Memuat...

Tujuh Bulan Perang di Iran, Harga Pangan dan Bahan Bakar Melonjak di Afghanistan

Hanin Mazaya
Selasa, 29 September 2026 / 18 Rabiulakhir 1448 17:46
Tujuh Bulan Perang di Iran, Harga Pangan dan Bahan Bakar Melonjak di Afghanistan
Ilustrasi pedagang Afghanistan. (Foto: BBC)

KABUL (Arrahmah.id) - Iran merupakan salah satu jalur pasokan utama bagi Afghanistan; berbagai komoditas seperti pangan, bahan bakar, dan barang lainnya masuk ke negara tersebut melalui jalur ini.

Menurut laporan terbaru Bank Dunia, pada bulan Agustus, 32,9% impor Afghanistan berasal dari Iran, sementara 56,6% arus perdagangan negara tersebut melintasi wilayah Iran.

Tujuh bulan sejak perang dimulai, gangguan pada jalur pasokan telah berkontribusi terhadap kenaikan harga pangan dan bahan bakar di Afghanistan, lansir Tolo News (29/9/2026).

Laporan Tolo News mengatakan bahwa sejak awal perang, harga satu karung tepung terigu naik sebesar 130 afghani, minyak goreng naik 350 afghani, dan beras naik 400 afghani.

Secara rata-rata, harga tepung terigu, minyak goreng, dan beras telah meningkat sebesar 15,3% selama periode tersebut.

Para pedagang menyebutkan perang di Iran dan Rusia, fluktuasi nilai tukar dolar AS, serta kenaikan harga bahan bakar sebagai faktor-faktor yang memengaruhi harga.

Kenaikan harga pangan di Afghanistan:
Tepung terigu: 1.520 menjadi 1.650 afghani — kenaikan 8,6%
Minyak goreng: 1.700 menjadi 2.050 afghani — kenaikan 20,6%
Beras: 2.400 menjadi 2.800 afghani — kenaikan 16,7%

Sejumlah warga Kabul mengeluhkan kenaikan harga tersebut dan mendesak agar harga diturunkan.

Eimal, seorang warga Kabul, mengatakan: "Harga barang kebutuhan pokok telah melonjak drastis dibandingkan dengan penghasilan kami. Kami bahkan tidak berpenghasilan 200 afghani sehari dan tidak mampu membeli satu wadah minyak goreng."

Shah Mahmoud, warga Kabul lainnya, mengatakan: "Harga minyak goreng dan beras sudah sangat mahal, namun tidak ada pihak yang menanggapi kekhawatiran masyarakat. Kami para pedagang kaki lima berjuang dari pagi hingga petang, tetapi penghasilan kami tidak seberapa." Selain harga bahan pangan, perubahan harga bahan bakar juga menimbulkan kekhawatiran di kalangan warga.

Temuan Tolo News dari pasar-pasar di Kabul menunjukkan bahwa sejak awal perang, harga bensin per liter telah naik sebesar 33 afghani, solar sebesar 23 afghani, dan gas minyak cair (LPG) sebesar 15 afghani.

Meskipun harga sempat berfluktuasi selama periode ini, harga ketiga produk bahan bakar tersebut secara rata-rata telah meningkat hampir 44%.

Kenaikan harga bahan bakar selama periode ini:
Bensin: 56 menjadi 89 afghani — kenaikan 58,9%
Solar: 56 menjadi 79 afghani — kenaikan 41,1%
LPG: 49 menjadi 64 afghani — kenaikan 30,6%

Sementara itu, para pengemudi dan warga Kabul mengeluhkan tingginya harga bahan bakar dan gas serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.

Nasir, seorang warga Kabul, mengatakan: "Kami meminta perusahaan swasta dan pemerintah untuk tidak menjual gas kepada masyarakat dengan harga tinggi karena warga sudah menghadapi kesulitan ekonomi."

Abdul Basir, seorang pengemudi, mengatakan: "Situasi ini sangat sulit bagi kami. Jika kami bekerja, ada penghasilan yang tersisa untuk keluarga, namun jika tidak bekerja, kami tidak memiliki pemasukan. Tingginya harga bahan bakar sangat memberatkan kami."

Afghanistan perlu lebih banyak memanfaatkan jalur perdagangan alternatif untuk mengurangi kerentanannya terhadap perkembangan situasi di kawasan.

Kementerian Perindustrian dan Perdagangan Imarah Islam Afghanistan, sembari mengakui adanya tantangan-tantangan ini, menyatakan bahwa upaya perbaikan kondisi pasar sedang dilakukan.

Mohammad Asif Elyas, juru bicara kementerian tersebut, mengatakan: "Untungnya, hubungan kami dengan negara-negara Asia Tengah telah berkembang lebih luas dari sebelumnya, dan upaya sedang dilakukan untuk memperbaiki prosedur kepabeanan serta menekan biaya. Insya Allah, saya meyakinkan warga bahwa situasi ini sedang bergerak ke arah perbaikan."

Seiring berlanjutnya perang di Iran, dampaknya terhadap pasar Afghanistan juga akan bergantung pada kondisi jalur pasokan, biaya transit, dan harga energi global. (haninmazaya/arrahmah.id)