WASHINGTON (Arrahmah.id) – Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan Pentagon untuk mengubah desain kapal induk generasi baru dengan mengganti sistem peluncur pesawat tempur elektromagnetik (Electromagnetic Aircraft Launch System/EMALS) menjadi sistem ketapel uap (steam catapult) yang lebih konvensional.
Kebijakan tersebut tertuang dalam memorandum keamanan nasional yang ditandatangani Trump pada Kamis (14/8/2026). Ia menginstruksikan Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Pelaksana Tugas Menteri Angkatan Laut Hung Cao untuk menyusun rencana perubahan tersebut dalam waktu 60 hari.
Dilansir dari Associated Press, langkah ini merupakan kelanjutan dari kritik Trump terhadap teknologi EMALS yang telah ia lontarkan sejak 2017. Menurutnya, sistem modern tersebut terlalu rumit, mahal, dan sulit diperbaiki ketika mengalami kerusakan.
Dalam memorandum itu, Pentagon diminta menyiapkan langkah-langkah penggantian sistem peluncur elektromagnetik serta lift senjata canggih dengan sistem uap dan hidrolik tradisional pada kapal induk yang masih dalam tahap pembangunan.
Keputusan tersebut akan berlaku untuk kapal induk kelas Ford keempat, USS Doris Miller, serta kapal-kapal berikutnya. Sementara tiga kapal pertama di kelas yang sama—USS Gerald R. Ford, USS John F. Kennedy, dan USS Enterprise—tetap akan menggunakan sistem EMALS.

Trump kembali menegaskan pandangannya saat berpidato di Akademi Militer AS di Pennsylvania bulan lalu. Ia menilai pembangunan kapal induk modern telah menghabiskan biaya yang sangat besar.
"Kami membangun kapal induk senilai 19 miliar dolar AS. Itu gila. Harganya luar biasa mahal. Mereka menggunakan sistem elektromagnetik yang rumit, padahal ketapel uap sudah terbukti lebih baik," kata Trump.
Trump juga mengisahkan percakapannya dengan seorang insinyur kapal induk yang disebutnya mengakui bahwa sistem uap lebih mudah diperbaiki.
"Ketika sistem uap rusak, cukup diperbaiki dengan palu dan alat las. Namun jika sistem listrik bermasalah, kita harus memanggil para ahli dari MIT," ujar Trump mengutip penjelasan sang insinyur.
Meski demikian, gagasan tersebut mendapat penolakan dari kalangan Angkatan Laut AS dan industri pertahanan.
Menurut laporan The Wall Street Journal, para pejabat senior Angkatan Laut menilai penggantian sistem pada kapal yang telah dirancang dengan EMALS akan menimbulkan biaya sangat besar serta mengganggu keseluruhan desain kapal.
Perusahaan General Atomics, produsen sistem EMALS untuk kapal induk kelas Ford, juga memperingatkan bahwa perubahan desain pada tahap ini berisiko tinggi.
Perusahaan tersebut menyatakan pembangunan USS Doris Miller telah mencapai sekitar 50 persen. Mengubah sistem peluncur saat proyek sudah berjalan dinilai dapat memicu pembengkakan biaya, keterlambatan penyelesaian, serta persoalan integrasi teknis yang kompleks.
Perdebatan mengenai efektivitas EMALS pun kembali mencuat. Pendukung sistem modern itu menyebut teknologi elektromagnetik mampu meluncurkan lebih banyak jenis pesawat dengan tekanan yang lebih rendah pada badan pesawat, sementara pendukung sistem uap menilai teknologi lama lebih sederhana, lebih tangguh, dan lebih mudah dirawat dalam kondisi perang.
(Samirmusa/arrahmah.id)
