GAZA (Arrahmah.id) - Sebanyak 13 warga Palestina, termasuk satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu, dan keempat anak mereka, tewas dalam rangkaian serangan udara dan artileri 'Israel' yang melanda berbagai wilayah di Jalur Gaza dalam 24 jam terakhir. Eskalasi ini menandai hari ke-286 sejak kesepakatan gencatan senjata mulai berlaku di wilayah kantong yang terkepung tersebut.
Serangan paling mematikan terjadi sebelum fajar ketika sebuah hantaman udara 'Israel' meratakan sebuah rumah di kawasan Al-Samer, Gaza City, menewaskan seluruh anggota keluarga yang terdiri dari orang tua dan empat anak mereka.
Menjelang Selasa malam (21/7/2026), serangan terpisah kembali memporak-porandakan sebuah bangunan tempat tinggal di pusat Kota Gaza, mengakibatkan empat warga gugur dan sejumlah lainnya terluka. Gempuran udara juga menyasar halaman sebuah rumah di Jalan Service di pusat kota yang menewaskan empat orang, sementara dua warga lainnya tewas ketika kendaraan yang mereka tumpangi dihantam rudal di dekat pintu masuk Al-Zahra, Gaza tengah.
Di samping itu, seorang perempuan Palestina dilaporkan mengembuskan napas terakhirnya akibat luka-luka parah yang dideritakannya beberapa hari lalu, setelah serangan sebelumnya merusak sebuah apartemen di Menara Al-Taj, Gaza City, insiden yang sebelumnya juga telah merenggut nyawa suaminya.
Di lapangan, pasukan militer 'Israel' terus melanjutkan operasi ofensif malam hari di dekat Bundaran Dawla, wilayah Zaytoun, Gaza City. Tank-tank militer merangsek maju di bawah lindungan tembakan artileri berat, sementara drone jenis quadcopter berpatroli di udara dan melukai tiga warga, termasuk seorang anak-anak. Warga setempat juga melaporkan ledakan-ledakan besar akibat penghancuran blok-blok perumahan secara sistematis di area yang baru diduduki militer 'Israel'. Sementara itu, di wilayah selatan, kapal-kapal perang angkatan laut 'Israel' menggempur kawasan pesisir Khan Yunis.
Kementerian Kesehatan Gaza melaporkan bahwa total korban gugur akibat pelanggaran gencatan senjata sejak Oktober 2025 kini telah mencapai 1.182 jiwa, dengan 3.810 orang lainnya mengalami luka-luka.
Secara keseluruhan, sejak dimulainya kampanye militer 'Israel' pada Oktober 2023, jumlah korban tewas di seluruh Jalur Gaza telah melonjak menjadi 73.305 orang, sementara 173.918 lainnya menderita luka-luka. Hingga kini, pihak kementerian menegaskan bahwa banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan atau di wilayah-wilayah berbahaya yang belum dapat dijangkau oleh tim ambulans dan pertahanan sipil. (zarahamala/arrahmah.id)
