WASHINGTON (Arrahmah.id) -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan pemilih bahwa kaum yang ia sebut sebagai “jihadis” dapat memperoleh pengaruh besar di Washington jika Partai Demokrat terus meraih momentum menjelang pemilihan sela Kongres 2026. Pernyataan tersebut disampaikan Trump ketika persaingan politik AS mulai memasuki fase yang semakin panas menjelang pemungutan suara November mendatang.
Trump menggunakan istilah tersebut untuk menyerang kelompok Demokrat yang ia pandang berada di sayap kiri partai dan memiliki pandangan yang lebih keras mengenai sejumlah isu, termasuk kebijakan luar negeri, imigrasi, serta konflik Israel-Palestina. Pernyataan itu menjadi bagian dari strategi politik Partai Republik untuk menggambarkan kemenangan kandidat progresif sebagai ancaman terhadap arah pemerintahan dan politik Amerika Serikat.
“Mereka memilih para jihadis. Mereka memilih orang-orang yang sangat, sangat kiri,” kata Trump dalam pernyataannya, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera (11/8/2026). Istilah tersebut digunakan Trump sebagai retorika politik dan tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa kandidat yang dimaksud memiliki hubungan dengan kelompok teroris atau organisasi jihad.
Serangan Trump muncul ketika Demokrat menunjukkan tanda-tanda kebangkitan menjelang pemilu sela. Pemilihan tersebut akan menentukan komposisi DPR dan Senat AS serta menjadi ujian besar bagi pemerintahan Trump pada paruh kedua masa jabatan presidennya.
Salah satu figur yang sebelumnya menjadi sasaran retorika serupa adalah Zohran Mamdani, politikus Demokrat dan sosialis demokrat yang memenangkan pemilihan wali kota New York pada 2025. Namun, Trump sendiri kemudian menolak menyebut Mamdani sebagai “jihadis” ketika keduanya bertemu di Gedung Putih. “Saya baru saja bertemu dengan seorang pria yang sangat rasional,” kata Trump ketika ditanya mengenai label tersebut pada November 2025.
Perubahan sikap Trump terhadap Mamdani menunjukkan bahwa penggunaan istilah “jihadis” dalam pertarungan politik AS dapat berubah sesuai konteks. Sebelumnya, sejumlah tokoh Partai Republik menggunakan istilah itu untuk menyerang Mamdani karena pandangannya mengenai Israel dan Palestina. Trump sendiri kemudian mengatakan bahwa ia ingin Mamdani berhasil menjalankan pemerintahan New York.
Pernyataan terbaru Trump juga berlangsung di tengah meningkatnya persaingan antara kubu progresif dan kelompok moderat dalam Partai Demokrat. Kemenangan kandidat-kandidat progresif dalam sejumlah pemilihan pendahuluan dipandang sebagai indikasi bahwa sayap kiri Demokrat memiliki pengaruh yang semakin besar terhadap arah partai. (hanoum/arrahmah.id)
