Memuat...

Brigade Al-Qassam Ungkap Identitas Pejuang yang Tewaskan Penembak Jitu 'Israel' pada 2021

Zarah Amala
Kamis, 15 Oktober 2026 / 5 Jumadilawal 1448 11:38
Brigade Al-Qassam Ungkap Identitas Pejuang yang Tewaskan Penembak Jitu 'Israel' pada 2021
Anggota Brigade Al-Qassam, Muhammad Abu Jaser, melakukan operasi penembakan terhadap seorang penembak jitu Israel' saat aksi Pawai Kepulangan pada 2021. (Brigade Al-Qassam)

GAZA (Arrahmah.id) - Brigade Izzuddin al-Qassam, sayap militer Hamas, mengungkap identitas pejuangnya, Muhammad Maher Abu Jaser, yang menembak penembak jitu 'Israel' dari jarak dekat melalui celah tembok pembatas pada Agustus 2021.

Dalam laporan yang diterbitkan Al Jazeera pada Rabu (14/10/2026), Al-Qassam merilis rekaman yang mendokumentasikan keterlibatan Abu Jaser dalam pertempuran Banjir Al-Aqsha. Ia merupakan anggota Batalion Suhail Ziyadeh di Brigade Gaza Utara.

Rekaman tersebut juga menampilkan pesan wasiat Abu Jaser yang direkam sebelum gugur pada akhir 2024. Dalam pesannya, ia menyerukan agar perjuangan untuk membebaskan para tahanan Palestina dan Masjid Al-Aqsha terus dilanjutkan.

Abu Jaser turut menceritakan kembali operasi yang dilakukannya pada 21 Agustus 2021. Ia mengaku menembak mati penembak jitu 'Israel' bernama Barel Hadaria Shmueli sebagai balasan atas kematian warga Palestina.

Insiden tersebut terjadi saat ribuan warga Gaza menggelar demonstrasi di dekat perlintasan Karni (al-Muntar), di perbatasan timur Jalur Gaza, pada 21 Agustus 2021.

Menurut laporan Al Jazeera, di tengah bentrokan yang berlangsung, puluhan pemuda Palestina berhasil mencapai tembok beton dan menerobos sebuah celah yang digunakan penembak jitu militer 'Israel' sebagai posisi untuk menembaki demonstran.

Abu Jaser kemudian mendekati celah tersebut dan melepaskan tiga tembakan menggunakan pistol. Salah satu peluru mengenai kepala Shmueli dan menyebabkan luka parah. Shmueli meninggal dunia beberapa hari kemudian akibat luka-lukanya.

Shmueli, yang berusia 22 tahun dan berpangkat sersan mayor, merupakan anggota unit operasi rahasia Kepolisian Perbatasan 'Israel'.

Setelah insiden itu, militer Israel mengumumkan hasil penyelidikan awal yang menyebut penempatan dan posisi pasukan sebagai faktor kegagalan pengamanan, bukan aturan penggunaan senjata.

Menurut hasil penyelidikan yang disampaikan kepada keluarga Shmueli, militer 'Israel' seharusnya mengubah pola penempatan dan penggunaan pasukan ketika massa mulai mendekati tembok pembatas.

Meski demikian, penyelidikan tersebut menyatakan tidak ditemukan pertentangan maupun perubahan aturan pelibatan sebelum atau selama bentrokan berlangsung. (zarahamala/arrahmah.id)