JAKARTA (Arrahmah.id) - Habib Rizieq Shihab melontarkan kritik tajam terhadap lingkungan penasihat Presiden dalam ceramah yang disampaikannya di Petamburan 3 pada 3 Mei 2026.
Dalam kesempatan tersebut, ia menyoroti perubahan gaya komunikasi Presiden yang dinilainya mulai terpengaruh oleh figur-figur di lingkaran kekuasaan.
Menurutnya, perubahan itu terlihat dari munculnya pernyataan kontroversial yang menyebut pihak yang tidak puas dengan kondisi negara sebaiknya “pindah ke Yaman”.
Ia menilai pernyataan semacam itu tidak mencerminkan komunikasi yang sepatutnya disampaikan oleh seorang kepala negara.
Habib Rizieq menyatakan bahwa kritik dari masyarakat semestinya dijawab dengan kebijakan serta perbaikan kinerja, bukan melalui pernyataan yang berpotensi menimbulkan polemik baru.
“Bapak Presiden kalau cari menteri, menteri yang bagus, penasihat yang bagus. Nanti Bapak Presiden juga bicaranya akan bagus insya Allah,” ujarnya dalam ceramah tersebut.
Ia juga mengingatkan bahwa kualitas seorang pemimpin sangat dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya.
Menurutnya, jika seorang presiden dikelilingi oleh penasihat dengan pola komunikasi keras atau tidak bijak, hal itu dapat memengaruhi cara kepala negara dalam merespons dinamika politik dan sosial.
Selain menyoroti gaya komunikasi Presiden, Habib Rizieq turut mengkritik pengangkatan penasihat presiden bidang pertahanan yang dinilainya memiliki rekam jejak kontroversial.
Ia mempertanyakan keputusan pemerintah menempatkan sosok tersebut dalam posisi strategis di lingkaran istana.
Dalam ceramahnya, ia juga mengaitkan figur tersebut dengan polemik Tragedi KM50 yang menewaskan enam anggota laskar FPI.
Ia menilai bahwa tokoh dengan rekam jejak kontroversial tidak seharusnya berada dekat dengan pusat kekuasaan karena dapat menjadi beban politik dan moral bagi pemerintahan.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa keberadaan figur bermasalah di lingkaran kekuasaan berpotensi memperburuk citra pemerintah serta memperlebar jarak antara penguasa dan masyarakat yang menuntut keadilan dan akuntabilitas.
Habib Rizieq juga secara khusus menyoroti penyebutan Yaman dalam konteks ajakan kepada pengkritik pemerintah untuk meninggalkan Indonesia.
Ia menilai penggunaan nama negara sahabat dalam konteks tersebut tidak pantas dan berpotensi menimbulkan kesalahpahaman diplomatik.
Menurutnya, Yaman memiliki hubungan historis yang erat dengan Indonesia, terutama dalam perkembangan Islam di Nusantara.
Ia menegaskan bahwa banyak tokoh penyebar Islam di Indonesia memiliki keterkaitan dengan Yaman, baik secara genealogis maupun keilmuan.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa hubungan kedua negara juga terjalin dalam bidang pendidikan. Ia menyebut ribuan pelajar Indonesia saat ini masih menempuh pendidikan di Yaman.
“Jangan, Yaman itu negara sahabat. Saat ini lebih dari 7.000 anak Indonesia belajar di Yaman,” ujarnya.
Menutup ceramahnya, Habib Rizieq meminta pemerintah untuk terbuka terhadap kritik publik dan tidak meresponsnya dengan sindiran atau serangan verbal.
Ia menegaskan bahwa dalam sistem demokrasi, kritik merupakan bagian penting dari kontrol masyarakat terhadap jalannya pemerintahan.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pandangan politik tidak dibawa ke ranah sentimen kesukuan maupun rasial.
Menurutnya, narasi yang menyinggung identitas kelompok tertentu hanya akan memperbesar potensi perpecahan di tengah masyarakat.
Habib Rizieq menyerukan agar Presiden melakukan evaluasi terhadap orang-orang di sekelilingnya dan tidak mempertahankan figur yang dinilai justru memperkeruh suasana politik nasional.
Ia menegaskan bahwa pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang mampu menerima kritik secara terbuka dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan demi terciptanya tata kelola yang lebih baik.
(ameera/arrahmah.id)
