Memuat...

Trump Akui Kabur Menggunakan Truk Katering untuk Pindah Pesawat

Hanoum
Kamis, 13 Agustus 2026 / 1 Rabiulawal 1448 05:30
Trump Akui Kabur Menggunakan Truk Katering untuk Pindah Pesawat
Foto ilustrasi. [Foto: The Independent]

WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika (AS) Serikat Donald Trump mengakui bahwa dirinya diam-diam dipindahkan dari pesawat kepresidenan menggunakan truk katering saat meninggalkan Turki bulan lalu karena adanya kekhawatiran keamanan. Trump mengatakan keputusan tersebut diambil setelah Secret Service menerima informasi mengenai ancaman terhadap pesawat yang ditumpanginya, sementara laporan sebelumnya menyebut Israel ikut memberikan peringatan kepada Amerika Serikat mengenai kemungkinan ancaman dari Iran.

Peristiwa itu terjadi setelah Trump menghadiri pertemuan tingkat tinggi NATO di Turki. Alih-alih meninggalkan negara tersebut dengan pesawat yang sebelumnya digunakannya, Trump secara diam-diam dipindahkan ke pesawat militer C-32A yang menunggunya di lokasi berbeda. Perpindahan dilakukan dengan menggunakan kendaraan katering agar keberadaan Trump tidak mudah diketahui oleh publik maupun pihak yang mungkin mengincarnya.

Dilansir Reuters (12/8/2026), ancaman yang diterima aparat keamanan AS berkaitan dengan kemungkinan pesawat Trump menjadi sasaran rudal yang ditembakkan dari bahu atau sistem rudal portabel lainnya. Informasi tersebut membuat Secret Service memutuskan untuk mengubah rencana penerbangan dan menggunakan pesawat lain sebagai bagian dari langkah pengamanan.

Trump kemudian mengonfirmasi bahwa dirinya memang dipindahkan dari pesawat tersebut. Ia mengatakan keputusan itu bukan berasal darinya, melainkan mengikuti penilaian aparat keamanan dan militer.

“Saya mengikuti Secret Service. Saya mengikuti militer. Mereka mengatakan kepada saya bahwa kami harus melakukan perubahan,” kata Donald Trump ketika ditanya mengenai pergantian pesawat tersebut.

Menurut The Independent, perpindahan Trump berlangsung secara sangat rahasia. Setelah sebelumnya terlihat berada di pesawat kepresidenan, Trump dan sejumlah orang dekatnya kemudian dipindahkan menggunakan truk katering menuju pesawat militer yang akan membawanya meninggalkan Turki. Pesawat yang sebelumnya menjadi kendaraan utama Trump tetap berada dalam rangkaian keberangkatan dan berfungsi sebagai pengalih perhatian.

Laporan tersebut memicu perhatian karena perubahan rencana penerbangan tidak diketahui oleh sebagian anggota rombongan pers yang mengikuti perjalanan presiden. Penggunaan kendaraan katering menjadi bagian dari operasi untuk mengurangi kemungkinan keberadaan Trump terdeteksi sebelum pesawat pengganti lepas landas.

Namun, Trump kemudian memberikan penilaian yang berbeda mengenai tingkat bahaya. Ia mengatakan pesawat pengganti yang digunakannya justru berada dalam posisi yang menurutnya lebih berisiko dibandingkan pesawat yang semula akan membawanya.

“Pesawat yang saya tumpangi sebenarnya berada dalam risiko yang lebih besar,” ujar Trump, sebagaimana dikutip dalam laporan Reuters mengenai insiden tersebut.

Pernyataan Trump itu menimbulkan pertanyaan mengenai keputusan keamanan yang diambil Secret Service. Jika pesawat pengganti dianggap lebih berisiko, alasan pemindahan tersebut menjadi semakin kompleks. Namun, Trump menegaskan bahwa ia tetap mempercayai penilaian aparat keamanan yang bertanggung jawab atas keselamatannya.

Laporan mengenai peristiwa tersebut sebelumnya menyebut adanya kekhawatiran bahwa Iran dapat mencoba menyerang pesawat Trump sebagai bagian dari ancaman pembalasan. Al-Monitor, yang mengutip sumber Reuters, melaporkan bahwa ancaman rudal yang kredibel menjadi alasan perubahan pesawat secara rahasia.

Keterlibatan Israel dalam informasi ancaman juga menjadi bagian dari pemberitaan mengenai insiden tersebut. Sejumlah laporan menyebut Israel memberikan peringatan kepada Washington mengenai kemungkinan ancaman Iran. Namun, tidak ada bukti publik yang menunjukkan bahwa Israel “menipu” Trump dalam arti sengaja membuatnya menggunakan pesawat yang lebih berbahaya. Karena itu, istilah “ditipu Israel” lebih tepat dipahami sebagai interpretasi politik terhadap rangkaian informasi tersebut, bukan kesimpulan yang telah terbukti. (hanoum/arrahmah.id)