Memuat...

Detail Penyiksaan Aktivis Sumud Flotilla, Dipaksa Tidur dengan Lampu Terang dan Diancam 100 Tahun Penjara.

Zarah Amala
Selasa, 5 Mei 2026 / 18 Zulkaidah 1447 17:42
Detail Penyiksaan Aktivis Sumud Flotilla, Dipaksa Tidur dengan Lampu Terang dan Diancam 100 Tahun Penjara.
Avila asal Brasil (tengah) pingsan dua kali akibat penyiksaan di pusat penahanan 'Israel' (Associated Press)

ASKELON (Arrahmah.id) - Pengacara Lubna Touma dari Pusat Hukum untuk Hak-Hak Minoritas Arab di 'Israel' (Adalah) mengungkapkan detail penyiksaan fisik dan psikologis yang dialami oleh dua aktivis, Thiago Ávila (Brasil) dan Saif Abu Keshek (Spanyol). Keduanya ditahan setelah militer 'Israel' mencegat Global Sumud Flotilla di perairan internasional pekan lalu.

Dalam tim pembela hukum, Touma menjelaskan bahwa militer 'Israel' memisahkan Ávila dan Abu Keshek dari 170 aktivis lainnya di armada tersebut dan membawa mereka melalui laut ke 'Israel'. Menurut kesaksian aktivis kepada tim pengacara, mereka mengalami serangkaian kekerasan, termasuk kekerasan fisik dan verbal.

Keduanya dipaksa berbaring tengkurap dengan kepala menempel ke lantai, mata ditutup sepanjang waktu, serta mengalami penghinaan verbal dan pemukulan. Ávila dilaporkan pingsan dua kali akibat kerasnya penganiayaan.

Di Penjara Shikma, Askealan, aktivis ditahan di sel isolasi yang sangat dingin dengan sorotan lampu terang selama 24 jam penuh untuk mencegah mereka tidur.

Selain intimidasi psikologis, keduanya mengaku menerima ancaman pembunuhan dan ancaman hukuman penjara hingga 100 tahun.

Tim hukum menyatakan bahwa otoritas Israel menjerat keduanya dengan lima dakwaan bermuatan keamanan, antara lain "keanggotaan dalam organisasi teroris," "membantu musuh di masa perang," dan "kontak dengan agen asing." Pengacara Touma menegaskan bahwa tuduhan ini sengaja dibuat untuk menggiring opini publik bahwa misi kemanusiaan tersebut merupakan ancaman keamanan yang serius.

Pusat Hukum Adalah pada Senin (4/5/2026) mengecam kekerasan psikologis dan perlakuan buruk yang terus berlanjut. Mereka mengungkapkan pelanggaran etika medis serius di mana aktivis dipaksa tetap menutup mata bahkan saat menjalani pemeriksaan kesehatan.

Pusat hukum tersebut menyatakan bahwa interogasi yang berfokus pada armada menegaskan bahwa penahanan ini adalah upaya untuk mengkriminalisasi bantuan kemanusiaan dan solidaritas.

Hingga saat ini, Abu Keshek dan Ávila telah melakukan aksi mogok makan selama enam hari dengan hanya mengonsumsi air. Pengadilan 'Israel' sebelumnya telah memperpanjang penahanan mereka selama dua hari, sementara tim hukum masih menunggu apakah otoritas akan kembali mengajukan perpanjangan pada hari ini.

Kementerian Luar Negeri 'Israel' sendiri telah membantah adanya perlakuan buruk di pusat penahanan mereka pada Ahad (3/5). Global Sumud Flotilla sebelumnya membawa lebih dari 50 kapal dari berbagai pelabuhan di Eropa dengan tujuan memecah blokade laut di Jalur Gaza, sebelum akhirnya diserang oleh pasukan 'Israel' di perairan internasional pada Kamis malam (30/4)/. (zarahamala/arrahmah.id)