami luka bakar parah setelah sisa amunisi meledak di dalam tendanya ketika ia berusaha menyalakan api untuk memasak bagi anak-anaknya.
Peristiwa itu bermula ketika sang ibu membakar pakaian bekas yang dikumpulkan anak-anaknya dari jalanan. Saat kain-kain tersebut diletakkan di atas api, ia mendengar suara aneh sebelum ledakan keras terjadi.
Ketika tersadar, para tetangga berusaha menyelamatkan dirinya, janin yang dikandungnya, serta dua anaknya yang berada di dekatnya di dalam tenda pengungsian.
Setelah menjalani perawatan intensif selama 40 hari, perempuan tersebut akhirnya keluar dari ruang perawatan. Ia dan kedua anaknya mengalami luka bakar parah di sejumlah bagian tubuh. Sang ibu mengaku anaknya nyaris kehilangan penglihatan akibat insiden itu, sementara sebagian kulitnya harus menjalani perawatan akibat ledakan.
Ancaman sisa amunisi perang juga disoroti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Dalam laporan sebelumnya, Kepala Layanan Aksi Ranjau PBB (UNMAS), Julius Dirk, mengatakan bahwa pada April lalu pihaknya berhasil mengidentifikasi hampir 1.000 benda berbahaya dalam kegiatan yang diminta oleh mitra kemanusiaan.
Menurut Dirk, jumlah tersebut setara dengan ditemukannya satu benda peledak setiap 600 meter di wilayah Gaza yang relatif kecil.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 1.200 orang dilaporkan tewas atau terluka akibat amunisi peledak di Gaza. Angka itu setara dengan rata-rata satu korban setiap hari.
Dirk memperingatkan bahwa kontaminasi akibat amunisi yang belum meledak semakin memperburuk krisis kemanusiaan. Kondisi tersebut menghambat warga menjalani kehidupan sehari-hari dan membuat keluarga sulit kembali dengan aman ke rumah mereka untuk memulai kembali kehidupan di tengah reruntuhan.
Diperkirakan Ada 71 Ribu Ton Sisa Bahan Peledak
Juru bicara Pertahanan Sipil Gaza, Mahmoud Basal, memperkirakan terdapat sekitar 71 ribu ton bahan peledak dan sisa amunisi yang belum meledak di wilayah tersebut.
Warga Gaza yang diwawancarai Al Jazeera mendesak agar sisa amunisi itu segera disingkirkan oleh tenaga ahli yang memiliki kemampuan khusus dalam menangani dan menjinakkan bahan peledak.
Mereka memperingatkan bahwa sisa rudal dan amunisi dapat ditemukan di antara bangunan yang hancur maupun di sekitar tenda pengungsian. Anak-anak menjadi kelompok yang sangat rentan karena tidak memahami bahaya benda-benda tersebut dan bisa saja mendekati atau memainkannya.
Pembersihan sisa amunisi yang belum meledak dinilai mendesak untuk melindungi warga, terutama anak-anak dan orang-orang yang setiap hari melintasi kawasan terdampak. (zarahamala/arrahmah.id)
