Memuat...

Tepi Barat Mencekam, Pasukan 'Israel' dan Pemukim Tingkatkan Serangan di Berbagai Wilayah

Zarah Amala
Rabu, 24 Juni 2026 / 9 Muharam 1448 10:03
Tepi Barat Mencekam, Pasukan 'Israel' dan Pemukim Tingkatkan Serangan di Berbagai Wilayah
Kiri: Mantan tahanan Marwan Fararjeh, ditangkap kembali selama penggerebekan 'Israel'. Kanan: Pemukim 'Israel' menyerang komunitas dan kendaraan Palestina di Tepi Barat. (Foto: WAFA, QNN)

RAMALLAH (Arrahmah.id) - Situasi di Tepi Barat dan Yerusalem Timur mengalami eskalasi yang signifikan pada Selasa (23/6/2026), seiring dengan intensifikasi operasi militer oleh pasukan pendudukan 'Israel' dan serangkaian serangan oleh kelompok pemukim ilegal. Berbagai aksi penyerbuan, penangkapan massal, serta perampasan lahan dilaporkan terjadi secara serentak di berbagai wilayah, yang menurut pejabat Palestina, merupakan bagian dari upaya sistematis untuk mengubah realitas lapangan.

Di Yerusalem, puluhan pemukim 'Israel' memasuki halaman Masjid Al-Aqsha melalui Gerbang Maroko dengan pengawalan ketat dari pasukan pendudukan. Menurut Departemen Wakaf Islam di Yerusalem, para pemukim melakukan tur provokatif di dalam kompleks tersebut dan melangsungkan ritual Talmud di dekat Kubah Batu (Dome of the Rock).

Sebagai respons, otoritas keamanan 'Israel' memberlakukan pembatasan ketat terhadap jemaah Palestina, termasuk pemeriksaan identitas dan penghalangan akses masuk. Peristiwa ini memicu seruan mendesak bagi warga Palestina, baik dari Yerusalem maupun wilayah dalam Garis Hijau, untuk meningkatkan kehadiran mereka di Al-Aqsha sebagai bentuk penjagaan terhadap situs suci tersebut.

Pasukan 'Israel' melancarkan serangkaian penggerebekan di hampir seluruh wilayah Tepi Barat yang memicu gelombang penangkapan massal di berbagai kota. Di kegubernuran Betlehem, pasukan pendudukan menangkap sembilan warga Palestina, termasuk mantan tahanan Marwan Mahmoud Issa Fararjeh, setelah melakukan penggeledahan rumah.

Di Hebron, tentara 'Israel' menyerbu kamp pengungsi Al-Fawwar, Beit Ummar, dan Sa’ir, di mana tindakan tersebut memicu konfrontasi dengan warga setempat. Sementara itu, operasi penggerebekan juga meluas ke wilayah Ramallah dan Nablus, mencakup kota-kota seperti Kobar, Birzeit, Turmus Ayya, Sebastia, serta Kafr Qalil, dengan insiden kekerasan di Kobar di mana tentara menembakkan gas air mata ke arah penduduk.

Operasi serupa pun dilaporkan terjadi di wilayah Jenin, khususnya di al-Yamoun, al-Araqa, serta desa al-Taybeh dan Rummanah, ditambah dengan serangkaian penggerebekan di Tulkarm dan kamp pengungsi Ein al-Sultan di dekat Jericho.

Di luar operasi militer, aktivitas pemukim ilegal semakin agresif dalam menyasar komunitas, lahan pertanian, dan situs bersejarah. Pemukim menyerang warga dan kendaraan Palestina di dekat pemukiman Ariel (Salfit), Turmus Ayya, dan Burqa.

Di Nablus, pemukim menguasai mata air Ain al-Dalbah di lahan milik desa Burqa. Sementara di Hebron dan Ramallah, pemukim secara sengaja melepas ternak ke lahan pertanian milik warga Palestina untuk merusak tanaman.

Situs arkeologi bersejarah di Sebastia, barat laut Nablus, diserbu oleh puluhan pemukim di bawah perlindungan militer. Wali Kota Sebastia, Mohammad Azem, memperingatkan bahwa tindakan ini merupakan upaya terencana untuk menguasai situs bersejarah tersebut dan menghapus identitas Palestina di sana.d

Eskalasi ini menyoroti pola baru yang mengkhawatirkan di mana operasi militer harian dan kekerasan pemukim terjadi secara simultan. Pejabat Palestina dan berbagai kelompok hak asasi manusia telah berulang kali memberikan peringatan bahwa perluasan aktivitas pemukiman, serangan terhadap warga sipil, serta intervensi paksa ke situs-situs keagamaan dan sejarah merupakan ancaman nyata terhadap stabilitas di kawasan tersebut. (zarahamala/arrahmah.id)